Luhut Sebut Proyek Kereta Cepat Busuk Sejak Awal, Said Didu Sindir: Ada yang Buang Badan
Pernyataan blak-blakan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengenai proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) menuai reaksi tajam. Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu memberikan sindiran keras menanggapi pernyataan Luhut yang menyebut proyek kereta cepat itu "sudah busuk sejak awal".
Lewat akun media sosialnya, Said Didu menyampaikan sindiran dengan menulis, "Hahaha, ada yang mulai buang badan," seperti dilaporkan Kantor Berita Politik RMOL, pada Minggu, 19 Oktober 2025. Komentar ini langsung memicu perdebatan publik mengenai pengelolaan proyek strategis nasional ini.
Pernyataan Kontroversial Luhut Soal KCJB
Sebelumnya, dalam sebuah forum di Hotel JS Luwansa, Jakarta, pada Kamis, 16 Oktober 2025, Luhut secara terbuka mengungkapkan bahwa proyek KCJB sudah bermasalah jauh sebelum dirinya menanganinya. Ia bahkan menegaskan bahwa proyek tersebut harus "diselamatkan" melalui audit menyeluruh.
"Saya yang dari awal mengerjakan itu, karena saya nerima sudah busuk itu barang. Lalu kita coba perbaiki, kita audit, BPKP ikut, kemudian kita berunding dengan China," jelas Luhut dalam pernyataannya yang kini viral.
Respons Publik dan Analisis Pengamat
Pernyataan Luhut tersebut memunculkan gelombang respons dari berbagai kalangan. Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menilai, ucapan Luhut justru membuka tabir lama soal pengelolaan proyek strategis nasional di masa pemerintahan sebelumnya.
"Pernyataan Luhut justru membuka tabir 'busuk' pemerintahan sebelumnya," tulis Hensat di akun X, menguatkan analisis mengenai masalah fundamental dalam proyek KCJB.
Sejarah Kontroversi Proyek Kereta Cepat Whoosh
Proyek KCJB yang kini dikenal dengan nama Whoosh memang sejak awal menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Berbagai isu mengemuka, mulai dari pembengkakan biaya, skema pinjaman luar negeri, hingga jaminan pemerintah yang dinilai membebani keuangan negara.
Proyek kereta cepat sepanjang 142 kilometer yang melintasi sejumlah wilayah di Jawa Barat, termasuk Purwakarta, Bandung Barat, dan Kota Bandung ini, diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar, bukan sekadar menjadi simbol politik yang sarat masalah.
Artikel Terkait
Luhut Umumkan Bansos Diubah Jadi Transfer Tunai Rp5,4 Juta per Orang, Gunakan AI dan Identitas Digital
Bahlil Dikabarkan Maju Pilpres 2029, Pengamat: Fokusnya Justru ke Pileg
Analisis Pengamat: Lagu Viral MBG Bisa Dorong Bahlil Jadi Penantang Prabowo di Pilpres 2029
Analis Ekonomi Soroti Kesenjangan Janji dan Realitas Pemerintah di Tengah Pelemahan Rupiah