UI Kukuhkan Profesor Ahli Material Ramah Lingkungan, Soroti Inovasi dari Limbah Industri

- Kamis, 12 Februari 2026 | 15:25 WIB
UI Kukuhkan Profesor Ahli Material Ramah Lingkungan, Soroti Inovasi dari Limbah Industri

PARADAPOS.COM - Universitas Indonesia (UI) secara resmi mengukuhkan Prof. Sotya Astutiningsih sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Material Konstruksi dan Bangunan Ramah Lingkungan. Pengukuhan berlangsung di Balai Sidang UI, Depok, pada Rabu, 11 Februari 2026. Dalam pidato ilmiahnya, profesor yang berpengalaman puluhan tahun ini menekankan urgensi inovasi material berkelanjutan untuk menjawab tantangan pembangunan infrastruktur global yang kian masif, sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam dan lingkungan.

Kolaborasi Riset dan Pemanfaatan Limbah Industri

Menyoroti upaya konkret, Prof. Sotya memaparkan sejumlah penelitian kolaboratif yang telah dilakukan. Salah satu fokus utama adalah pemanfaatan limbah industri, yang dinilainya sebagai strategi kunci untuk menciptakan keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian ekologi.

“UI berkolaborasi dengan SIG meneliti abu terbang dari berbagai sumber PLTU di Indonesia sebagai bahan baku sekunder, baik untuk menggantikan sebagian klinker pada semen Portland (SCM, supplementary cementitious materials) maupun sebagai bahan dasar (prekursor) semen geopolymer,” ungkapnya, seperti dilansir Antara, Kamis, 12 Februari 2025.

Potensi Abu Terbang dan Terak Feronikel

Dalam paparan yang mendalam, ia menjelaskan bahwa abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash) dari pembangkit listrik batu bara memiliki sifat reaktif yang menjanjikan untuk bahan bangunan. Material limbah ini, menurut temuan timnya, dapat menyusun lebih dari 75% bahan geopolimer. Keunggulannya terletak pada efisiensi proses karena sudah berbentuk serbuk halus.

Penggunaan abu terbang sebagai campuran semen Portland ternyata juga menunjukkan fleksibilitas yang baik terhadap variasi mutu bahan baku, tanpa mengorbankan kekuatan struktur. Di sisi lain, terak feronikel—limbah dari pengolahan bijih nikel—disebut sebagai bahan baku sekunder yang prospektif untuk agregat beton.

Riset di Fakultas Teknik UI membuktikan, mortar dan beton berbasis terak feronikel memiliki kuat tekan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan pasir biasa atau pasir kuarsa. Bahkan, formulasi semen geopolimer berbasis terak nikel ini telah menghasilkan beberapa paten dan diuji coba pada produk beton pracetak bersama mitra industri.

Inovasi dari Cangkang Kelapa Sawit

Inovasi tidak berhenti di situ. Tim yang dipimpin Prof. Sotya juga mengkaji palm kernel shell atau cangkang kelapa sawit sebagai pengganti agregat batu pecah. Hasilnya cukup mengejutkan: beton berbasis cangkang sawit menunjukkan karakter mekanis yang mirip dengan beton konvensional, namun dengan keunggulan sifat yang lebih ulet dan ketahanan yang baik terhadap beban, termasuk potensi ketahanan gempa. Dampak lingkungan dari penerapannya bersifat kontekstual, sangat tergantung pada kebutuhan performa struktur dan lokasi pembangunan.

Memperkuat Peta Jalan Material Berkelanjutan

Rangkaian riset yang komprehensif ini bukanlah pekerjaan insidental. Ia merupakan bagian integral dari peta jalan pengembangan material konstruksi ramah lingkungan yang digarap UI dalam beberapa tahun terakhir. Upaya ini memiliki dampak ganda: selain memperkuat ketahanan pasokan material nasional, juga secara signifikan berpotensi menekan emisi karbon dari sektor konstruksi yang dikenal sebagai penyumbang besar.

Rekam jejak akademik Prof. Sotya Astutiningsih menguatkan otoritasnya di bidang ini. Beliau menyandang gelar Sarjana Teknik dari FTUI (1991), M.Eng. in Metallurgy dari Katholieke Universiteit Leuven, Belgia (1994), serta Ph.D in Materials Engineering dari The University of Western Australia (2005). Saat ini, selain aktif mengajar dan meneliti, ia menjabat sebagai Kepala Laboratorium Fisika Material FTUI periode 2021–2026 dan pengurus pusat Persatuan Insinyur Indonesia periode 2024–2027. Acara pengukuhannya dihadiri oleh sejumlah pimpinan universitas dan perwakilan industri strategis nasional, menandakan pentingnya sinergi antara akademisi dan dunia industri dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar