Geliat Infrastruktur Belum Dongkrak Serapan Tenaga Kerja Sektor Permesinan

- Minggu, 08 Februari 2026 | 14:50 WIB
Geliat Infrastruktur Belum Dongkrak Serapan Tenaga Kerja Sektor Permesinan

PARADAPOS.COM - Geliat proyek infrastruktur, energi, dan industri di dalam negeri ternyata belum mampu mendongkrak penyerapan tenaga kerja di sektor permesinan secara signifikan. Meski permintaan pasar meningkat, pelaku industri justru menerapkan strategi kehati-hatian dalam perekrutan, lebih mengandalkan tenaga kontrak dan otomasi ringan untuk menjaga fleksibilitas di tengah ketidakpastian durasi proyek dan margin usaha yang tipis.

Strategi "Wait and See" dan Dominasi Tenaga Kontrak

Di balik ramainya tender proyek domestik, dunia industri permesinan justru diliputi kehati-hatian. Dadang Asikin, Ketua Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma), mengungkapkan bahwa pelaku usaha cenderung menunda perekrutan karyawan tetap. Penyebab utamanya adalah pola tender proyek yang bertahap dan berjangka pendek, sehingga menciptakan ketidakpastian.

"Ini karena strategi wait and see proyek domestik naik, tapi durasinya pendek tender bertahap para pelaku industri sehingga perusahaan cenderung menunda hiring tetap pakai kontrak, borongan, atau subkon didalam memenuhi kebutuhan tenaga kerjanya," ujarnya.

Dalam kondisi demikian, menjaga fleksibilitas biaya operasional menjadi prioritas. Alih-alih membuka lowongan kerja tetap, kebutuhan SDM lebih banyak dipenuhi melalui skema kontrak jangka pendek, borongan, atau subkontrak. Pendekatan ini dianggap lebih rasional untuk mengantisipasi fluktuasi permintaan.

Otomasi dan Efisiensi Teknologi Menahan Ekspansi Tenaga Kerja

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah transformasi internal di lantai produksi. Banyak perusahaan mulai beralih ke penerapan teknologi yang meningkatkan efisiensi, sehingga output dapat ditingkatkan tanpa perlu menambah jumlah pekerja secara masif.

"Hal lain adanya pergeseran ke mesin dan otomasi ringan bukan robot canggih, tapi pengunaan mesin mesin yang lebih efisien," tutur Dadang.

Pemanfaatan mesin CNC, proses pemotongan otomatis, pengelasan semi-otomatis, serta perangkat lunak untuk engineering dan nesting menjadi contoh nyata. Inovasi ini membuat proses produksi lebih cepat dan presisi, yang pada akhirnya menekan kebutuhan untuk penambahan tenaga kerja baru.

Margin Tipis dan Kehati-hatian dalam Rekrutmen Jangka Panjang

Dinamika ini tidak terlepas dari karakteristik industri permesinan itu sendiri yang memiliki margin keuntungan yang relatif tipis dibandingkan sektor konsumsi. Kondisi ini membuat setiap keputusan bisnis, termasuk rekrutmen, dilakukan dengan perhitungan yang sangat matang.

"Industri mesin margin tidak setebal industri konsumsi sehingga strategi reqruitemnya harus penuh kehatian hatian diaman jika salah rekruit akan menjadi beban jangka panjang sehingga pilihan rasional adalah menaikkan produktivitas dulu, bukan jumlah pekerja," jelasnya.

Beban biaya tenaga kerja tetap dinilai berisiko tinggi jika proyek-proyek besar mengalami perlambatan. Oleh karena itu, meningkatkan produktivitas dengan teknologi dan tenaga kerja yang ada dianggap sebagai langkah yang lebih aman dan rasional.

Seruan untuk Kebijakan yang Memperkuat Kapasitas Riil

Menghadapi tantangan struktural ini, Gamma mendorong adanya penyesuaian kebijakan pemerintah. Dorongan utama adalah agar kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tidak hanya berfokus pada aspek administratif, tetapi juga memberi bobot lebih pada penguatan kapasitas riil industri lokal.

"Kebijakan yang harus di sikapi pemerintah, kami menyarankan Pemerintah, Kemenperin, BUMN terlebih untuk proyek atau progam yang di biayai oleh APBN, perhitungan angka TKDN memberikan bobot lebih kepada engineering lokal, design authority, system integrator lokal," tuturnya.

Selain itu, industri juga mengusulkan konsolidasi proyek-proyek kecil menjadi program yang berjangka lebih panjang untuk menciptakan kepastian permintaan. Dengan pipeline yang jelas, industri diharapkan lebih berani berinvestasi, baik dalam kapasitas produksi maupun pengembangan SDM. Insentif fiskal dan penyederhanaan regulasi bahan baku juga dinilai krusial untuk mendorong penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Data Tenaga Kerja Manufaktur yang Belum Pulih

Kondisi kehati-hatian di sektor permesinan ini sejalan dengan gambaran makro ketenagakerjaan industri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan proporsi tenaga kerja sektor manufaktur terhadap total tenaga kerja nasional turun dari 14,17% pada 2022 menjadi 13,83% di tahun 2024. Laporan terbaru Kementerian Perindustrian menyebutkan kontribusi tenaga kerja industri pengolahan nonmigas per Agustus 2025 masih bertahan di angka 13,83%, setara dengan 20,26 juta orang, meski pemerintah memproyeksikan kenaikan pada tahun ini. Temuan S&P Global juga mengindikasikan laju penciptaan lapangan kerja yang melambat, mengonfirmasi bahwa peningkatan kapasitas produksi belum sepenuhnya terjemahkan menjadi ekspansi kesempatan kerja yang kuat.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar