Harga BBM Tetap Stabil di Arus Balik Lebaran Meski Gejolak Minyak Dunia

- Senin, 23 Maret 2026 | 03:00 WIB
Harga BBM Tetap Stabil di Arus Balik Lebaran Meski Gejolak Minyak Dunia

PARADAPOS.COM - Harga berbagai jenis bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) besar di Indonesia tetap stabil memasuki periode arus balik Lebaran 2026, meskipun terjadi gejolak harga minyak dunia pasca-konflik di Timur Tengah. Kestabilan harga ini terjadi di tengah imbauan pemerintah kepada masyarakat untuk menghindari puncak arus balik guna mengurangi kepadatan lalu lintas dan konsumsi energi.

Stabilitas Harga di Tengah Gejolak Global

Berdasarkan pantauan, harga BBM non-subsidi di SPBU milik Pertamina, Shell, BP, dan Vivo tidak mengalami perubahan sejak awal Maret lalu. Situasi ini menarik perhatian mengingat harga minyak mentah dunia sempat melonjak setelah pecahnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Lonjakan tersebut telah memicu penyesuaian harga di sejumlah negara tetangga seperti Singapura, Filipina, Malaysia, dan Thailand.

Di Jakarta, harga BBM Pertamina untuk sejumlah produk andalannya tercatat tetap. Pertalite dijual Rp 10.000 per liter, sementara Solar subsidi dihargai Rp 6.800. Untuk produk non-subsidi, Pertamax tetap Rp 12.300, Pertamax Turbo Rp 13.100, dan Pertamax Green Rp 12.900. Sementara itu, harga Dexlite dan Pertamina Dex masing-masing bertahan di level Rp 14.200 dan Rp 14.500 per liter.

Kondisi Serupa di SPBU Lainnya

Stabilitas serupa juga terpantau di jaringan SPBU lainnya. Di SPBU Shell, harga Shell Super dan V-Power Diesel tetap, meski sempat ada laporan terkait kelangkaan stok di beberapa lokasi. Begitu pula dengan harga di SPBU BP untuk produk BP Ultimate, BP 92, dan BP Ultimate Diesel yang tidak berubah sejak awal bulan. Di SPBU Vivo, harga Revvo 92, Revvo 95, dan Diesel Primus juga menunjukkan tren yang sama tanpa adanya penyesuaian.

Kajian Penghematan Energi dan Imbauan Pemerintah

Menyikapi gejolak harga minyak global, pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku sedang mengkaji berbagai langkah untuk menekan konsumsi BBM. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penerapan kerja dari rumah atau WFH.

Bahlil menegaskan bahwa kajian ini masih berlangsung, namun semua kemungkinan tetap terbuka demi tujuan penghematan.

“Sedang dikaji, tentang apakah kita membutuhkan WFH. Tetapi menurut saya, semua kemungkinan itu bisa terjadi. Yang penting adalah penghematan terhadap BBM,” ungkapnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3).

Meski demikian, dia meyakinkan publik bahwa ketersediaan BBM, LPG, dan batu bara untuk pembangkit listrik dalam kondisi aman hingga periode Lebaran, dengan stok yang masih memadai sesuai standar.

Antisipasi Puncak Arus Balik

Di sisi lain, pemerintah juga aktif mengimbau masyarakat untuk menyebar waktu perjalanan arus balik guna menghindari kepadatan ekstrem. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyarankan pemudik memanfaatkan masa work from anywhere (WFA) dan cuti bersama untuk kembali ke Jakarta dan sekitarnya lebih awal atau di luar hari puncak.

“Kami imbau masyarakat dapat kembali ke Jabotabek pada 23 Maret dengan memanfaatkan cuti bersama, atau pada periode 25-27 Maret dengan memanfaatkan masa Work From Anywhere yang diimbau pemerintah,” tutur Dudy dalam keterangan pers, Senin (23/3).

Prediksi puncak arus balik, berdasarkan data dari kepolisian dan pengelola jalan tol, diperkirakan terjadi dalam tiga gelombang pada 24, 28, dan 29 Maret. Kapasitas jalan diperkirakan akan mendapat tekanan tertinggi pada tanggal-tanggal tersebut.

Situasi Lalu Lintas yang Terpantau Terkendali

Hingga laporan ini dibuat, kondisi lalu lintas secara nasional selama operasi mudik dan awal arus balik masih dilaporkan terkendali. Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Irjen Pol Agus Suryonugroho, menyatakan bahwa meski terjadi peningkatan volume kendaraan yang signifikan, khususnya di kawasan aglomerasi seperti Semarang Raya hingga Jabodetabek serta sejumlah destinasi wisata, situasi secara keseluruhan masih dapat dikelola dengan baik.

“Pada Operasi Ketupat hari ke-9 atau dua hari setelah Lebaran, kondisi arus lalu lintas masih cukup terkendali. Terdapat peningkatan arus sesuai prediksi dan hasil pemantauan teknologi. Pergerakan aglomerasi terpantau cukup padat, namun masih dapat dikelola dengan baik,” jelas Agus.

Dengan stabilitas harga BBM yang terjaga dan situasi lalu lintas yang masih terkendali, pemerintah terus mendorong perencanaan perjalanan yang bijak dari masyarakat untuk memastikan arus balik berlangsung aman dan lancar.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar