PARADAPOS.COM - Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) merumuskan delapan program strategis baru untuk memperkuat ekosistem kreatif Indonesia. Rekomendasi ini dihasilkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026 yang berlangsung pada 6-7 Maret di Jakarta, menandai langkah konkret organisasi ini di tahun ketujuh perjalanannya. Program-program tersebut, yang dirangkum dalam konsep "Asta Karya", difokuskan pada penyelesaian tantangan klasik pelaku kreatif, mulai dari pendanaan hingga perlindungan hak cipta.
Fokus pada Kebermanfaatan Nyata, Bukan Sekadar Kuantitas
Ketua Umum Gekrafs, Kawendra Lukistian, menekankan bahwa pertumbuhan organisasi harus sejalan dengan dampak yang terasa. Meski keanggotaan telah meluas hingga hampir 40 ribu orang dari berbagai penjuru tanah air, fokus utama bukanlah sekadar memperbesar kuantitas. Gekrafs, tegasnya, harus menjadi wadah yang memberikan solusi riil bagi para pejuang di lapangan.
"Gekrafs harus menjadi organisasi yang memberi manfaat, bukan sekadar organisasi gaya-gayaan, tetapi organisasi yang menebar kebermanfaatan bagi para pelaku ekonomi kreatif," tuturnya.
Hasil Rakernas yang memuat rekomendasi strategis ini telah disampaikan kepada jajaran pembina, penasihat, hingga Menteri Ekonomi Kreatif. Langkah ini diambil untuk membangun sinergi yang lebih erat dengan pemerintah, sehingga program-program yang dirancang dapat diimplementasikan secara lebih luas.
Mengenal Asta Karya: Delapan Pilar Penggerak Ekonomi Kreatif
Inti dari rekomendasi Rakernas 2026 adalah peluncuran Asta Karya, sebuah kerangka kerja yang berisi delapan program unggulan. Konsep ini dirancang sebagai respons terhadap berbagai kebutuhan mendasar para pelaku industri kreatif, yang sering kali menghadapi kendala dalam hal finansial, legalitas, dan akses pasar.
"Asta Karya adalah program unggulan Gekrafs. Di dalamnya ada bagaimana IP Financing, perlindungan kekayaan intelektual, akses permodalan, regional creative hub, hingga bagaimana kita mendorong upah minimum bagi pejuang ekonomi kreatif ketika berkarya," jelas Kawendra.
Ia menambahkan bahwa tujuan akhir dari seluruh upaya ini adalah memberikan apresiasi yang setimpal. "Jadi betul-betul dihargai, tidak sekadar ala kadarnya, tetapi apresiasi yang nyata bagi para pejuang ekonomi kreatif," lanjutnya.
Kedelapan program tersebut meliputi:
- Creative Equity Funding Acceleration (CEFA): Akses pembiayaan berbasis kekayaan intelektual.
- Digital IP Protection Licensing and Ecosystem (DIPPLE): Perlindungan dan pengelolaan hak kekayaan intelektual secara digital.
- National Gastronomy Diplomacy Documentation Initiative (GANDI): Diplomasi kuliner Indonesia di kancah global.
- Youth Inclusive Talent Mobilization (YOTEM): Pemberdayaan talenta muda inklusif, termasuk penyandang disabilitas.
- Artist Right to Pay and Honorarium (ARTPAY): Peningkatan kesejahteraan dan standar honorium pekerja seni.
- Digital Market Penetration Literacy Program (DIMAP): Literasi untuk memasuki pasar digital.
- Regional Creative Hub (RECHUB): Transformasi sekretariat daerah menjadi pusat kolaborasi kreatif.
- Global Outreach and Diaspora Engagement (GLOBE): Penguatan jejaring dengan diaspora Indonesia di seluruh dunia.
Memperkuat Jaringan dan Menyambut Tantangan Global
Di luar program unggulan, Gekrafs juga terus melakukan konsolidasi internal dan ekspansi jaringan. Ketua Panitia Rakernas 2026, Tommy William Tampubolon, menyebutkan bahwa penguatan struktur organisasi di dalam negeri dan perluasan perwakilan luar negeri menjadi prioritas. Saat ini, jaringan Gekrafs telah mencakup seluruh provinsi dan hampir 300 kabupaten/kota, dengan perwakilan di sekitar 12 negara yang rencananya akan diperluas.
"Kami terus memperkuat kepengurusan di dalam negeri dan juga memperluas jaringan di luar negeri. Tahun ini kami juga berencana kembali mengukuhkan beberapa Dewan Perwakilan Luar Negeri di sejumlah negara," ujar Tommy.
Menariknya, tantangan ekonomi global justru dilihat sebagai peluang untuk berinovasi. Kawendra Lukistian meyakini bahwa situasi yang dinamis dapat memicu kreativitas para pelaku industri untuk menemukan solusi-solusi baru.
"Situasi global seperti sekarang justru menjadi ruang yang menarik bagi para pejuang ekonomi kreatif. Kreativitas kita akan terpancing untuk mencari solusi terbaik menghadapi berbagai tantangan," katanya.
Dukungan terhadap langkah strategis ini juga datang dari Dewan Pembina. Sandiaga Uno menegaskan kembali visi besar yang melandasi berdirinya Gekrafs, yaitu menjadikan sektor kreatif sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia di masa depan.
"Gekrafs didirikan dengan semangat menjadikan ekonomi kreatif sebagai masa depan ekonomi Indonesia. Rakernas ini menjadi momentum untuk mempercepat karya dan inovasi," ungkap Sandiaga.
Menurutnya, ekonomi kreatif harus mampu menghasilkan produk berkualitas global yang tetap terjangkau dan berakar kuat pada kearifan lokal, sekaligus menjangkau semangat generasi muda. Dengan langkah-langkah terstruktur seperti Asta Karya, harapan untuk mewujudkan visi tersebut tampaknya semakin mendekati kenyataan.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Resmikan 218 Jembatan Baru untuk Daerah Bencana dan Terpencil
Gubernur DKI Dukung Penuh Larangan Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun
Limbah Batu Bara Ilegal Cemari Perkebunan dan Ancam Warga di Bandung Barat
Mendagri Dorong Sistem Pajak Daerah Digital untuk Cegah Kebocoran dan Perkuat PAD