Lonjakan Harga Pangan di Jakarta dan Surabaya Mulai Gerus Daya Beli Masyarakat

- Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:25 WIB
Lonjakan Harga Pangan di Jakarta dan Surabaya Mulai Gerus Daya Beli Masyarakat
PARADAPOS.COM - Lonjakan harga sejumlah komoditas pangan di pasar tradisional Jakarta dalam beberapa pekan terakhir mulai menggerus daya beli masyarakat. Para ibu rumah tangga terpaksa memangkas jumlah belanja, sementara para pedagang mengeluhkan omzet yang menurun drastis akibat sepinya pembeli. Fenomena serupa juga terpantau di Surabaya, di mana harga sayuran dan sembako ikut merangkak naik.

Pedagang Pasar Palmerah: Pembeli Sepi, Omzet Turun

Suasana lesu tampak jelas di Pasar Palmerah, Jakarta Barat, pada Sabtu pagi (13/6/2026). Suminem, seorang pedagang sayur yang sudah puluhan tahun berjualan di sana, mengaku kaget dengan perubahan perilaku konsumen. Ia menyebutkan, jumlah pembeli yang datang jauh berkurang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. "Kurang, Mbak. Pembelinya kurang banyak. Agak sepi," ujarnya dengan nada pasrah dalam tayangan "Selamat Pagi Indonesia". Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, harga cabai rawit kini mencapai Rp80 ribu per kilogram. Angka ini melonjak signifikan dari kisaran normal yang biasanya berada di Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. "Kalau rawit mah Rp80 ribu. Dulunya mah Rp70 ribu, Rp60," jelas Suminem sambil merapikan dagangannya. Kenaikan tak hanya terjadi pada cabai rawit. Cabai keriting yang sebelumnya Rp40 ribu per kilogram, kini harus ditebus dengan harga Rp50 ribu. Bawang merah juga ikut meroket dari Rp40 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram, sementara bawang putih naik dari Rp30 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.

Sayuran Justru Turun, Stabilitas Tomat dan Timun

Menariknya, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Di tengah lonjakan harga bumbu dapur, beberapa jenis sayuran justru menunjukkan tren penurunan. Sayuran yang sebelumnya dijual Rp15 ribu per kilogram kini turun menjadi Rp10 ribu per kilogram. Sawi pahit juga mengalami nasib serupa, turun dari Rp15 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram. Sementara itu, harga tomat dan timun terpantau relatif stabil. Tomat masih bertahan di kisaran Rp20 ribu per kilogram, dan timun di angka Rp10 ribu per kilogram.

Pasar Kendangsari Surabaya: Harga Kubis hingga Kentang Naik

Situasi serupa juga terjadi di Pasar Kendangsari, Surabaya. Para pedagang di sana melaporkan kenaikan harga pada sejumlah sayuran dan sembako. Kubis, kentang, tomat, sawi putih, dan sawi pakcoy disebut naik sekitar Rp7 ribu per kilogram dari harga sebelumnya. Hasanah, seorang pedagang di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa kenaikan ini langsung berdampak pada omzetnya. Ia harus menjual lebih sedikit barang karena pembeli mengurangi jumlah belanjaan mereka. "Jadi kita omzetnya ya agak turun sekarang. Soalnya per kilonya kan 7 ribu. Kita butuh 30 kali 30 sudah berapa kan gitu. Orang pembeli juga biasanya satu kilo jadi setengah kilo. Biasanya lima kilo jadi dua kilo gitu," tuturnya. Keluhan dari para pembeli pun semakin sering terdengar. "Gajian nggak naik, semua sudah naik," ujar Hasanah menirukan keluhan langganannya.

Minyakita di Atas HET, Bawang Merah Melonjak Tajam

Di Surabaya, komoditas minyak goreng juga menjadi sorotan. Minyakita, yang seharusnya dijual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter, kini beredar di angka Rp22 ribu per liter. Harga minyak curah pun ikut terkerek naik dari Rp20 ribu menjadi Rp22 ribu per kilogram. Selain itu, harga bawang merah di Surabaya mencatat lonjakan yang cukup ekstrem. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram, kini harganya melesat hingga Rp60 ribu per kilogram. Kenaikan harga di berbagai komoditas ini telah mengubah pola belanja masyarakat secara signifikan. Para pedagang sepakat bahwa konsumen kini lebih selektif dan cenderung membeli dalam jumlah yang lebih sedikit demi menyesuaikan pengeluaran rumah tangga yang semakin tertekan.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler