Geopolitik Timur Tengah Picu Koreksi Bitcoin dan Aset Kripto

- Senin, 23 Maret 2026 | 00:25 WIB
Geopolitik Timur Tengah Picu Koreksi Bitcoin dan Aset Kripto

PARADAPOS.COM - Pasar aset kripto kembali mengalami tekanan signifikan menyusul eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bitcoin dan mata uang digital utama lainnya tercatat merosot pada akhir pekan lalu, seiring dengan laporan serangan balasan antara AS, Israel, dan Iran. Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan yang telah berlangsung sejak konflik bersenjata dimulai akhir Februari 2026, sekaligus mempertanyakan narasi bitcoin sebagai safe haven atau aset penyimpan nilai di tengah gejolak.

Tekanan Geopolitik Picu Aksi Jual

Data perdagangan Minggu (22/3/2026) menunjukkan betapa rapuhnya sentimen pasar kripto terhadap berita panas dari zona konflik. Harga bitcoin anjlok 3,3 persen ke level sekitar US$68.150, posisi terendah dalam beberapa pekan terakhir. Pelemahan justru lebih dalam terjadi pada altcoin atau kripto alternatif. Ether, misalnya, terpangkas 5 persen ke area US$2.050, diikuti oleh penurunan pada aset digital seperti Solana, XRP, dan Cardano. Secara keseluruhan, bitcoin telah kehilangan hampir 20 persen nilainya sejak awal perang, sebuah koreksi yang cukup menggigit bagi para investor.

Analisis di Balik Koreksi Kripto

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Penurunan ini tidak hanya sekadar reaksi terhadap berita perang. Menurut analis, ada faktor-faktor struktural dan teknis yang turut berperan. Peter Tchir, Kepala Strategi Makro di Academy Securities, melihat bahwa bitcoin saat ini terjebak dalam gelombang jual aset berisiko secara luas, yang juga menekan pasar saham. Selain itu, kenaikan harga energi global turut membebani industri penambangan kripto yang notabene sangat boros listrik.

Peter Tchir juga memberikan pandangan kritis mengenai ekspektasi berlebihan di komunitas kripto. "Sebagian besar kenaikan baru-baru ini menurut saya tampaknya merupakan taruhan pada legislasi, yang mungkin semakin sulit untuk disahkan. Akhir-akhir ini, legislasi baru belum menyebabkan mania pembelian dari para pemula yang tampaknya diharapkan oleh komunitas kripto," ungkapnya.

Pasar 24 Jam Jadi Sinyal Awal

Satu hal yang menonjol dari kejadian ini adalah peran pasar kripto yang beroperasi non-stop sebagai barometer awal bagi trader. Ketika bursa tradisional tutup pada akhir pekan, aktivitas perdagangan di platform kripto tetap berjalan dan memberikan gambaran awal mengenai sentimen risiko. Pada Minggu sore waktu New York, misalnya, kontrak derivatif terkait minyak di bursa kripto Hyperliquid sudah melonjak lebih dari 4 persen, mengisyaratkan kenaikan harga minyak mentah. Sementara itu, kontrak yang terkait dengan indeks saham AS seperti Nasdaq 100 dan S&P 500 sudah lebih dulu menunjukkan penurunan lebih dari 1 persen.

Mengganggu Momentum Pemulihan

Gelombang jual terbaru ini datang di saat yang kurang tepat bagi pasar kripto yang sebenarnya sedang berusaha bangkit dari keterpurukan panjang. Sejak mencapai puncaknya di atas US$120.000 pada awal Oktober tahun lalu, bitcoin telah mengalami koreksi yang dalam. Reli pemulihan yang sempat muncul akhir-akhir ini ternyata belum cukup kuat untuk mengembalikan kepercayaan investor secara penuh. Es kalasi konflik Timur Tengah seperti menyiram air dingin pada momentum tersebut, mengingatkan semua pihak bahwa jalan menuju pemulihan total masih panjang dan dipenuhi ketidakpastian, baik dari sisi regulasi maupun geopolitik.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar