Israel Sampaikan Peringatan Serius ke AS: Siap Serang Iran Secara Unilateral

- Senin, 09 Februari 2026 | 13:25 WIB
Israel Sampaikan Peringatan Serius ke AS: Siap Serang Iran Secara Unilateral

PARADAPOS.COM - Pemerintah Israel secara resmi menyampaikan peringatan kepada Amerika Serikat bahwa mereka siap melancarkan serangan militer secara unilateral terhadap Iran. Peringatan ini disampaikan menyusul kekhawatiran mendalam bahwa program rudal balistik Teheran telah mendekati ambang batas yang tidak dapat ditoleransi oleh Tel Aviv. Peringatan tersebut dilaporkan oleh The Jerusalem Post dan dikutip pada Senin, 9 Februari 2026, di tengah upaya diplomasi nuklir yang kembali dihidupkan.

Peringatan Langsung ke Pihak Amerika

Sebuah peringatan langsung telah disampaikan oleh pejabat tinggi pertahanan Israel kepada mitra mereka di Washington. Intinya jelas: Israel tidak akan ragu untuk bertindak sendiri jika merasa terancam.

Seorang pejabat pertahanan Israel menegaskan posisi tersebut. "Kami telah memberi tahu pihak Amerika bahwa kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik," ujarnya.

Ancaman yang Dipandang Eksistensial

Bagi para pembuat kebijakan di Israel, kemajuan Iran dalam pengembangan dan produksi rudal balistik bukan sekadar ancaman keamanan regional biasa. Sumber-sumber dalam negeri menyebut program tersebut dipandang sebagai ancaman eksistensial yang langsung mengarah pada kelangsungan hidup negara. Pandangan bernada genting ini telah berulang kali disampaikan kepada pejabat AS melalui berbagai saluran komunikasi dalam beberapa pekan terakhir.

Lebih dari sekadar peringatan diplomatik, militer Israel disebut telah mempersiapkan langkah konkret. Laporan mengungkapkan bahwa sejumlah rencana operasional telah disusun, termasuk opsi untuk menyerang fasilitas-fasilitas kunci yang terkait dengan produksi rudal Iran.

Diplomasi dan Ancaman Berjalan Beriringan

Ketegangan ini muncul dalam panorama yang paradoks, di mana jalur diplomasi justru kembali dibuka. Pada Jumat sebelumnya, perundingan mengenai program nuklir Iran antara AS dan Teheran digelar di Muscat, Oman, setelah vakum selama berbulan-bulan. Situasi ini menggambarkan dinamika khas kawasan, di mana meja perundingan dan ancaman militer seringkali hadir secara bersamaan.

Garis keras sebelumnya juga datang dari Washington. Pada Januari, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa "armada besar" tengah bergerak menuju Iran. Ia menyebut harapannya agar Teheran bersedia kembali bernegosiasi.

Trump juga memberikan sinyal ancaman yang tidak kalah tegas. "Harapannya adalah agar Iran kembali ke meja perundingan dan menandatangani kesepakatan yang adil dan seimbang," ungkapnya, sambil menambahkan bahwa jika kesepakatan gagal, serangan AS di masa depan akan jauh lebih berat dibandingkan aksi sebelumnya.

Bantahan Iran dan Temuan IAEA

Di sisi lain, pemerintah Iran konsisten menampik segala tuduhan bahwa program nuklirnya memiliki tujuan militer. Mereka bersikukuh bahwa aktivitas nuklirnya murni untuk kepentingan sipil. Posisi ini, setidaknya sebagian, mendapat penguatan dari badan pengawas atom dunia.

Pada Juni lalu, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, memberikan klarifikasi atas situasi tersebut. "Lembaga kami belum menemukan bukti konkret adanya program senjata nuklir aktif di Iran," jelasnya.

Dengan demikian, kawasan Timur Tengah sekali lagi berada dalam keadaan genting, terjepit antara data intelijen yang saling bersilangan, persiapan militer yang nyata, dan upaya diplomasi yang terus diperjuangkan meski penuh ketidakpastian.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar