Anggota DPR: Program Makan Bergizi dan Anggaran Pendidikan Bukan Pilihan Bertentangan

- Senin, 16 Februari 2026 | 15:25 WIB
Anggota DPR: Program Makan Bergizi dan Anggaran Pendidikan Bukan Pilihan Bertentangan

PARADAPOS.COM - Anggota DPR Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menilai polemik yang mempertentangkan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran pendidikan sebagai cara pandang yang keliru. Menurutnya, kedua isu ini bukanlah pilihan yang saling meniadakan, melainkan dua pilar yang saling menguatkan dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Pandangan ini disampaikannya menanggapi perdebatan publik yang kerap memisahkan kedua program tersebut.

Makan Bergizi dan Kesejahteraan Guru: Dua Sisi Mata Uang yang Sama

Azis Subekti menegaskan bahwa membandingkan atau mengadu-domba anggaran MBG dengan upaya peningkatan kesejahteraan guru adalah langkah yang tidak tepat. Ia melihat pemenuhan gizi anak sekolah dan peningkatan kualitas pengajar berada dalam satu ekosistem yang utuh. Keduanya, dalam pandangannya, merupakan investasi fundamental yang harus berjalan beriringan.

"Mengadu keduanya berarti merusak fondasi rumah yang sedang kita bangun bersama. Kita tidak sedang memilih antara memberi makan anak atau memuliakan guru, keduanya adalah satu tarikan napas yang sama," ujar Azis dalam keterangan tertulisnya, Senin (16 Februari 2026).

Belajar dari Praktik Pendidikan Global

Politikus Gerindra itu lantas merujuk pada praktik yang telah lama diterapkan di sejumlah negara maju. Ia menyebut contoh konkret seperti National School Lunch Program di Amerika Serikat yang berjalan sejak 1946, serta sistem kyushoku (makan siang sekolah) di Jepang yang tidak hanya memenuhi gizi tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter.

Dari contoh internasional tersebut, Azis menarik benang merah. "Negara-negara itu memahami bahwa membangun SDM unggul tidak pernah dilakukan secara sektoral. Guru terbaik sekalipun akan menghadapi batas jika muridnya datang ke kelas dengan energi yang terkuras oleh lapar," jelasnya.

Tiga Langkah Strategis Integrasi

Sebagai jalan keluar dari debat anggaran yang kerap tersekat-sekat, Azis menawarkan tiga langkah strategis yang perlu dijalankan secara bersamaan. Pertama, reformulasi anggaran pendidikan yang berorientasi pada hasil, seperti peningkatan capaian literasi dan numerasi, bukan sekadar penyerapan administratif.

Kedua, penguatan profesi guru melalui sistem seleksi yang meritokratis, pelatihan berkelanjutan, dan pemerataan distribusi tenaga pendidik hingga ke daerah tertinggal. Ketiga, pelaksanaan program makan gratis harus memenuhi standar gizi yang terukur dan transparan, dengan desain yang dapat menggerakkan ekonomi lokal di sekitar sekolah.

Investasi Gizi dan Pendidikan: Dua Dimensi Waktu yang Sama

Di akhir pernyataannya, Azis mengingatkan bahwa alokasi 20 persen APBN untuk pendidikan adalah amanat konstitusi yang tidak bisa ditawar. Namun, ia menekankan bahwa investasi pada gizi anak sekolah merupakan prasyarat penting yang mendukung keberhasilan investasi pendidikan tersebut.

"Investasi gizi meningkatkan konsentrasi belajar. Investasi pada guru memperkuat kualitas pembelajaran. Keduanya bekerja dalam dimensi waktu yang sama," pungkas Azis, menutup argumentasinya.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar