Pengadilan Iran Tambah Hukuman Penjara Aktivis dan Peraih Nobel Narges Mohammadi

- Senin, 09 Februari 2026 | 08:25 WIB
Pengadilan Iran Tambah Hukuman Penjara Aktivis dan Peraih Nobel Narges Mohammadi

PARADAPOS.COM - Pengadilan di Iran kembali menjatuhkan hukuman penjara tambahan terhadap aktivis dan peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi. Vonis lebih dari tujuh tahun penjara ini dijatuhkan oleh Pengadilan Revolusioner di Mashhad pada Sabtu, 7 Februari 2026, menurut pengacara Mohammadi. Putusan ini muncul di tengah gelombang pengetatan terhadap pembangkangan sipil oleh otoritas Iran, menyusul protes nasional yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir.

Rincian Vonis dan Aksi Mogok Makan

Vonis tambahan terhadap Narges Mohammadi terdiri dari beberapa pasal. Pengacaranya, Mostafa Nili, mengonfirmasi detail hukuman tersebut melalui sebuah unggahan di media sosial.

“Dia dijatuhi hukuman enam tahun penjara atas tuduhan ‘berkumpul dan bersekongkol’ serta satu setengah tahun karena propaganda, ditambah larangan bepergian selama dua tahun,” tulis Nili.

Ia menambahkan bahwa kliennya juga dijatuhi hukuman pengasingan internal selama dua tahun ke kota Khosf, sebuah wilayah yang terpencil di tenggara Teheran. Pemerintah Iran sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait putusan pengadilan ini.

Menanggapi vonis tersebut, Mohammadi disebutkan telah melakukan aksi mogok makan yang dimulai sejak 2 Februari. Aksi protesnya itu baru diakhiri pada hari Minggu, menyusul memburuknya kondisi kesehatannya setelah vonis dijatuhkan.

Catatan Panjang Sebagai Aktivis

Narges Mohammadi bukanlah nama baru dalam daftar tahanan politik Iran. Sebelum vonis terbaru ini, ia telah menjalani hukuman penjara selama 13 tahun sembilan bulan atas tuduhan yang serupa, yaitu melawan keamanan negara dan penyebaran propaganda. Ia secara vokal mendukung gerakan protes yang meluas pasca kematian Mahsa Amini pada 2022.

Penangkapan terakhirnya terjadi pada Desember 2025, saat ia menghadiri acara penghormatan untuk seorang pengacara hak asasi manusia lainnya. Rekaman dari acara itu menunjukkan Mohammadi berteriak menuntut keadilan, sebuah gambaran tentang konsistensi perlawanannya meski risiko selalu mengintai.

Kondisi kesehatannya yang rapuh juga menjadi perhatian serius. Selama masa penahanan sebelumnya, Mohammadi dilaporkan mengalami beberapa serangan jantung dan menjalani operasi darurat. Pada akhir 2024, ditemukan lesi tulang yang sempat dikhawatirkan bersifat kanker. Kondisi medisnya inilah yang menjadi dasar permohonan pembebasan sementara untuk perawatan.

“Dengan mempertimbangkan penyakit yang dideritanya, diharapkan ia dapat dibebaskan sementara dengan jaminan agar bisa menjalani perawatan,” ungkap Mostafa Nili.

Namun, harapan itu tampaknya pupus dengan vonis terbaru yang justru menambah tahun-tahun hukuman di balik jeruji.

Lanskap Politik yang Semakin Keras

Vonis terhadap Mohammadi tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia datang di saat otoritas Iran menunjukkan sikap yang semakin tak kenal kompromi terhadap segala bentuk dissiden. Pernyataan publik dari petinggi peradilan Iran pada hari yang sama mengisyaratkan hal ini.

“Lihatlah beberapa individu yang dulu bersama revolusi,” kata Ketua Mahkamah Agung Iran Gholamhossein Mohseni-Ejei. “Hari ini apa yang mereka katakan, apa yang mereka tulis, pernyataan yang mereka keluarkan, sungguh disayangkan dan mereka akan menghadapi konsekuensinya,” lanjutnya.

Peringatan keras ini menegaskan suasana politik domestik yang tegang, di mana ruang untuk perbedaan pendapat terus menyempit.

Konteks Negosiasi Nuklir yang Berjalan

Ironisnya, perkembangan represif di dalam negeri ini berlangsung bersamaan dengan upaya diplomatik Iran di panggung internasional. Negeri itu sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat mengenai program nuklirnya, dalam upaya mencegah ancaman serangan militer. Dalam pertemuan dengan para diplomat di Teheran, pejabat tinggi Iran menegaskan posisi negosiasi yang tegas.

“Saya percaya rahasia kekuatan Republik Islam Iran terletak pada kemampuannya untuk berdiri melawan perundungan, dominasi, dan tekanan dari pihak lain,” tegas Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. “Mereka takut pada bom atom kami, padahal kami tidak mengejar bom atom. Bom atom kami adalah kekuatan untuk mengatakan tidak kepada kekuatan besar.”

Pernyataan tersebut, meski disampaikan dalam konteks negosiasi nuklir, turut mencerminkan narasi keteguhan dan perlawanan yang juga digunakan untuk membingkai kebijakan domestik. Sementara Presiden Iran menyebut pembicaraan dengan AS sebagai "langkah ke depan", komitmen pada posisi keras tampaknya tetap tak tergoyahkan, baik di meja perundingan internasional maupun dalam menghadapi kritik dari dalam negeri.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar