Uya Kuya Buka Suara Soal Rumah Dijarah: Awalnya dari Video Joget yang Diedit dan Diprovokasi

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 13:50 WIB
Uya Kuya Buka Suara Soal Rumah Dijarah: Awalnya dari Video Joget yang Diedit dan Diprovokasi

Uya Kuya Ungkap Penyebab Rumahnya Dijarah: Bermula dari Video Joget yang Diedit

Presenter dan anggota DPR Uya Kuya kembali mengungkap kronologi rumahnya dijarah pada 30 Agustus 2025. Menurutnya, insiden ini berawal dari video jogetnya yang diedit dan disebarkan dengan narasi provokatif.

Asal Mula Kontroversi Joget di Gedung DPR

Uya menjelaskan bahwa momen joget terjadi usai pidato kenegaraan Presiden Prabowo di Gedung DPR. Saat itu, Ketua DPR Puan Maharani menutup acara dengan hiburan musik lagu daerah, termasuk lagu "Maumere" yang dinyanyikan mahasiswa Unhan.

"Kita berjoget tanpa konteks merayakan apapun," tegas Uya dalam tayangan FYP Trans 7, Kamis (30/10/2025).

Video Joget Diedit dan Memicu Amarah Publik

Dua hari kemudian, video joget tersebut diedit dengan mengganti musik latar menjadi lagu dugem dan disertai tulisan provokatif seperti "joget-joget merayakan kenaikan gaji" dan "gaji 3 juta sehari". Framing inilah yang memicu kemarahan masyarakat.

Irfan Hakim yang hadir dalam acara tersebut menyebut editan video sebagai "penyulut" kemarahan publik, yang dibenarkan oleh Uya.

Video Lawas TikTok Dihidupkan Kembali

Gelombang disinformasi semakin menjadi ketika video-video lawas Uya Kuya joget di TikTok dari tahun 2021-2023 dihidupkan kembali. Video-video ini dibubuhi teks provokatif yang keluar dari konteks aslinya.

"Videonya dikasih tulisan, 'Eh biarin aja, buat beli bensin aja 3 juta mah nggak cukup.' Padahal cuma tulisan, bukan omongan saya," sesal Uya.

Dampak Disinformasi yang Merusak

Uya menegaskan bahwa semua video aslinya tidak memuat konten provokatif tersebut. Namun, framing negatif dan disinformasi yang tersebar luas akhirnya memicu aksi penjarahan terhadap rumahnya.

Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana manipulasi konten digital dapat berdampak serius dalam kehidupan nyata.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar