Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS-Iran di Dekat Selat Hormuz

- Rabu, 10 Juni 2026 | 02:25 WIB
Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS-Iran di Dekat Selat Hormuz
PARADAPOS.COM - Harga minyak mentah dunia kembali bergejolak di perdagangan Asia, Rabu pagi, setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer baru terhadap Iran di dekat Selat Hormuz. Eskalasi ini memicu kembali kekhawatiran pasokan dan meragukan prospek gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara. Akibatnya, harga minyak Brent berjangka untuk kontrak Agustus melonjak 1,8 persen menjadi 93,08 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik 1,8 persen ke level 89,78 dolar AS per barel. Pergerakan ini membalikkan tren penurunan sekitar tiga persen pada sesi sebelumnya, yang merupakan level terendah dalam tujuh minggu terakhir.

Serangan Balasan AS di Dekat Jalur Energi Kritis

Washington mengkonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap target-target Iran di dekat Selat Hormuz pada Selasa waktu setempat. Langkah ini diambil sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache milik AS yang ditembak jatuh oleh pesawat tak berawak Iran, demikian menurut pernyataan pejabat militer Amerika. Presiden AS Donald Trump menyebut respons tersebut sebagai tindakan pembalasan yang "proporsional". Namun, Teheran dengan cepat memperingatkan akan membalas setiap agresi militer lebih lanjut. Eskalasi terbaru ini mengancam akan menggagalkan kemajuan diplomatik yang sempat terlihat. Sebelumnya, Iran dan Israel telah sepakat untuk menghentikan serangan awal pekan ini setelah adanya seruan dari Trump. Para pelaku pasar sempat menafsirkan jeda permusuhan itu sebagai tanda bahwa konflik mungkin bergerak menuju resolusi, yang memicu aksi jual minyak mentah. Kini, perhatian kembali tertuju pada Selat Hormuz. Jalur perairan sempit ini merupakan arteri vital bagi pasokan energi global, karena dilalui oleh sekitar seperlima dari total minyak dan gas alam cair dunia. Meskipun Menteri Energi AS Chris Wright mencatat bahwa lalu lintas kapal dan ekspor minyak melalui Teluk telah menunjukkan perbaikan dalam beberapa pekan terakhir, ia mengingatkan bahwa aliran energi masih berada di bawah normal. "Mungkin butuh waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya," ujarnya.

Tekanan dari Data Persediaan Minyak AS

Di sisi lain, fundamental pasar juga memberikan dorongan bagi kenaikan harga. Data industri menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS mengalami penurunan yang sangat tajam pada pekan lalu. American Petroleum Institute (API) melaporkan bahwa stok minyak mentah terkuras sebesar 9,12 juta barel. Angka ini jauh lebih besar dari perkiraan analis yang hanya memperkirakan penurunan sebesar 3,4 juta barel. Sementara itu, persediaan bensin tercatat turun sebesar 1,19 juta barel, namun persediaan distilat justru naik sebesar 1,32 juta barel. Data ini memperkuat kekhawatiran bahwa persediaan global bisa semakin menipis jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut. Para investor kini menanti data inventaris resmi dari Badan Informasi Energi (EIA) AS yang akan dirilis pada Rabu ini untuk mendapatkan konfirmasi lebih lanjut mengenai kondisi pasokan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar