PARADAPOS.COM - Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan global. Eskalasi ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham dan lonjakan tajam harga minyak mentah dunia, yang pada Senin (9/3) sempat menembus level US$110 per barel. Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, investor global berbondong-bondong mencari perlindungan dengan memburu dolar AS sebagai aset safe-haven, mendorong mata uang Amerika itu menguat signifikan terhadap mayoritas mata uang utama dunia.
Dolar AS Menguat, Minyak dan Pasar Saham Tertekan
Sentimen risiko yang memburuk dengan cepat tercermin dari pergerakan harga di berbagai lini aset. Dolar AS tercatat melonjak 0,9% terhadap euro, mencapai level tertinggi sejak November lalu. Sementara itu, mata uang yang biasanya lebih berisiko seperti poundsterling, dolar Australia, dan dolar Selandia Baru justru terdepresiasi sekitar 1%. Di sisi komoditas, harga minyak mentah Brent dan AS bahkan sempat melambung lebih dari 20% pada titik puncaknya, sebelum akhirnya sedikit stabil.
Analis melihat pola ini sebagai pengulangan dari krisis energi 2022. "Minyak tetap menjadi saluran transmisi ke ekspektasi inflasi, suku bunga, dan pasar mata uang, dengan kebangkitan dolar AS menggemakan krisis energi 2022," jelas Bob Savage, Kepala Strategi Makro Pasar di BNY.
Status Ganda Dolar AS sebagai Safe-Haven
Kekuatan dolar AS dalam situasi ini dinilai unik. Mata uang tersebut tidak hanya dianggap sebagai pelabuhan yang aman saat gejolak, tetapi juga diuntungkan oleh posisi Amerika Serikat sebagai pengekspor energi utama. Kombinasi ini membuatnya lebih tahan dibandingkan aset safe-haven tradisional lainnya, seperti emas, yang justru melemah akibat aksi ambil untung dari investor.
Joe Capurso dari Commonwealth Bank di Sydney memperkuat analisis tersebut. "Dolar diuntungkan dari status gandanya sebagai safe-haven dan pengekspor energi," ungkapnya. Ia juga memprediksi bahwa konflik antara Iran dan AS berpotensi meningkat sebelum akhirnya mereda, dengan masing-masing pihak memiliki motivasi politik dan strategisnya sendiri.
Dampak Berat bagi Kawasan Asia
Goncangan ini dirasakan paling keras oleh ekonomi-ekonomi di kawasan Asia, yang sangat bergantung pada impor energi. Kenaikan harga minyak yang tajam membebani neraca perdagangan dan prospek inflasi di wilayah tersebut. Vishnu Varathan dari Mizuho Bank di Singapura menggambarkan situasi yang sulit. "Asia menanggung dampak paling besar dari peningkatan tajam harga minyak dan hanya ada sedikit tempat untuk berlindung," tuturnya.
Tekanan terlihat jelas pada mata uang regional seperti won Korea Selatan, yang melemah 1,2% terhadap dolar. Bahkan, dolar AS berhasil menguat terhadap sesama mata uang safe-haven seperti franc Swiss.
Eskalasi Konflik dan Ancaman bagi Pasokan Energi Global
Pemicu utama volatilitas pasar adalah perkembangan konflik yang semakin rumit. Pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran diyakini akan melanjutkan garis kebijakan keras Teheran. Konflik bersenjata telah mengganggu jalur pasokan energi global yang kritis, dengan Iran dilaporkan menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia—serta menyerang infrastruktur energi di sekitarnya.
Kekhawatiran akan gangguan pasokan yang lebih parah semakin nyata. Menteri Energi Qatar, Saad Sherida al-Kaabi, memberikan peringatan suram kepada Financial Times. Ia memperkirakan semua produsen energi di Teluk mungkin akan menghentikan ekspor dalam beberapa minggu ke depan, sebuah skenario yang berpotensi mendorong harga minyak melonjak hingga US$150 per barel.
Dilema bagi Bank Sentral dan Prospek Pasar
Lonjakan harga energi menciptakan dilema baru bagi bank sentral di seluruh dunia. Harga yang tinggi bertindak layaknya pajak yang memberatkan konsumen, sekaligus berisiko memicu gelombang inflasi baru. Kondisi ini dapat memaksa bank sentral, termasuk The Fed, untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar, meskipun ada tanda-tanda perlambatan ekonomi.
Data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pada Jumat lalu sempat memberi harapan bagi pasar mengenai potensi pemotongan suku bunga, sehingga sedikit meredam penguatan dolar. Namun, sentimen itu dengan cepat memudar pada perdagangan Senin, seiring dengan merosotnya indeks berjangka saham AS. Indeks berjangka S&P 500, misalnya, tercatat anjlok 1,6%, mencerminkan kekhawatiran yang masih mendalam di kalangan investor terhadap prospek ekonomi ke depan di tengah ketegangan geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Artikel Terkait
Askrindo dan Bank BTN Jalin Kerja Sama Penjaminan Proyek Senilai Rp1,5 Triliun
Jenazah Pria Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Sungai Citarum
Mudik Gratis Jatim untuk Warga Pulau Sapudi dan Raas Resmi Dimulai
KJRI Kuching Sambangi Pekerja Migran di Perkebunan Sarawak pada Safari Ramadan