PARADAPOS.COM - Bulan Ramadan tidak hanya menjadi waktu untuk memperdalam ibadah, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Di berbagai penjuru Indonesia, tradisi "berburu takjil" untuk berbuka puasa menciptakan gelombang permintaan yang signifikan. Fenomena ini langsung dirasakan oleh para pedagang musiman dan pasar tradisional, yang mengalami lonjakan omzet hingga dua kali lipat dibanding hari biasa, mengubah suasana Ramadan menjadi ladang rezeki yang dinamis.
Geliat Ekonomi dari Medan hingga Banten
Suasana ramai dan antusiasme pembeli sudah menjadi pemandangan khas di banyak kota. Di Medan, Sumatra Utara, lapak-lapak penjual takjil dipadati warga yang mencari beragam pilihan, mulai dari gorengan hangat, kue basah, hingga minuman segar. Tingginya animo masyarakat ini secara langsung berdampak pada pendapatan para pedagang, yang melaporkan peningkatan penjualan yang cukup berarti.
Tren serupa terlihat di Pasar Rangkas Bitung, Kabupaten Lebak, Banten. Di sini, bahan baku takjil tradisional justru menjadi primadona. Kolang-kaling dan cincau hijau menjadi komoditas yang paling banyak diburu, mencerminkan selera lokal yang khas dan keinginan untuk menghidangkan takjil buatan sendiri.
Seorang pedagang di pasar tersebut menjelaskan, "Harga kolang-kaling dipatok sebesar Rp20.000 per kilogram, sementara cincau dijual seharga Rp5.000 per kilogram."
Selain kedua bahan itu, minuman tradisional seperti sekoteng dan es rumput laut juga tidak ketinggalan diburu, dengan harga yang relatif terjangkau bagi masyarakat.
Dampak Nyata bagi Pedagang Pasar Tradisional
Geliat ekonomi Ramadan bahkan sudah terasa sejak sore hari di wilayah timur Indonesia. Di Pasar Sentral Pekkabata, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, aktivitas perdagangan mulai menggeliat sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Para pedagang di sini tampak cermat membaca kebutuhan, tidak hanya menawarkan takjil ringan tetapi juga menyediakan pilihan makanan berat untuk santap berbuka, dengan rentang harga yang beragam.
Keberkahan ekonomi bulan suci ini bukan sekadar perkiraan, melainkan fakta yang diakui langsung oleh pelaku usaha. Peningkatan omzet yang drastis menjadi bukti nyata dampak positif tradisi Ramadan terhadap ekonomi akar rumput.
Salah seorang pedagang di Pasar Pekkabata dengan gamblang mengungkapkan, "Hasil penjualan kami meningkat drastis, dengan raihan omzet hingga 100% lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari biasa di luar bulan Ramadan."
Pengakuan tersebut memberikan gambaran konkret tentang bagaimana siklus religius dan budaya masyarakat dapat menjadi penggerak vital bagi stabilitas ekonomi keluarga, khususnya di tingkat pedagang kecil. Fenomena tahunan ini sekaligus menunjukkan ketahanan dan adaptasi pelaku usaha tradisional dalam menyambut momentum yang penuh berkah.
Artikel Terkait
Ramadan di Gaza: Gencatan Senjata Tak Hapus Antrean Panjang dan Trauma Konflik
Lubang Jalan di Kelapa Dua Jakarta Ancam Keselamatan Pengendara Motor
Anggota DPR Salurkan Bantuan Alsintan untuk Dongkrak Produktivitas dan Regenerasi Petani Sidoarjo
QRIS di Sulsel Tembus 1,3 Juta Merchant, Transaksi Lintas Negara Melonjak