JK dan Sembilan Ekonom Bahas Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah

- Senin, 09 Maret 2026 | 08:50 WIB
JK dan Sembilan Ekonom Bahas Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah

PARADAPOS.COM - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, menggelar pertemuan tertutup dengan sembilan ekonom ternama Indonesia. Diskusi yang digelar di kediamannya di Jakarta Selatan pada Senin (9/3/2026) itu berfokus pada antisipasi dampak eskalasi konflik Timur Tengah terhadap ketahanan ekonomi nasional. Pertemuan ini bertujuan merumuskan rekomendasi kebijakan strategis untuk pemerintah dalam menjaga stabilitas di tengah gejolak global.

Pertemuan Para Ahli di Tengah Ketidakpastian Global

Dalam suasana yang intens dan penuh kehati-hatian, sejumlah nama besar di bidang ekonomi hadir memenuhi undangan Jusuf Kalla. Mereka bukan hanya akademisi, tetapi juga praktisi dengan rekam jejak panjang dalam menganalisis pasar. Di antaranya adalah Guru Besar Ekonomi, Prof. Didin Damanhuri, pakar manajemen perubahan Prof. Rhenald Kasali, serta analis kebijakan Dr. Anthony Budiawan.

Kehadiran mereka menunjukkan tingkat urgensi dari diskusi tersebut, mengingat dinamika politik internasional yang berubah cepat dapat langsung berimbas pada fundamental ekonomi dalam negeri.

Rekomendasi dari Berbagai Perspektif Keilmuan

Untuk mendapatkan analisis yang komprehensif, JK juga mengundang perwakilan dari berbagai lembaga riset dan think tank terkemuka. Ruang diskusi diisi oleh Denni Purbasari dari Universitas Gadjah Mada, Rizki Nauli dari LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, serta Yose Rizal Damuri dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Pandangan dari spektrum yang lebih luas dilengkapi oleh kehadiran Nailul Huda dari Celios, Yanuar Nugroho dari Nalar Institute, dan Fadhil Hasan dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). Kolaborasi lintas institusi ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang tidak hanya tajam, tetapi juga dapat diimplementasikan.

Panggilan untuk Evaluasi dan Tindakan Konkret

Jusuf Kalla, dalam penjelasannya, menegaskan bahwa forum ini dimaksudkan sebagai sumbangsih pemikiran konstruktif bagi pemerintah. Fokusnya adalah pada langkah-langkah antisipatif menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memicu ketegangan baru. Rekomendasi yang dihasilkan diharapkan menjadi acuan dalam merancang kebijakan moneter dan fiskal yang tangguh.

Dia mengungkapkan, "Memberikan pikiran-pikiran yang objektif tentang keadaan, bahwa ekonomi kita perlu banyak perbaikan, perlu banyak evaluasi, perlu banyak tindakan-tindakan yang sesuai dengan kondisi hari ini. Karena ekonomi kita dipengaruhi oleh tiga hal, dunia, masa lalu, dan kebijakan sekarang."

Pernyataan mantan Wakil Presiden itu menyiratkan sebuah refleksi mendalam. Dia melihat perlunya sebuah pendekatan kebijakan yang jernih, yang mampu membedakan dan mengelola dampak dari faktor eksternal global, warisan masalah masa lalu, serta efektivitas keputusan yang diambil di masa kini. Pertemuan ini, meski bersifat informal, mencerminkan upaya serius kalangan ahli untuk membaca arah angin dan membantu pemerintah mengemudikan kapal ekonomi nasional di laut yang bergejolak.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar