Penelitian di Jerman Temukan Kadar Tinggi Turunan Plasticizer pada 92% Anak

- Rabu, 11 Maret 2026 | 10:50 WIB
Penelitian di Jerman Temukan Kadar Tinggi Turunan Plasticizer pada 92% Anak

PARADAPOS.COM - Plasticizer, bahan kimia yang umum digunakan untuk melunakkan plastik dan karet, kini menjadi sorotan setelah penelitian terbaru di Jerman menemukan kadar tinggi zat turunannya dalam tubuh anak-anak. Temuan ini menguatkan kekhawatiran para ahli mengenai dampak paparan bahan ini terhadap kesehatan, terutama pada kelompok rentan, meski regulasi pembatasannya telah lama diterapkan di sejumlah negara maju.

Plasticizer: Bahan Kimia yang Meresap dalam Kehidupan Sehari-hari

Secara sederhana, plasticizer adalah senyawa kimia yang ditambahkan ke dalam material seperti PVC atau karet untuk meningkatkan fleksibilitas dan keuletannya. Bahan ini hadir dalam banyak produk rumah tangga yang akrab dengan kita, mulai dari tirai kamar mandi, jas hujan, selang taman, hingga lapisan pelindung kabel listrik. Dalam dunia kosmetik, plasticizer—yang sering kali merujuk pada kelompok ftalat—berfungsi sebagai penstabil yang membuat cat kuku lebih tahan lama atau lotion terasa lebih lembut dan tahan air.

Meski manfaatnya dalam industri tak terbantahkan, potensi risikonya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan telah membuat negara-negara seperti di Uni Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang memberlakukan larangan atau pembatasan ketat penggunaannya. Sayangnya, di banyak negara lain, bahan ini masih digunakan secara luas.

Temuan Mengkhawatirkan: Plasticizer pada Anak-Anak di Jerman

Kekhawatiran itu tampaknya menemukan bukti konkret. Meski aturan telah membatasi plasticizer pada mainan anak, penelitian Badan Lingkungan Hidup Federal Jerman (UBA) justru melaporkan peningkatan paparan yang signifikan. Pada pertengahan 2025, produk turunan plasticizer bernama mono-n-hexyl phthalate (MnHexP) terdeteksi pada 92% dari 259 sampel urin anak dan remaja di seluruh Jerman.

Data ini sejalan dengan temuan investigasi UBA setahun sebelumnya, di mana hampir dua pertiga sampel urin dari 250 anak balita di North Rhine-Westphalia juga terkontaminasi. Yang mengkhawatirkan, kadar yang ditemukan sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan data serupa dari tiga tahun sebelumnya. Studi terpisah juga menemukan bahan kimia ini pada sekitar sepertiga populasi dewasa di negara tersebut.

Kepala UBA, Dirk Messner, mengungkapkan keheranannya atas temuan tersebut. "Berdasarkan hasil beberapa tahun terakhir, kami tidak terkejut menemukan MnHexP dalam sampel urin anak-anak dan remaja," tuturnya. "Namun, yang mengejutkan kami adalah proporsi besar sampel yang terkontaminasi, kadang-kadang dengan konsentrasi yang sangat tinggi."

Investigasi tahun 2024 mengidentifikasi tabir surya sebagai salah satu sumber paparan plasticizer tersebut. UBA menyatakan bahwa sumber ini kemungkinan masih relevan dengan data terbaru, meski tidak menutup kemungkinan adanya sumber kontaminasi lain yang belum teridentifikasi.

Dampak Kesehatan yang Mengintai

Lantas, seberapa berbahaya paparan plasticizer bagi manusia? Marike Kolossa-Gehring, seorang ahli toksikologi di UBA hingga akhir 2025, memberikan penilaian yang berhati-hati. Setelah menguji produk degradasi MnHexP yang ditemukan pada anak-anak, ia menyatakan bahwa "risiko kesehatan tidak bisa diabaikan," meski sebagian besar pengukuran masih berada di bawah ambang batas yang dianggap berpotensi membahayakan.

MnHexP sendiri adalah metabolit yang dihasilkan tubuh setelah menyerap di-n-hexyl phthalate (DnHexP) melalui kulit, pernapasan, atau konsumsi. DnHexP telah diklasifikasikan oleh European Chemicals Agency sebagai "zat yang sangat berisiko" sejak 2013 karena sifatnya yang toksik bagi reproduksi. Zat ini dapat berdampak negatif pada kesuburan dan membahayakan janin.

Secara lebih luas, ftalat—sebagai salah satu kelompok plasticizer—dikenal sebagai pengganggu endokrin (endocrine disruptors). Artinya, ketika zat ini terlepas dari produk dan masuk ke dalam tubuh, ia dapat mengacaukan sistem hormon yang mengatur pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi. Beberapa penelitian mengaitkan paparan jangka panjang dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, serta gangguan sistem saraf dan pernapasan pada anak-anak. Temuan pada hewan uji juga menunjukkan pola risiko penyakit yang serupa.

Mencari Jalan Keluar: Alternatif dan Langkah Pencegahan

Menghadapi dilema ini, para peneliti terus menggali alternatif yang lebih aman. Plasticizer berbahan baku alami dari gandum, jagung, atau minyak biji-bijian mulai dikembangkan. Namun, jalan menuju adopsi massal masih panjang. Bahan alternatif ini sering kali belum seefektif plasticizer konvensional, harganya lebih mahal, dan risikonya—seperti iritasi kulit atau dampak lingkungan—masih perlu dikaji lebih mendalam.

Sementara solusi sempurna belum ditemukan, para ahli menekankan pentingnya langkah pencegahan dari sisi konsumen. Masyarakat disarankan untuk lebih cermat memilih produk, terutama untuk anak-anak, dengan memprioritaskan barang yang secara jelas diberi label "bebas ftalat". Beralih ke bahan alami seperti mainan kayu, wadah penyimpanan dari kaca, atau peralatan makan dari logam untuk kegiatan luar ruang juga dapat mengurangi paparan. Pada akhirnya, kesadaran akan bahan-bahan yang ada di sekitar kita dan dampaknya yang mungkin tersembunyi adalah langkah pertama yang krusial untuk melindungi kesehatan keluarga.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar