PARADAPOS.COM - Harga emas dunia mencatat reli pada perdagangan Selasa (31/3/2026), namun tidak cukup untuk menutup penurunan tajam yang terjadi sepanjang bulan Maret. Logam mulia ini justru mencatatkan kinerja bulanan terburuk dalam lebih dari 17 tahun terakhir, didorong oleh kekhawatiran inflasi yang memicu ekspektasi suku bunga tinggi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Reli Singkat di Tengah Tren Penurunan Bulanan
Pada penutupan pasar Selasa, harga emas spot berhasil menguat signifikan sebesar 3,46 persen ke level USD 4.667,07 per troy ons. Kenaikan ini membawa harga ke posisi tertinggi sejak pertengahan Maret. Namun, sorotan utama justru ada pada performa bulanannya. Secara akumulatif, emas tercatat merosot sekitar 12 persen sepanjang Maret 2026.
Analis dari Commerzbank, Carsten Fritsch, memberikan konteks historis terhadap pelemahan ini. "Harga emas berada di jalur penurunan bulanan terdalam sejak Oktober 2008," ungkapnya, merujuk pada periode krisis keuangan global.
Tekanan dari Dolar dan Ekspektasi Suku Bunga
Meski sempat melemah pada hari itu, dolar AS secara keseluruhan masih menunjukkan kekuatan dalam perjalanan bulanannya. Mata uang yang kuat cenderung membebani aset berdenominasi dolar seperti emas, karena harganya menjadi lebih mahal bagi investor dengan mata uang lain. Tekanan utama, bagaimanapun, berasal dari sentimen pasar atas kebijakan moneter. Lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik memicu kekhawatiran inflasi yang berlarut, yang pada gilirannya mendorong spekulasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Lingkungan suku bunga tinggi merupakan tantangan bagi emas, aset yang tidak memberikan imbal hasil (yield).
Optimisme Hati-hati dari Pasar
Di tengah tekanan tersebut, muncul sedikit angin segar dari perkembangan geopolitik. Laporan dari The Wall Street Journal yang mengutip pejabat pemerintah AS menyebutkan kesediaan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri kampanye militer terhadap Iran, meskipun situasi di Selat Hormuz masih tegang. Kabar ini memberikan ruang bagi optimisme pasar.
Peter Grant, Wakil Presiden dan Senior Metals Strategist di Zaner Metals, menyikapi reli ini dengan kehati-hatian. "Reli emas saat ini cukup menggembirakan karena ada peningkatan optimisme terhadap deeskalasi di Timur Tengah. Namun, saya masih perlu melihat kenaikan lanjutan agar ini bisa menjadi pola kelanjutan tren," jelasnya.
Grant tetap melihat prospek jangka panjang yang positif untuk logam kuning. Ia menambahkan, "Dalam jangka panjang, tren dasarnya tetap bullish, dan faktor fundamental utama seperti dedolarisasi serta pembelian bank sentral masih tetap mendukung."
Proyeksi Harga dan Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Di tengah volatilitas pasar, lembaga analis mempertahankan pandangannya. BMI, misalnya, mempertahankan proyeksi harga emas rata-rata tahun 2026 di level USD 4.600 per ons. Sementara itu, Goldman Sachs tetap optimis dengan target harga mencapai USD 5.400 pada akhir tahun yang sama.
Pergerakan serupa juga terlihat di logam mulia lainnya. Perak melonjak 6,7 persen menjadi USD 74,64, meski masih terpuruk 20,4 persen untuk bulan Maret. Analis BNP Paribas memperkirakan perak akan bergerak dalam kisaran USD 65-75 sepanjang 2026. Platinum dan palladium juga menguat masing-masing 3,1 persen dan 5,2 persen, meski keduanya tetap mencatatkan penurunan bulanan secara keseluruhan.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Dikritik Langgar Prosedur Bebaskan Tahanan di Rutan Tanjung Gusta
Harga Minyak Anjlok Usai Presiden Iran Sebar Sinyal Diplomasi
Organisasi Sipil Laporkan Penanganan Kasus Penyiraman Aktivis KontraS ke Komisi III DPR
Presiden Prabowo Tiba di Seoul, Disambut Upacara Militer Penuh Kehormatan