Pakar Psikiatri RSCM Paparkan Tanda Peringatan Kecanduan Judi Online

- Kamis, 12 Maret 2026 | 07:25 WIB
Pakar Psikiatri RSCM Paparkan Tanda Peringatan Kecanduan Judi Online

PARADAPOS.COM - Seorang pakar psikiatri adiksi memaparkan sejumlah tanda peringatan kecanduan judi online, yang ditandai dengan hilangnya kendali atas waktu, keuangan, dan prioritas hidup. Gejala ini, berdasarkan klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dapat berujung pada tindakan kriminal demi memenuhi hasrat berjudi yang tak terbendung.

Gejala Utama: Kehilangan Kendali dan Prioritas yang Tergeser

Dr. Kristiana Siste, dokter spesialis psikiatri subspesialis adiksi, menjelaskan bahwa inti dari kecanduan judi adalah hilangnya kendali secara total. Individu tidak lagi mampu mengatur waktu, menghentikan permainan meski uang telah habis, atau memprioritaskan hal lain dalam kehidupannya. Aktivitas lain, bahkan yang penting, seringkali dikesampingkan demi kesempatan untuk berjudi.

“Artinya tidak mengenal pagi, siang, sore dia sudah bermain judi. Tidak mengenal uangnya sudah habis, dia akan mati-matian untuk mencari uang buat bermain judi. Bahkan sampai ada tindakan kriminal, misalnya mencuri atau mengambil uang, barang orang lain,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa perilaku ini bisa sangat ekstrem, hingga menginterupsi aktivitas sehari-hari. “Ada yang sambil naik motor, terus dia minggir dulu untuk melihat website-nya, untuk bermain dulu sebentar terus melanjutkan perjalanan lagi,” tutur Kristiana yang juga menjabat sebagai Kepala Departemen Psikiatri RSCM Jakarta.

Eskalasi Perilaku dan Kecenderungan Menyendiri

Kecanduan, lanjutnya, cenderung bersifat progresif. Seseorang yang sudah terjerat akan terus meningkatkan intensitas bermain dan besaran taruhan, meskipun telah mengalami kerugian finansial yang nyata. Waktu yang dihabiskan bisa membengkak dari hanya beberapa jam menjadi hampir sepanjang hari, seringkali didorong oleh kepercayaan akan adanya "jam-jam hoki".

“Yang tadinya cuma tiga jam bermain judi, jadi sepanjang waktu, 18 jam bermain judi. Ada jam-jam gacor kan yang mereka tahu, itu jadi semakin meningkat perilakunya,” jelasnya.

Selain itu, terjadi perubahan pola sosial. Pecandu judi online lebih memilih untuk bermain sendiri di rumah ketimbang berinteraksi atau berjudi secara konvensional bersama orang lain. “Tidak lagi main bareng,” katanya singkat.

Mekanisme Otak di Balik Rasa Senang yang Menipu

Lantas, apa yang membuat judi online begitu memikat dan berpotensi adiktif? Dr. Kristiana memapaskan bahwa sensasi kemenangan memicu pelepasan dopamin, zat kimia otak yang berhubungan dengan rasa senang dan penghargaan, dalam kadar yang sangat tinggi.

Ia mencontohkan desain permainan slot online yang dirancang khusus untuk merangsang otak. “Slot itu kan ada warna-warni yang cerah, pecahan, suara gemericik koin, ada scatter-nya perkalian 2.000, 50.000. Jadi itu meningkatkan zat kimia di dalam otak kita namanya dopamin, ini membuat rasa senang yang berlebihan kalau dia dalam keadaan yang tinggi,” paparnya.

Meski aktivitas positif seperti olahraga juga melepaskan dopamin, lonjakannya tidak seintens dan setinggi saat berjudi atau melakukan perilaku berisiko lainnya. Lonjakan ekstrem inilah yang membentuk memori kuat di otak, mengaitkan aktivitas berjudi dengan perasaan bahagia yang luar biasa.

Ilusi Kendali dan Keyakinan Keliru

Dampak psikologis lainnya adalah munculnya "ilusi kendali". Kemenangan, sekecil apa pun, dapat menanamkan keyakinan keliru bahwa individu tersebut memiliki keahlian atau strategi khusus, padahal hasil perjudian sebagian besar bergantung pada peluang semata. Hal ini diperparah dengan persepsi bahwa judi adalah cara cepat dan mudah untuk mendapatkan uang.

“Menangnya enggak seberapa, tapi dia merasa 'aku tidak dalam keadaan jago, tidak punya skill aja bisa menang',” ujarnya.

Di akhir penjelasannya, Dr. Kristiana menekankan bahwa tidak semua pemain judi online akan menjadi pecandu. Namun, risikonya menjadi sangat tinggi ketika tiga faktor utama telah muncul: kehilangan kendali, menjadikan judi sebagai prioritas utama, dan terus bermain meski telah dirugikan.

“Tidak semua orang yang bermain judi online berakhir di kecanduan. Tapi, memang sangat berisiko tinggi mengalami kecanduan kalau sudah ada tiga hal tadi,” demikian ia menyimpulkan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar