PARADAPOS.COM - Badan Industri Mineral (BIM) akan segera memulai proyek percontohan hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) di Mamuju, Sulawesi Barat. Langkah awal ini difokuskan pada pengembangan teknologi pengolahan, sambil menunggu proses penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) oleh Kementerian ESDM. Kepala BIM, Brian Yuliarto, menyatakan proyek ini bertujuan membuktikan kapasitas Indonesia di peta global industri strategis ini.
Fokus Awal pada Pengembangan Teknologi
Rencana pembangunan industri hilir LTJ di Mamuju akan diawali dengan sebuah proyek percontohan teknologi. Dalam tahap ini, BIM berencana membangun dua industri hilir sebagai bentuk uji coba. Pelaksanaannya direncanakan akan segera dimulai dalam waktu dekat.
Brian Yuliarto mengonfirmasi hal tersebut dalam sebuah rapat dengan Komisi XII DPR RI. "Dalam waktu dekat akan kami lakukan pilot teknologi hilirisasi rare earth di Mamuju. Pada tahap ini kami akan membangun dua industri downstreaming sebagai proyek percontohan," ungkapnya.
Menunggu Kepastian Izin dan Rekomendasi BUMN
Proyek percontohan ini akan berjalan beriringan dengan proses administrasi perizinan. BIM tengah menunggu persetujuan penerbitan IUP dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Untuk pengelolaan tambangnya, BIM telah memberikan rekomendasi khusus.
Brian menjelaskan, "Konteksnya adalah riset sambil menunggu proses administrasi dan rekomendasi yang kami sampaikan kepada Kementerian ESDM untuk penerbitan IUP yang kami rekomendasikan kepada Perminas." Rekomendasi itu menunjuk PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) sebagai BUMN mitra yang diusulkan untuk mengantongi IUP tersebut.
Membangun Posisi Strategis dan Menarik Investor
Di balik proyek percontohan ini, terdapat ambisi strategis yang lebih besar. BIM ingin menggunakan Mamuju sebagai bukti konsep bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk terlibat secara serius dalam rantai pasok logam tanah jarang global. Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi magnet bagi investasi asing di sektor hilir.
"Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bisa menjadi pemain strategis dalam REE, sehingga diharapkan dapat memberikan daya tarik bagi negara lain untuk masuk dan mendirikan industri downstreaming REE di Indonesia," tutur Brian.
Tantangan Kerja Sama Teknologi dari Luar Negeri
Meski berambisi besar, jalan yang ditempuh BIM tidak tanpa rintangan. Salah satu tantangan terberat adalah mencari mitra teknologi dari negara-negara yang sudah maju dalam pengolahan LTJ. Upaya menjajaki kerja sama teknologi ke sejumlah negara ternyata belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Brian mengakui kesulitan itu. "Kami sudah menemui beberapa negara untuk membicarakan kemungkinan pengembangan bersama industri downstreaming logam tanah jarang ini. Hampir semua negara menutup diri, mereka hanya mau membeli bahan mentah," katanya.
Potensi Besar dan Kebijakan yang Hati-hati
Logam tanah jarang, yang mencakup 17 unsur kimia penting untuk teknologi tinggi, memiliki potensi ekonomi yang sangat besar bagi Indonesia. BIM mencatat tiga wilayah dengan cadangan signifikan: Bangka Belitung, Mamuju, dan wilayah Sulawesi lainnya. Meski telah menghitung potensi ekonomi dan menyusun skenario ekspor versus olah dalam negeri, BIM memilih bersikap hati-hati dalam membeberkan data rinci.
Brian menegaskan sikap kehati-hatian ini. "Ini adalah masa yang sensitif. Kami juga telah melaporkan kepada Bapak Presiden terkait inventori LTJ yang dimiliki Indonesia, namun untuk sementara belum kami buka karena kondisi geopolitik dan sosial politik global yang sangat dinamis. Data tersebut akan disampaikan pada waktu yang tepat," jelasnya.
Sementara itu, penelitian dan pengembangan dalam negeri terus didorong, meski saat ini masih berada pada tahap pemisahan mineral awal. Upaya mencari pasar ("offtaker") untuk produk hilir juga terus dilakukan, meski masih menemui berbagai pembatasan dari calon mitra potensial.
Artikel Terkait
Sidang Isbat 17 Februari 2026 Tentukan Awal Ramadan, Muhammadiyah Tetapkan 18 Februari
Menkeu Tegur BPJS Kesehatan Soal Penonaktifan 11 Juta Peserta JKN
Wamendagri Tegaskan Pentingnya Sinkronisasi Tata Ruang Daerah dengan Kebijakan Nasional
Bridgestone Indonesia Perkuat Produksi Lokal di Tengah Tekanan Industri Otomotif 2025