Survei Ungkap Mayoritas Pekerja Indonesia Perkirakan Tetap Bekerja Usia Pensiun

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 15:50 WIB
Survei Ungkap Mayoritas Pekerja Indonesia Perkirakan Tetap Bekerja Usia Pensiun

PARADAPOS.COM - Sebuah survei terbaru mengungkap kesenjangan yang lebar dalam kesiapan pensiun masyarakat Indonesia. Mayoritas warga negara berusia produktif memperkirakan akan tetap bekerja setelah usia pensiun, namun dengan motivasi yang sangat berbeda: antara pilihan pribadi untuk tetap aktif dan tekanan kebutuhan ekonomi yang mendesak. Temuan ini muncul di tengah perubahan demografi yang signifikan, di mana proporsi penduduk lansia diproyeksikan meningkat pesat dalam beberapa dekade mendatang.

Dua Wajah Pensiun: Pilihan atau Keterpaksaan?

Survei bertajuk Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide dari Sun Life menunjukkan bahwa 77% responden di Indonesia memperkirakan akan terus bekerja setelah mencapai usia pensiun. Namun, di balik angka tersebut, terdapat dua realitas yang bertolak belakang. Hampir separuh responden beralasan nonfinansial, seperti mencari tujuan hidup, pemenuhan diri, dan menjaga hubungan sosial. Di sisi lain, tekanan finansial menjadi pendorong utama bagi sebagian besar lainnya.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo mengamati adanya polarisasi ini dalam masyarakat.

"Kami melihat dua realitas yang berbeda. Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan. Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi. Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani," jelasnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/2/2026).

Kategori Perencana: Dari yang Siap Hingga yang Tertunda

Riset tersebut secara gamblang membagi responden ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama, disebut Gold Star Planners, adalah mereka yang merasa aman secara finansial dan justru menantikan masa pensiun. Sebaliknya, kelompok Stalled Starters menghadapi ketidakpastian dan pesimisme, dengan hampir setengahnya terpaksa menunda pensiun untuk membiayai pendidikan anak atau kebutuhan hidup keluarga.

Konteks demografi mempertegas urgensi temuan ini. Data ESCAP 2023 mencatat, penduduk berusia 60 tahun ke atas di Indonesia mencapai 30,9 juta jiwa pada 2023, dan angka ini diproyeksikan melonjak menjadi hampir 65 juta jiwa pada 2050. Pergeseran struktur usia penduduk ini menuntut kesiapan sistem keuangan individu yang lebih matang.

Perilaku Baru dalam Perencanaan Keuangan

Survei ini juga menangkap perubahan pola dalam mencari informasi keuangan. Penggunaan teknologi generative AI seperti ChatGPT dan Google Gemini melonjak menjadi 30%, mengindikasikan pergeseran ke platform digital. Seiring dengan itu, proporsi responden yang berkonsultasi langsung dengan bank atau penasihat keuangan independen tercatat mengalami penurunan.

Albertus Wiroyo memberikan catatan kritis mengenai tren ini. Menurutnya, meski berguna, teknologi memiliki keterbatasan dalam konteks perencanaan jangka panjang.

"AI bisa menjadi titik awal pencarian informasi, tetapi seringkali tidak memiliki konteks dan tingkat personalisasi yang dibutuhkan untuk keamanan finansial jangka panjang," ungkapnya.

Hambatan dan Tekanan yang Dihadapi

Data survei memperlihatkan bahwa perencanaan pensiun masih sering diabaikan atau ditunda. Sebanyak 24% responden mengaku tidak membuat rencana sama sekali, sementara hanya 38% yang merasa sangat percaya diri dengan persiapan mereka. Tekanan finansial terasa sangat berat bagi generasi sandwich—mereka yang menanggung hidup orang tua dan anak sekaligus—di mana banyak yang terpaksa menurunkan gaya hidup atau menunda pensiun.

Faktor kesehatan juga menjadi pertimbangan krusial. Sebagian besar responden yang optimis menilai kondisi fisik dan mental mereka lebih baik dari perkiraan. Namun, bagi sebagian lainnya, penurunan kesehatan justru menjadi alasan untuk berpensiun lebih awal.

Albertus menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam merencanakan masa tua.

"Kesehatan adalah bentuk kekayaan di masa pensiun. Perencanaan pensiun yang komprehensif membantu mewujudkan keamanan finansial dan kesejahteraan jangka panjang," tutupnya.

Survei ini pada akhirnya menyoroti sebuah pilihan mendesak bagi masyarakat: memulai perencanaan dini untuk meraih kemandirian di hari tua, atau menghadapi risiko bekerja di usia senja karena desakan ekonomi.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar