Netanyahu Bawa Prinsip Kunci Keamanan Israel dalam Pertemuan dengan Trump

- Rabu, 11 Februari 2026 | 06:25 WIB
Netanyahu Bawa Prinsip Kunci Keamanan Israel dalam Pertemuan dengan Trump

PARADAPOS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan resmi ke Washington DC pada Selasa, 10 Februari, untuk bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan bilateral ini, yang menjadi kunjungan keenam Netanyahu dalam setahun terakhir, utamanya membahas posisi Israel dalam negosiasi nuklir dengan Iran. Kunjungan ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang baru saja dijalankan AS dan Iran di Oman, pasca ketegangan militer yang memanas pada Juni 2025.

Fokus pada Diplomasi Nuklir Iran

Sebelum bertolak dari Tel Aviv, Netanyahu menekankan kekuatan hubungan strategis dan personal antara kedua negara. Ia menyatakan bahwa pertemuan dengan Presiden Trump akan membahas prinsip-prinsip fundamental yang dianggap Israel sangat krusial, tidak hanya bagi keamanan nasionalnya sendiri, tetapi juga bagi kestabilan kawasan Timur Tengah yang lebih luas.

“Saya akan menyampaikan prinsip-prinsip penting dalam negosiasi dengan Iran yang dinilai krusial bagi keamanan Israel maupun stabilitas kawasan Timur Tengah,” tegasnya.

Latar Belakang Ketegangan yang Berlanjut

Dialog Washington-Tehran di Oman, yang baru saja berakhir, menandai putaran perundingan pertama sejak konflik bersenjata Juni 2025 silam. Pada periode itu, serangan Israel diikuti oleh pemboman fasilitas nuklir Iran oleh AS, menciptakan situasi yang sangat genting. Meskipun tidak duduk di meja perundingan, Israel secara aktif berupaya memengaruhi arah kebijakan sekutu utamanya tersebut.

Upaya ini tidak luput dari perhatian Iran. Penasihat senior Ali Larijani telah mengingatkan pemerintahan Trump untuk tidak membiarkan pihak luar mengganggu jalannya proses diplomasi yang sudah berjalan.

Prinsip Israel dan Hambatan Negosiasi

Meski belum merinci secara publik, prinsip yang dibawa Netanyahu diduga kuat berkaitan dengan tuntutan pelucutan senjata berat Iran secara menyeluruh. Namun, jalan menuju kesepakatan dipenuhi sejumlah batu sandungan yang mendasar.

Iran dengan tegas menolak untuk memasukkan program rudal balistiknya ke dalam agenda perundingan, yang dianggap Teheran sebagai pilar pertahanan menghadapi ancaman dari Israel. Pihaknya juga bersikukuh bahwa hak untuk mengembangkan teknologi nuklir sipil, termasuk pengayaan uranium di dalam negeri, adalah bagian dari kedaulatan nasional, meski bersedia menerima rezim pengawasan internasional yang ketat.

Desakan AS-Israel dan Respons Iran

Di luar isu nuklir, Washington dan Tel Aviv juga mendesak Iran menghentikan dukungan finansial dan militer terhadap berbagai kelompok bersenjata di kawasan, seperti Hezbollah, Hamas, dan Houthi. Duta Besar AS Mike Huckabee menyoroti adanya kesamaan pandangan antara kedua negara mengenai batasan yang tidak boleh dilanggar Iran.

“Terdapat keselarasan visi antara Washington dan Tel Aviv mengenai garis merah nuklir Iran, serta menegaskan kepemilikan senjata nuklir oleh Iran tidak dapat diterima,” ungkap Huckabee.

Untuk memperkuat posisi tawarnya, Amerika Serikat telah memperlihatkan kekuatan militernya dengan mengerahkan gugus tugas kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak dan jet tempur ke kawasan. Namun, langkah ini tampaknya tidak menggentarkan Iran. Pemerintah di Teheran berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan tunduk pada tekanan atau ancaman militer apa pun dan akan tetap mempertahankan posisi kunci mereka dalam perundingan.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar