Refleksi Sumpah Pemuda: Makna dan Ajaran Cak Nur untuk Pemuda Indonesia
Memperingati Hari Sumpah Pemuda, Universitas Paramadina menghadirkan refleksi mendalam dari para tokohnya tentang relevansi ikrar pemuda tahun 1928 dalam konteks kekinian. Pemikiran ini berakar dari ajaran pendiri Paramadina, Prof. Dr. Nurcholish Madjid atau Cak Nur, yang menekankan bahwa Sumpah Pemuda bukanlah sekadar pernyataan, melainkan sebuah panggilan untuk berkarya dan membangun bangsa.
Makna Sumpah Pemuda: Dari Ikrar Menjadi Aksi Nyata
Dr. Suratno, Chairman The Lead Institute Universitas Paramadina, menjelaskan bahwa menurut perspektif Cak Nur, Sumpah Pemuda adalah penegasan komitmen kebangsaan.
“Sumpah Pemuda menurut Nurcholish Madjid (Cak Nur) dapat dimaknai sebagai penegasan kembali; sebagai akad (‘aqdun) dan ikrar (iqrorun) komitmen kebangsaan kita. Namun, yang lebih penting adalah tindak lanjut dari ikrar tersebut, yaitu kerja nyata untuk bangsa tercinta,” jelas Dr. Suratno.
Ia menambahkan bahwa kerja dan karya adalah kunci utama dalam mengisi perjalanan sejarah menuju terwujudnya bangsa yang makmur dan cerdas, sesuai cita-cita para pendiri bangsa. “Mari segenap muda-mudi, kita bahu-membahu membangun bangsa; keluar dari berbagai keterpurukan. Syubbanul yaum rijalul ghod — pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan,” tegasnya.
Menjawab Tantangan Kebangsaan dengan Semangat Kebersamaan
Refleksi Sumpah Pemuda, lanjut Suratno, harus mendorong generasi muda untuk menghidupkan kembali semangat kebersamaan. Hal ini penting untuk menjawab berbagai tantangan seperti kesenjangan sosial, menurunnya kualitas pendidikan, dan sikap individualistik. Ia menegaskan, bangsa yang besar hanya dapat terwujud jika semua elemen bersatu, atau dalam istilah Bung Karno: samen bundeling van alle krachten van de natie (pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa).
Nasionalisme Cak Nur sebagai Perekat Bangsa yang Majemuk
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, M.Sc., Ph.D., menyoroti pentingnya semangat nasionalisme ala Cak Nur sebagai perekat bangsa.
“Pandangan Cak Nur tentang keindonesiaan tertuang dalam 'Indonesia Kita'. Sebagai negara yang dibangun di atas keanekaragaman, Indonesia dinilai sukses membangun kebersamaan dan persaudaraan dalam ikatan kebangsaan,” ujar Prof. Didik.
Semangat nasionalisme sejak 1928, menurutnya, telah menjadi fondasi untuk meraih kemerdekaan. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan demokrasi yang pernah disoroti Cak Nur masih sangat relevan hingga kini.
“Cak Nur menilai proses demokrasi kita dulu tidak semakin membaik. Kenyataan itu masih berlanjut. Jiwa kerdil yang mementingkan diri sendiri dan kelompok masih dominan di bangsa ini,” tuturnya.
Pemuda sebagai Subjek Sejarah yang Berintegritas
Lebih dalam, Cak Nur dalam pemikirannya menempatkan pemuda bukan sekadar sebagai kelompok usia, melainkan sebagai subjek sejarah. Dalam karya Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, ia menulis, “Pemuda sejati adalah mereka yang memiliki idealisme, keberanian berpikir merdeka, dan kemauan untuk memperbaiki keadaan.”
Prof. Didik menegaskan komitmen Universitas Paramadina untuk terus mencetak generasi muda yang beriman, berilmu, dan berintegritas, mengikuti warisan nilai dari Cak Nur. “Kemajuan bangsa sangat bergantung pada generasi muda yang mampu memadukan iman, ilmu, dan kerja keras,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri Picu Perdebatan Norma di Media Sosial
Pemuda Tewas Dibunuh di Kamar Penginapan Medan, Jenazah Dibuang ke Sungai
Polisi Usut Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, DPR Desak Penanganan sebagai Percobaan Pembunuhan
Menteri Keuangan Buka Opsi Naikkan Batas Defisit APBN di Atas 3 Persen