PARADAPOS.COM - Pasar saham Amerika Serikat menutup perdagangan Kamis (20 Februari 2026) dengan tekanan penjualan yang menyeret indeks acuan ke zona merah. Ketegangan geopolitik yang meningkat antara AS dan Iran, ditambah dengan data ekonomi yang beragam, membuat investor mengambil sikap hati-hati dan mengunci sebagian keuntungan, membuat indeks S&P 500 hampir tidak bergerak dari level awal tahun.
Indeks Berakhir Merah di Tengah Ketegangan Geopolitik
Pada penutupan sesi Kamis waktu setempat, ketiga indeks utama Wall Street tercatat melemah. Dow Jones Industrial Average terkikis 267,5 poin (0,54%) ke level 49.395,16. Sementara itu, S&P 500 merosot 19,42 poin (0,28%) menjadi 6.861,89, dan Nasdaq Composite turun 70,91 poin (0,31%) ke posisi 22.682,73.
Pergerakan sektoral memperlihatkan sentimen yang beragam, meski mayoritas berakhir negatif. Dari 11 sektor utama di S&P 500, delapan di antaranya ditutup melemah, dengan sektor keuangan dan barang konsumsi non-esensial menjadi yang tertekan paling dalam. Di sisi lain, sektor utilitas dan industri justru mampu mencatatkan kenaikan, menunjukkan adanya aliran dana ke aset yang dianggap lebih defensif.
Peringatan AS ke Iran Picu Kekhawatiran Pasar
Suasana pasar turut dibayangi oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak mentah melanjutkan reli setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terkait program nuklir Iran. Ultimatum tersebut menambah ketidakpastian di kalangan pelaku pasar.
"Jika tidak, hal-hal yang sangat buruk akan terjadi," ucap Trump, merujuk pada tenggat waktu 10 hingga 15 hari yang diberikan kepada Iran untuk mencapai kesepakatan.
Performa Saham Perusahaan Individu
Di antara saham-saham unggulan, Walmart tercatat anjlok 1,38% meski melaporkan pertumbuhan penjualan yang kuat. Performa ini tak lepas dari fakta bahwa pendapatannya kini sedikit di bawah Amazon, yang untuk pertama kalinya berhasil melampaui Walmart sebagai perusahaan dengan pendapatan tahunan terbesar.
Di sisi lain, saham Carvana merosot hampir 8% setelah perusahaan gagal memenuhi ekspektasi profitabilitas. Saham DoorDash justru naik 1,62%, didorong oleh proyeksi pengeluaran pengguna yang lebih optimis. Saham raksasa teknologi seperti Apple, Nvidia, dan Microsoft bergerak beragam di tengah kabar pendanaan besar-besaran untuk OpenAI.
Data Ekonomi dan Prospek ke Depan
Sementara itu, data ekonomi yang dirilis hari itu memberikan gambaran yang kompleks. Defisit perdagangan barang AS pada 2025 tercatat mencapai rekor tertinggi baru, yakni USD1,24 triliun. Namun, ada secercah optimisme dari data ketenagakerjaan, di mana klaim pengangguran awal untuk pekan lalu turun lebih dari perkiraan.
Ke depan, fokus pasar akan beralih ke rilis data inflasi kunci, Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang dijadikan acuan oleh The Fed. Para analis memperkirakan investor akan tetap berjaga-jaga, mengawasi setiap perkembangan dari Timur Tengah dan sinyal kebijakan moneter yang mungkin muncul dari data ekonomi mendatang.
Artikel Terkait
IHSG Tertekan Sentimen Global, Lanjutkan Tren Pelemahan
Trump Tegaskan Dewan Perdamaian Akan Kolaborasi dengan PBB untuk Rekonstruksi Gaza, Indonesia Siap Kirim Pasukan
Tabrakan Truk Ganggu Layanan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta
Hujan Deras di Jakarta, Transjakarta Hentikan dan Alihkan Sejumlah Rute