PARADAPOS.COM - Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, berinisial NS, meninggal dunia di rumah sakit setelah video yang menunjukkan dirinya dengan luka-luka serupa bakar viral di media sosial. Dalam rekaman yang menyayat hati itu, bocah asal Jampang Kulon, Sukabumi, Jawa Barat, tersebut mengaku mengalami penganiayaan oleh ibu tirinya. Meski demikian, penyebab pasti kematiannya masih menunggu hasil pemeriksaan forensik yang lebih mendalam, sementara pihak berwajib mendalami kasus ini.
Video Viral dan Pengakuan Korban
Kasus ini pertama kali mencuat ke publik melalui sebuah video yang diunggah di platform Instagram. Rekaman berdurasi singkat itu, yang telah ditonton jutaan kali, memperlihatkan NS terbaring lemah dengan luka-luka merah yang parah di wajah, tangan, kaki, dan punggungnya. Suasana di ruang perawatan tampak tegang ketika seorang pria di lokasi bertanya tentang asal-usul luka tersebut.
Dengan suara lirih dan penuh kesakitan, NS menjawab, “Sama Mamah,” sambil menunjuk ke arah wajahnya.
Jawaban itu memicu emosi ayah kandungnya, Anwar Satibi, yang berada di samping tempat tidur. Kericuhan pun sempat terjadi sebelum akhirnya diredakan oleh pria yang sama, yang mengingatkan bahwa rumah sakit adalah tempat umum dan ada kepolisian di lokasi.
Riwayat Kekerasan dan Upaya Mediasi
Dalam perkembangan terungkap, ini bukan kali pertama NS diduga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Anwar Satibi mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 lalu, putranya pernah mengalami kejadian serupa yang diduga dilakukan oleh ibu tirinya. Saat itu, kasus sempat dimediasi dan berujung pada janji perdamaian.
“Ini sudah pernah terjadi cuma dimediasi. Dia sujud ke saya jangan lapor, mamah mau tobat. Akhirnya terjadi perdamaian. Sebetulnya laporan saya di polres belum dicabut,” tutur Anwar, menggambarkan dilema dan harapannya di masa lalu agar keluarga bisa utuh kembali.
Namun, tragedi terbaru ini memutus semua harapan. NS dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis pada Kamis (20/2/2026) pagi dan menghembuskan napas terakhir pada sore harinya. Pencarian kejelasan pun menjadi prioritas sang ayah.
“Makanya saya mendorong untuk melakukan autopsi. Intinya saya tidak bisa menuduh dan memfitnah. Tapi karena saya ingin tahu, ingin memastikan,” tegasnya.
Temuan Awal Tim Forensik
Jenazah NS kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Setukpa Polri di Kota Sukabumi untuk menjalani prosedur autopsi. Kepala rumah sakit tersebut, Kombes Pol dr. Carles Siagian, memaparkan temuan awal tim forensik.
“Dari hasil ditemukan, anak-anak usia 12 tahun dengan luka bakar di anggota gerak di kaki kiri, kemudian ada beberapa luka juga di punggung dan luka bakar, juga ada di area bibir dan hidung yang diduga karena luka bakar,” jelasnya dalam konferensi pers pada Jumat siang.
Meski mendapati luka-luka bakar yang signifikan, dr. Carles menekankan bahwa timnya belum dapat menarik kesimpulan terburu-buru. Mereka masih sangat berhati-hati dalam menilai apakah luka-luka itu akibat kekerasan atau suatu kecelakaan.
“Kami tidak bisa menyebutkan apakah itu kekerasan atau bukan. Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar. Namun dokter forensik belum bisa memutuskan apakah ini sebuah penganiayaan atau bukan,” lanjutnya, menegaskan pentingnya pendalaman lebih lanjut.
Misteri Penyebab Kematian dan Pemeriksaan Lanjutan
Yang menjadi pertanyaan besar bagi tim medis adalah, secara prosedur klinis, luka bakar yang ditemukan seharusnya tidak langsung menyebabkan kematian. Fakta inilah yang mendorong dilakukannya pemeriksaan lebih dalam. Tim forensik mengambil sampel dari sejumlah organ vital, khususnya jantung dan paru-paru yang terlihat mengalami pembengkakan, untuk dianalisis di laboratorium di Jakarta.
“Penyebab kematian masih belum bisa disimpulkan karena dari luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian. Sudah dilakukan pemeriksaan dalam, organ-organ diotopsi, kita melakukan pemeriksaan laboratorium dan mengirimkan ke Jakarta. Kami sedang menunggu hasil untuk mengetahui apakah ada zat-zat lain di dalam organ,” papar dr. Carles.
Proses analisis laboratorium ini diperkirakan memakan waktu lima hingga tujuh hari. Hasilnya nanti diharapkan dapat mengungkap apakah ada faktor lain, seperti penyakit bawaan atau keberadaan zat asing tertentu dalam tubuh korban, yang menjadi pemicu kematian mendadak NS.
Sementara masyarakat terus diliputi duka dan tanya, proses hukum dan medis terus berjalan. Kasus ini kembali menyoroti kerentanan anak dalam lingkungan rumah tangga dan kompleksitas dalam membedah sebuah kematian yang penuh tanda tanya, di mana setiap langkah pemeriksaan harus dilakukan dengan ketelitian dan kehati-hatian tertinggi.
Artikel Terkait
Pelajar MTs Tewas Diduga Dihantam Helm Personel Brimob di Tual, Polri Janjikan Proses Hukum
Santri 12 Tahun Tewas dengan Luka Bakar di Sukabumi, Polisi Tunggu Hasil Lab
Anggota Brimob Ditahan Diduga Aniaya Siswa MTs Hingga Tewas di Tual
Ipda Purnomo, Polisi Perawat 395 ODGJ, Kembali Salurkan Bantuan untuk Guru dan Warga