PARADAPOS.COM - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577, sebuah rumah produksi kue keranjang tradisional di Yogyakarta mengalami peningkatan pesanan yang signifikan. Hingga pertengahan Februari 2026, permintaan telah mencapai ratusan kilogram, dengan pelanggan yang tersebar dari Jawa hingga Lampung. Kue yang dibuat secara manual oleh para perajin lansia ini menjadi bukti nyata kelestarian kuliner khas perayaan yang turun-temurun.
Kesibukan di Balik Rasa yang Tak Berubah
Suasana sibuk namun penuh ketelitian terpancar dari sebuah rumah di Jalan Tukangan, Danurejan. Di sanalah, puluhan kue keranjang diproduksi setiap hari dengan metode yang terjaga sejak puluhan tahun lalu. Yang menarik, proses pengadonan dan pencetakan banyak ditangani oleh pekerja berusia lanjut yang masih sangat lihai dan bersemangat. Mereka adalah penjaga konsistensi rasa yang menjadi daya tarik utama produk ini.
Dalam satu musim Imlek, tempat produksi ini mampu menghasilkan hingga dua ton kue keranjang. Meski dibuat secara tradisional tanpa bahan pengawet, kue ini dikenal memiliki daya simpan yang lama—bisa bertahan hingga satu tahun jika disimpan di tempat yang tepat, biasanya dalam wadah kedap udara.
Pesanan Melonjak Menjelang Perayaan
Meski memiliki pelanggan tetap yang setia setiap tahun, gelombang pesanan yang lebih besar biasanya baru benar-benar terasa mendekati hari H. Hal ini diakui oleh Ling-Ling, generasi penerus usaha keluarga ini. Ia menjelaskan bahwa lonjakan signifikan mulai terjadi pada awal Februari.
"Kalau jumlah orderan tuh biasa seperti tahun-tahun kemarin, karena kita sudah ada langganan kan. Cuman ini kan masih terlalu panjang. Waktunya tuh masih kurang berapa minggu, masih dua minggu. Jadi ya masih biasa-biasa aja," ungkapnya.
Namun, ritme produksi pun harus menyesuaikan. Dari kapasitas normal sekitar 100 kue per hari, permintaan kemudian melonjak drastis. "Kemarin mulai masuk tanggal 1 Februari naik, naik 1.000 biji. Jogja sama Lampung sudah, yang akan dikirim tuh 300 kg," lanjut Ling-Ling.
Daya Tarik di Balik Harga dan Cita Rasa
Kue keranjang ini dibanderol dengan harga Rp50.000 per kilogram. Harganya yang terjangkau, dipadukan dengan reputasi cita rasa yang tidak berubah selama lebih dari empat dekade, membuatnya tidak hanya digemari oleh warga Yogyakarta dan Jawa Tengah. Daya jangkau pemesanannya telah merambah hingga ke luar Pulau Jawa, seperti ke Lampung, menunjukkan bahwa kuliner tradisional ini tetap memiliki tempat di hati masyarakat, meski jarak memisahkan.
Fenomena ini bukan sekadar tentang bisnis musiman, tetapi lebih tentang pelestarian sebuah tradisi kuliner. Keberadaan para perajin lansia dan metode produksi manual yang dipertahankan menambah nilai autentisitas dan cerita di balik setiap kue keranjang yang dihasilkan, menjadikannya lebih dari sekadar hidangan, melainkan bagian dari warisan budaya yang hidup.
Artikel Terkait
Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Pokok, Sandiaga Luncurkan Stimulus Digital Jelang Ramadan 2026
BPJS Kesehatan dan Pemkot Surabaya Pastikan Ada Jalur Verifikasi Ulang Usai Penonaktifan 45.000 Peserta JKN PBI
Karhutla Masih Melanda Lima Wilayah di Riau, BPBD Dorong Status Darurat
Menteri Sosial: Digitalisasi Bansos Turunkan Kesalahan Data Hingga 50 Persen