PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menyerukan agar momentum gencatan senjata di Gaza dijadikan landasan untuk mewujudkan negara Palestina yang merdeka. Pernyataan tegas ini disampaikannya dalam pidato di Konferensi Keamanan Munich, Jerman, pada Sabtu (17/2), menegaskan kembali komitmen Riyadh terhadap Solusi Dua Negara sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan di kawasan.
Gencatan Senjata Sebagai Jalan Menuju Kenegaraan Palestina
Dalam forum internasional yang dihadiri para pemimpin global itu, Pangeran Faisal menekankan bahwa jeda kemanusiaan di Jalur Gaza tidak boleh berakhir begitu saja. Momen ini, menurutnya, harus dimanfaatkan secara strategis untuk membangun stabilitas, memulai rekonstruksi, dan—yang terpenting—mengambil langkah-langkah konkret menuju realisasi kenegaraan Palestina. Ia melihat kerangka kerja yang dibentuk dalam fase kedua gencatan senjata sebagai instrumen kunci.
Pangeran Faisal menjelaskan, "Dewan Perdamaian Gaza yang dibentuk dalam fase kedua gencatan senjata, bersama dengan kerangka kerja 20 poinnya, harus terlebih dahulu memastikan penghentian permusuhan, kemudian membantu memajukan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri."
Dengan nada yang berwibawa, diplomat senior itu menegaskan bahwa pendekatan ini bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan. Arab Saudi, lanjutnya, akan terus mendukung segala inisiatif yang tulus untuk menyelesaikan konflik yang telah berlarut-larut tersebut, dengan dasar kebutuhan mendesak untuk mencapai perdamaian yang adil dan menyeluruh.
Pembahasan Soal Suriah dan Proses Rekonstruksi
Pidato Pangeran Faisal juga menyentuh perkembangan di Suriah. Ia mengamati bahwa negara yang telah dilanda perang saudara selama lebih dari satu dekade itu sedang menjalani transisi yang sulit. Meski begitu, ia mencatat adanya pendekatan yang lebih konstruktif dari pemerintah Suriah terhadap kelompok minoritas dan etnis di dalam negeri.
Mengenai masa depan, ia menekankan bahwa proses rekonstruksi haruslah dipimpin oleh rakyat Suriah sendiri. Peran komunitas internasional dan regional, dalam pandangannya, adalah sebagai pendukung. Ia juga menyebutkan perkembangan dialog dengan kelompok SDF.
"Kesepakatan dengan kelompok SDF sedang dikembangkan dengan cara yang menghormati hak-hak Kurdi," ungkapnya, sembari menyatakan keyakinan bahwa kemajuan berkelanjutan dari pemerintah akan membawa manfaat yang lebih luas bagi seluruh rakyat Suriah.
Analisis Konflik yang Saling Berkait di Kawasan
Membahas dinamika keamanan regional yang lebih luas, Pangeran Faisal memberikan analisis yang tajam. Ia memperingatkan bahwa satu konflik sering kali memicu dan memperkuat konflik lainnya, menciptakan lingkaran ketidakstabilan yang berbahaya. Sebagai contoh, ia menyoroti bagaimana kekerasan di Sudan telah menyebarkan ketegangan ke negara-negara tetangganya.
Oleh karena itu, ia mendesak semua pihak untuk berpikir jangka panjang dan meninggalkan perhitungan politik sempit yang justru memperpanjang penderitaan. Menangani akar penyebab konflik dan membangun budaya koeksistensi, menurutnya, adalah solusi fundamental.
Di tengah tantangan tersebut, ia masih melihat secercah harapan. "Berakhirnya bentrokan di Sudan antara militer dan Rapid Support Forces dapat menjadi sumber harapan bagi kawasan yang lebih luas," tuturnya. Pernyataan ini menggarisbawahi keyakinannya bahwa perdamaian di satu titik dapat menjadi katalis untuk stabilitas di tempat lain, sebagaimana yang mulai terlihat dalam perkembangan terbaru di Suriah.
Artikel Terkait
MUI Dorong 800 Ribu Masjid Jadi Pusat Edukasi Pengelolaan Sampah
BI Siapkan Rp2,9 Triliun Uang Baru untuk Ramadan dan Lebaran di Kepri
Dua Skema Gaji Apoteker: PNS Terstruktur, Swasta Dinamis dengan Karawang Tertinggi
BMKG: Daryono Mengundurkan Diri dari Jabatan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami