Iran Tunda Pemakaman Khamenei di Tengah Eskalasi Perang dan Proses Suksesi

- Kamis, 05 Maret 2026 | 03:00 WIB
Iran Tunda Pemakaman Khamenei di Tengah Eskalasi Perang dan Proses Suksesi

PARADAPOS.COM - Pemerintah Iran terpaksa menunda upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang sedianya digelar Rabu (4/3/2026) malam waktu setempat. Penundaan ini diumumkan di tengah eskalasi konflik militer, dengan serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang terus menggempur wilayah Iran. Otoritas di Teheran menyebut penjadwalan ulang diperlukan untuk mengakomodasi permintaan masyarakat dan mempersiapkan infrastruktur, meski situasi keamanan yang genting turut menjadi pertimbangan.

Transisi Kepemimpinan di Bawah Ancaman Serangan

Keputusan menunda prosesi persemayaman di kompleks Grand Mosalla datang saat Iran menghadapi kekosongan kekuasaan puncak. Majelis Ahli, lembaga yang bertugas memilih Pemimpin Tertinggi, dilaporkan telah hampir menyelesaikan proses suksesi. Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya dilaporkan tewas dalam serangan gelombang pertama pada Sabtu lalu.

Ayatollah Ahmad Khatami, anggota Majelis Ahli, mengonfirmasi perkembangan tersebut melalui siaran televisi pemerintah. "Pemimpin Tertinggi akan ditetapkan dalam kesempatan terdekat. Kami sudah mendekati kesimpulan, namun situasi negara saat ini dalam kondisi perang," ungkapnya.

Di balik layar, perbincangan mengenai pengganti Khamenei semakin intens. Sumber internal menyebutkan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang berusia 56 tahun dan dikenal dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), muncul sebagai kandidat kuat. Analisis mengindikasikan sosoknya memiliki pengaruh politik yang signifikan untuk memimpin negara di tengah krisis.

Eskalasi Konflik Meluas ke Lautan

Sementara proses politik berlangsung, medan pertempuran justru semakin meluas. Konflik kini merambah perairan internasional di Samudra Hindia. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, secara terbuka mengonfirmasi bahwa kapal selam Amerika Serikat telah menenggelamkan fregat Iran, Iris Dena.

Hegseth menyampaikan pernyataan tegasnya di hadapan para wartawan. "Kapal perang itu mengira mereka aman di perairan internasional. Sebaliknya, ia ditenggelamkan oleh torpedo. Kematian yang sunyi," tegasnya. Menurut laporan dari Sekretaris Pertahanan Sri Lanka, insiden tragis itu menewaskan 80 pelaut, sementara 32 orang lainnya berhasil diselamatkan.

Menteri Hegseth juga menyatakan keyakinannya bahwa pasukan koalisi akan segera mencapai superioritas udara penuh. Namun, klaim ini langsung memantik reaksi keras dari pejabat tinggi Iran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menuding Presiden Amerika Serikat kala itu, Donald Trump, telah "menyeret rakyat Amerika ke dalam perang yang tidak adil."

Dampak Kemanusiaan dan Retorika Regional yang Memanas

Gelombang kekerasan tidak hanya berpusat di Iran. Serangan balasan yang diluncurkan Teheran, berupa drone dan rudal, dilaporkan mencapai beberapa negara di kawasan Teluk. Di Kuwait, otoritas setempat mencatat korban jiwa di pihak sipil. Kementerian Kesehatan Kuwait melaporkan seorang gadis berusia 11 tahun tewas akibat serpihan rudal yang menghujam area pemukiman.

Eskalasi ini memicu ketegangan diplomatik yang tajam. Qatar, misalnya, secara resmi menolak narasi Iran yang menyatakan serangannya hanya menargetkan kepentingan AS. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, menyuarakan kekhawatiran mendalam bahwa tindakan Teheran berisiko menyeret negara-negara tetangga ke dalam pusaran konflik yang bukan menjadi perang mereka.

Data korban jiwa dari kedua pihak mulai memperlihatkan gambaran suram konflik ini. Berdasarkan informasi dari kantor berita resmi Iran, Irna, korban tewas sejak awal pertikaian mencapai 1.045 orang, mencakup personel militer dan warga sipil. Di sisi lain, lembaga pemantau hak asasi manusia Human Rights Activists News Agency (HRNA) yang berbasis di AS melaporkan angka yang lebih tinggi, dengan klaim 1.097 warga sipil tewas, termasuk 181 anak-anak di dalamnya. Perbedaan angka ini menggarisbawahi kompleksitas dan kesulitan dalam verifikasi fakta di tengah medan perang yang terus bergejolak.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar