PARADAPOS.COM - Ketua Kelompok Fraksi PKB Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, meminta Pertamina memberikan penjelasan yang komprehensif kepada publik terkait ketersediaan BBM nasional. Permintaan ini disampaikan menanggapi kabar yang beredar bahwa cadangan BBM Indonesia hanya cukup untuk sekitar 20 hari, di tengah memanasnya konflik Timur Tengah pasca serangan AS dan Israel ke Iran. Rivqy menilai, informasi yang tidak jelas justru memicu kepanikan dan antrean panjang di sejumlah SPBU.
Kritik Terhadap Penjelasan yang Minim
Rivqy Abdul Halim mengungkapkan keprihatinannya atas dampak dari pernyataan mengenai cadangan BBM yang terbatas tersebut. Menurut pengamatannya, situasi ini telah menciptakan keresahan yang tidak perlu di tengah masyarakat.
"Imbas dari pernyataan ini, di beberapa daerah justru menimbulkan kepanikan berlebih di masyarakat. Banyak SPBU mengalami antrean panjang dan masyarakat saling berebut BBM," tuturnya kepada wartawan, Sabtu (6/3/2026).
Mekanisme Cadangan BBM yang Kompleks
Politikus dari Partai Kebangkitan Bangsa itu kemudian menjelaskan bahwa sistem pencadangan atau stok nasional BBM merupakan hal yang kompleks. Ia menekankan bahwa kapasitas penyimpanan sangat bergantung pada ketersediaan dana dan fasilitas infrastruktur yang dimiliki pemerintah dan Pertamina.
"Sepemahaman saya, kapasitas pencadangan kita memang sangat bergantung pada kemampuan dana dan fasilitas untuk menyimpan. Jadi pernyataan tersebut tidak bisa dimaknai secara sederhana seolah cadangan BBM kita akan habis dalam waktu tertentu," jelas Rivqy.
Oleh karena itu, ia menilai interpretasi yang simplistis terhadap angka hari cadangan dapat menyesatkan dan tidak menggambarkan dinamika logistik serta manajemen stok energi yang sebenarnya.
Pentingnya Komunikasi Publik yang Transparan
Dalam konteks ini, Rivqy menegaskan peran krusial Pertamina sebagai operator utama energi nasional. Menurutnya, langkah komunikasi yang proaktif dan transparan sangat dibutuhkan untuk meredam kecemasan dan mencegah aksi panic buying yang justru dapat mengganggu stabilitas pasokan.
"Saya berharap Pertamina juga ikut memberi penjelasan kepada masyarakat agar kepanikan ini tidak berkembang dan tidak menimbulkan konflik horizontal yang justru merugikan masyarakat luas," ujarnya.
Dampak Langsung di Lapangan
Kekhawatiran yang disampaikan Rivqy tampaknya bukan tanpa alasan. Beberapa hari sebelumnya, sejumlah wilayah di Aceh telah menunjukkan gejala kepanikan tersebut. Laporan dari lapangan menyebutkan warga ramai-ramai mendatangi SPBU dan Pertashop dengan membawa jeriken berbagai ukuran, sebuah pemandangan yang jarang terlihat dalam kondisi normal.
Antrean kendaraan, baik roda dua maupun empat, dilaporkan memanjang hingga ke badan jalan di lima SPBU di Kota Banda Aceh, menyebabkan kemacetan ringan. Tidak hanya di SPBU, pedagang eceran juga ramai dikunjungi warga yang ingin membeli BBM dalam jumlah banyak untuk disimpan.
Fenomena ini menggarisbawahi betapa cepatnya informasi—atau misinformasi—mengenai kelangkaan dapat memengaruhi perilaku masyarakat, dan betapa pentingnya otoritas terkait memberikan penjelasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan untuk menjaga ketenangan publik.
Artikel Terkait
Muswil PPP Sulawesi Tengah Tuntas Digelar, Formatur Baru Ditetapkan
Israel Klaim Serang Teheran, Balas Serangan Rudal Iran Sehari Sebelumnya
IHSG Anjlok 7,89% Pekan Lalu, Ditekan Koreksi Saham-Saham Big Cap
SIM Keliling Hadir di Jakarta, Bekasi, Bogor, dan Bandung Hari Ini