Lukisan SBY Terjual Rp6,5 Miliar dalam Lelang Sengit, Dibeli Taipan Low Tuck Kwong

- Kamis, 19 Februari 2026 | 02:25 WIB
Lukisan SBY Terjual Rp6,5 Miliar dalam Lelang Sengit, Dibeli Taipan Low Tuck Kwong

PARADAPOS.COM - Sebuah lukisan bertema kuda api karya mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhasil terjual dalam sebuah lelang amal dengan harga yang mencengangkan, Rp6,5 miliar. Pembelinya adalah pengusaha ternama Low Tuck Kwong melalui perwakilan keluarganya. Lelang yang digelar dalam rangka Perayaan Hari Raya Imlek Partai Demokrat di Djakarta Theater, Rabu (18/2/2026) itu, menyaksikan proses tawar-menawar yang sengit sebelum akhirnya dimenangkan oleh taipan batu bara tersebut.

Proses Lelang yang Sengit

Awalnya, lukisan itu dibuka dengan harga lelang Rp200 juta. Suasana langsung hangat ketika tawaran melonjak cepat, mencapai Rp400 juta, lalu menyentuh angka Rp1 miliar yang ditawarkan oleh publik figur Deddy Corbuzier. Namun, pertarungan sesungguhnya baru dimulai setelahnya. Tawaran kemudian naik dengan kelipatan fantastis Rp1 miliar per penawaran, menciptakan ketegangan di ruangan lelang. Dua pihak, yaitu pengusaha Hermanto Tanoko dan perwakilan keluarga Low Tuck Kwong, saling bersaing hingga akhirnya keluarga Dato Low keluar sebagai pemenang dengan angka final Rp6,5 miliar.

Profil Singkat Pembeli: Low Tuck Kwong

Nama Low Tuck Kwong bukanlah nama asing di dunia bisnis Indonesia. Menurut catatan Forbes, ia tercatat sebagai salah satu orang terkaya di tanah air dengan kekayaan diperkirakan mencapai 20,4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp345,5 triliun. Pria yang lahir di Singapura ini dikenal luas sebagai "raja batu bara" berkat perusahaan yang didirikannya, Bayan Resources, salah satu produsen batu bara terkemuka di Indonesia.

Perjalanan Hidup dari Nol

Kesuksesan gemilangnya hari ini berawal dari perjuangan keras. Low kecil, di usia tiga tahun, mengikuti ayahnya yang bermigrasi dari Guangzhou, China, ke Singapura. Sang ayah merintis bisnis kontraktor bernama Sum Cheong. Sejak remaja, Low sudah turun tangan membantu usaha keluarga sepulang sekolah. Meski Sum Cheong akhirnya tumbuh sukses di Singapura dan Malaysia, Low memilih untuk merintis jalan sendiri dengan melihat potensi besar di Indonesia.

Pada 1973, di usia 25 tahun, ia mendapatkan proyek pertamanya: pekerjaan fondasi untuk sebuah pabrik es krim di Ancol, Jakarta Utara. Dengan tekad dan inovasi, Low bahkan disebut-sebut sebagai kontraktor pertama yang menggunakan palu diesel untuk pemancangan guna mempercepat pekerjaan. Langkah strategisnya kemudian membawanya masuk ke sektor pertambangan batu bara, yang akhirnya melambungkan namanya.

Mengenai perjalanan bisnisnya yang penuh tantangan, Low pernah berujar, "Perjalanan kami tidak mudah sejak awal. Orang-orang menertawakan kami (karena membeli tambang). Mereka bilang kami gila."

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar