Suami Ceraikan Istri Jelang Dilantik PPPK, Kisah Pilu Perjuangan dari Nol
Sebuah kisah pilu datang dari Aceh Singkil, di mana seorang ibu dua anak bernama MS (33), yang akrab disapa F, diceraikan suaminya hanya tiga hari sebelum ia resmi dilantik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Kisah ini viral setelah sebuah video perpisahannya yang mengharukan beredar di media sosial.
Viralnya Video Perpisahan yang Menyentuh Hati
Kisah F pertama kali mengemuka setelah sebuah video diunggah ke Facebook pada Minggu (19/10/2025). Video berdurasi 1 menit 30 detik itu menunjukkan para tetangga di Kelurahan Siti Ambia Dalam, Aceh Singkil, membantu memindahkan barang-barang F ke mobil L300 yang akan membawanya pulang ke Aceh Selatan. Unggahan yang telah ditonton lebih dari 700.000 kali ini membanjiri simpati dan dukungan dari warganet.
Kronologi Perceraian Menjelang Pelantikan PPPK
F mengungkapkan bahwa rumah tangganya berakhir pada 15 Agustus 2025. Perceraian ini berawal dari pertengkaran sepele. Suaminya pulang kerja dan marah karena tidak menemukan lauk di meja makan. F berusaha menjelaskan kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, namun sang suami malah mengucapkan kata-kata kasar dan pergi. Keesokan harinya, di depan F yang sedang mencuci piring, suaminya secara sepihak menyatakan talak dan pergi membawa baju. Hanya tiga hari kemudian, tepatnya 18 Agustus 2025, sang suami resmi dilantik menjadi PPPK.
Ditinggal Setelah Berjuang dari Nol
F meyakini perceraian ini bukan semata-mata karena pertengkaran. Ia menduga suaminya menceraikannya agar terlihat "bebas" setelah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Yang lebih memilukan, F mengungkapkan bahwa ia yang membantu membiayai persiapan pelantikan suaminya. "Baju pelantikan itu saya yang belikan dari hasil jualan. Saya bantu dia dari nol, tapi justru ditinggal sebelum terima SK," ujarnya lirih. Kini, F bertahan hidup dengan berjualan gorengan dan minuman di depan rumah orang tuanya.
Mediasi Gagal dan Campur Tangan Mertua
Upaya mediasi yang melibatkan orang tua dan Kepala Desa pun gagal. Dalam mediasi itu, F baru mengetahui bahwa suaminya sudah ingin bercerai sejak lama. F juga mengungkapkan tekanan dari ibu mertua yang sejak awal tidak sepenuhnya merestui pernikahan mereka, bahkan mempersoalkan hal-hal kecil seperti ketika suaminya membantu mencuci piring.
Pernyataan Hati F: "Saya Tidak Malu, Hanya Ingin Dihargai"
F menegaskan bahwa tujuannya bukan membuka aib, tetapi ingin dihargai sebagai perempuan yang telah berjuang. "Saya bukan istri yang minta lebih, saya cuma ingin dihormati sebagai perempuan yang sudah berjuang," katanya. Dalam unggahan Facebooknya, F menulis pesan menyentuh: "Tidaklah harta, pangkat, jabatan dibawa mati. Tapi hargailah wanita yang menemanimu dari nol."
Dukungan Warganet dan Pendampingan Hukum dari Germas PPA
Gelombang dukungan untuk F membanjiri media sosial. Kisahnya juga menarik perhatian Gerakan Nasional Perlindungan Perempuan dan Anak (Germas PPA). Wakil Ketua Umum Germas PPA, Rica Parlina, menyatakan kesiapan pihaknya untuk memberikan pendampingan hukum dan psikologis bagi F dan anak-anaknya, menegaskan bahwa kasus ini menyangkut hak perempuan dan anak yang harus dilindungi.
Sumber: Kompas.com
Artikel Terkait
Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri Picu Perdebatan Norma di Media Sosial
Pemuda Tewas Dibunuh di Kamar Penginapan Medan, Jenazah Dibuang ke Sungai
Polisi Usut Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, DPR Desak Penanganan sebagai Percobaan Pembunuhan
Menteri Keuangan Buka Opsi Naikkan Batas Defisit APBN di Atas 3 Persen