PARADAPOS.COM - Guru Besar UIN Datokarama Palu, Prof. Zainal Abidin, menyerukan agar Idul Fitri 1447 H/2026 M dijadikan momentum untuk memperkuat toleransi dan persatuan dalam kebhinekaan. Pernyataan itu disampaikan pakar pemikiran Islam modern tersebut di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Minggu (23/3). Menurutnya, semangat kerukunan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, dimulai dari hal sederhana dalam kehidupan bertetangga.
Membangun Toleransi dari Hal Konkret
Prof. Zainal menekankan bahwa upaya menciptakan toleransi sosial harus dimulai dari langkah-langkah praktis. Memperbaiki hubungan dengan tetangga, misalnya dengan berbagi makanan secara ikhlas, merupakan fondasi penting yang dianjurkan secara universal oleh berbagai ajaran agama.
“Secara universal dianjurkan oleh ajaran agama-agama dunia. Nabi dan para sahabatnya memberi contoh yang begitu agung dan indah mengenai hal ini,” ungkapnya.
Menjaga Harmoni dengan Menghormati Batasan
Lebih lanjut, akademisi yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah itu menjelaskan bahwa hubungan antarumat beragama berada pada ranah sosial, bukan akidah. Setiap agama, termasuk Islam, memiliki batasan-batasan prinsipil yang harus dihormati untuk mencegah disharmoni.
“Islam punya prinsip yang jelas, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Soal kepercayaan adalah soal masing-masing dan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan di akhirat kelak,” tegas Prof. Zainal.
Oleh karena itu, tugas umat manusia adalah menjaga harmoni yang ada dan terus mengembangkan kerukunan di tengah dinamika sosial yang terus berubah. Menebar kebajikan kepada sesama, lanjutnya, merupakan wujud konkret dari keberagamaan yang sejati.
Kebhinekaan sebagai Sunnatullah
Prof. Zainal Abidin, yang juga Rais Syuriah PBNU, melihat keragaman sebagai sebuah keniscayaan dan bagian dari ketentuan Tuhan. Sikap saling menghormati dalam perbedaan, menurutnya, justru menjadi ciri seorang Muslim yang sejati.
“Bahkan merupakan sunnatullah dan bagian dari tanda-tanda Kemahakuasaan Tuhan. Bentuk kebhinekaan yang terlihat sangat jelas dan terkait langsung dengan manusia di muka bumi adalah kebhinekaan dalam pikiran, budaya, bahasa, ras, etnis, suku, bangsa, warna kulit, adat istiadat, agama, kecenderungan politik, dan sebagainya,” paparnya dengan mendalam.
Merayakan Keragaman untuk Mencari Rahmat
Di akhir pandangannya, Prof. Zainal mengajak semua pihak untuk merangkul perbedaan dengan lapang dada. Baginya, keragaman dalam cara beribadah, menyebut nama Tuhan, atau melukiskan kemuliaan-Nya justru merupakan kekayaan yang patut disyukuri.
“Biarlah semua tumbuh dengan subur, karena yang kita cari sesungguhnya adalah rahmat Tuhan,” tuturnya menutup pernyataan.
Artikel Terkait
KAI Prediksi Puncak Arus Balik ke Jakarta pada 24 Maret 2026
Inter Milan Hadapi Ujian di Firenze Usai Dua Laga Tanpa Kemenangan
Siswa Makassar Terima Rumah Layak Huni Usai Kisahnya Sentuh Presiden Prabowo
Eddy Soeparno Dukung Arahan Prabowo Percepat Transisi Energi