DPR Soroti 57% Galon Isi Ulang di Jabodetabek Melebihi Batas Usia Pakai

- Rabu, 11 Februari 2026 | 04:00 WIB
DPR Soroti 57% Galon Isi Ulang di Jabodetabek Melebihi Batas Usia Pakai

PARADAPOS.COM - Lebih dari separuh galon air minum isi ulang yang beredar di wilayah Jakarta dan sekitarnya diduga telah melewati batas usia pakai yang aman. Temuan ini mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI dengan Kementerian Perindustrian, Rabu (4/2/2026), yang menyoroti potensi risiko kesehatan akibat migrasi bahan kimia dari kemasan plastik yang sudah tua ke dalam air yang dikonsumsi masyarakat.

Kekhawatiran Legislator atas Temuan di Lapangan

Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menyampaikan keprihatinannya atas data investigasi yang menunjukkan 57% galon guna ulang di area Jabodetabek telah melampaui batas usia pakai. Kondisi ini, menurutnya, mengubah air minum yang seharusnya menyehatkan menjadi sumber kekhawatiran baru.

Novita Hardini mengungkapkan, "Ada temuan 57% di Jabodetabek galon-galon yang diguna ulang itu sudah melebihi batas usia pakai, saya jadi takut loh minum air putih ini… kita semua itu jadi kayak minum kimia."

Kondisi Fisik Galon dan Batas Aman Pakai

Kekhawatiran tersebut bukannya tanpa dasar. Sebuah investigasi lapangan yang dilakukan pada Oktober 2025 memperkuat temuan tersebut. Selain usia pakai yang terlampaui, delapan dari sepuluh galon yang diperiksa di 60 toko kelontong tercatat dalam kondisi fisik yang buram dan kusam. Perubahan visual ini sering kali menjadi penanda awal penurunan integritas material plastik.

Menyikapi hal ini, ahli polimer dari Universitas Indonesia, Profesor Mochamad Chalid, memberikan penjelasan teknis. Ia menegaskan bahwa galon berbahan polikarbonat sebaiknya hanya digunakan maksimal 40 kali siklus pengisian ulang atau sekitar satu tahun pemakaian.

Profesor Chalid memperingatkan, "Lebih dari itu, risiko migrasi BPA akan makin tinggi."

Mengenal Risiko BPA bagi Kesehatan

BPA atau Bisphenol-A adalah senyawa kimia dasar pembuat plastik polikarbonat yang bersifat mengganggu sistem endokrin. Artinya, senyawa ini dapat meniru atau mengacaukan kerja hormon alami dalam tubuh. Berbagai penelitian ilmiah dalam jangka panjang mengaitkan paparan BPA dengan peningkatan risiko beragam masalah kesehatan, termasuk gangguan kesuburan, diabetes tipe 2, obesitas, serta beberapa jenis kanker.

Masalah Distribusi yang Memperburuk Situasi

Di luar usia galon, Novita Hardini juga menyoroti titik lemah lain dalam rantai pasok: tahap distribusi. Ia menilai pengawasan di tahap ini masih lemah, sehingga memungkinkan terjadinya penurunan kualitas air meski awalnya telah memenuhi standar saat keluar dari pabrik.

Praktik yang sering terlihat di lapangan, seperti menjemur galon berisi air terlalu lama di bawah terik matahari, dinilai sangat riskan. Paparan panas berlebih dapat mempercepat proses migrasi partikel kimia dari dinding plastik galon ke dalam air yang akan diminum.

Novita menjelaskan, "Kualitas air itu sering menurun bukan di pabriknya tapi karena galon dijemur terlalu lama di bawah matahari karena stok di agen-agennya, karena ada migrasi kimia dari plastik ke air."

Dengan demikian, persoalan ini tidak hanya terletak pada regulasi usia pakai, tetapi juga pada praktik penanganan dan penyimpanan di sepanjang jalur distribusi hingga ke tangan konsumen.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar