IHSG Melemah Tipis di Tengah Tekanan Obligasi dan Outlook Negatif Moodys

- Senin, 09 Februari 2026 | 03:00 WIB
IHSG Melemah Tipis di Tengah Tekanan Obligasi dan Outlook Negatif Moodys

PARADAPOS.COM - Pasar saham domestik memulai pekan dengan sentimen hati-hati. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah tipis 0,12 persen ke level 7.928 pada pembukaan perdagangan Senin, 9 Februari 2025. Pelemahan ini melanjutkan tren akhir pekan lalu, di tengah tekanan dari pasar obligasi, pelemahan rupiah, dan sentimen global yang beragam.

Tekanan Berlanjut di Pasar Domestik

Perdagangan Senin pagi memperlihatkan lanjutan koreksi dari pekan sebelumnya. Indeks LQ45 turun 0,20 persen ke level 813, sementara indeks saham syariah JII justru menguat tipis 0,34 persen. Di antara saham-saham unggulan, emiten perbankan seperti BBCA, BBTN, BBNI, dan BMRI tercatat melemah. Di sisi lain, saham-saham sektor komoditas seperti ANTM, MDKA, dan MBMA menunjukkan penguatan.

Catatan akhir pekan lalu memang cukup berat bagi IHSG, yang anjlok 2,08 persen ke level 7.935,26. Tekanan jual paling keras terasa di sektor-sektor siklikal dan berbasis komoditas. Sektor transportasi menjadi pengecualian dengan catatan hijau, sementara sektor kesehatan relatif stabil.

Analisis dari Pasar Uang dan Obligasi

Tekanan tidak hanya berasal dari pasar saham. Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik ke 6,42 persen. Pergerakan ini sejalan dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga global.

Nilai tukar rupiah juga kembali melemah. Pada perdagangan spot, rupiah berada di level Rp16.877 per dolar AS, sementara kurs referensi JISDOR tercatat di Rp16.887. Pelemahan ini terjadi meskipun indeks dolar AS sendiri mengalami koreksi, yang biasanya memberi ruang bagi mata uang negara berkembang.

Pandangan Ahli: Outlook Negatif Moody's Beri Dampak

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, memberikan analisis mendalam mengenai sentimen yang membebani pasar. Ia mengungkapkan bahwa keputusan lembaga pemeringkat Moody's menjadi faktor kunci.

"Sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG adalah aksi Moody's mempertahankan rating obligasi RI di Baa2 namun menurunkan outlook jadi negatif dari sebelumnya stabil," jelasnya.

Ratih menambahkan, kondisi ini membuat kinerja IHSG menjadi yang terlemah di kawasan ASEAN dengan pelemahan tahun-ke-date mencapai 8,23 persen per 6 Februari 2026.

Pergerakan Tidak Seragam di Pasar Global

Sementara pasar domestik tertekan, pergerakan di bursa global justru menunjukkan warna yang berbeda. Wall Street merayakan reli tajam dengan indeks Dow Jones menembus level psikologis 50.000 untuk pertama kalinya. Penguatan dipimpin oleh saham teknologi yang sebelumnya terjual habis, didukung pula oleh pemulihan harga Bitcoin.

Sebaliknya, pasar saham Asia tidak seragam. Meski Nikkei Jepang masih menguat, bursa di Hong Kong dan Shanghai justru terkoreksi. Di Eropa, pergerakan positif terlihat meski dengan kenaikan yang lebih moderat dibandingkan Amerika Serikat.

Komoditas sebagai Aset Lindung Nilai

Di tengah ketidakpastian, aset komoditas kembali menarik perhatian investor yang mencari perlindungan. Harga emas spot melonjak tajam 4,15 persen, mendekati level US$5.000 per troy ounce. Kenaikan signifikan juga terjadi pada harga perak dan tembaga, sementara harga minyak mentah bergerak naik.

Secara keseluruhan, reli kuat di Wall Street tampaknya belum cukup untuk mengubah sentimen di pasar domestik dalam sekejap. Investor lokal masih menghadapi kombinasi tekanan dari sektor riil, dinamika suku bunga global, dan volatilitas nilai tukar yang membentuk suasana kehati-hatian untuk jangka pendek.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar