PARADAPOS.COM - Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran, Iran, telah memasuki minggu kelima, dengan intensitas yang meningkat dalam 24 jam terakhir. Pada Jumat, 3 April 2026, serangan yang berpusat di jantung ibu kota pada malam hingga dini hari ini dilaporkan juga menyasar kawasan permukiman pejabat tinggi negara, menandai eskalasi konflik yang semakin mengkhawatirkan.
Serangan Mematikan ke Kediaman Mantan Menlu
Dari lapangan, koresponden Agiel Laksamana Putra melaporkan salah satu serangan paling berdampak terjadi pada 1 April 2026. Sasaran serangan adalah kediaman mantan Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharazi. Insiden tragis ini mengakibatkan istri sang diplomat tewas di tempat.
“Saat ini, Kamal Kharazi dilaporkan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit dalam proses pemulihan,” jelasnya dari Teheran.
Posisi Strategis Sang Target
Pemilihan target ini dinilai tidak sembarangan. Analisis dari pengamat hubungan internasional menunjukkan Kamal Kharazi bukanlah figur biasa. Ia berperan sebagai penasihat utama Pimpinan Tertinggi Iran dan memiliki jejak panjang dalam diplomasi global. Kharazi dikenal aktif dalam berbagai negosiasi internasional untuk menghentikan agresi militer dan diyakini masih memiliki pengaruh signifikan terhadap arah kebijakan luar negeri Teheran.
Kehidupan Warga di Tengah Ketegangan
Meski malam-malam diwarnai sirene dan ledakan, suasana di Teheran pada siang hari menunjukkan gambaran yang kontras. Denyut kehidupan sosial dan ekonomi warga dilaporkan tetap berjalan, menunjukkan ketahanan masyarakat di tengah tekanan konflik yang berkepanjangan. Toko-toko dan aktivitas publik masih terlihat, meski dengan nuansa kehati-hatian yang terasa.
Peringatan Balasan dari Teheran
Pemerintah Iran telah menyuarakan kecaman keras atas serangan yang menargetkan kawasan sipil dan permukiman pejabat ini. Peringatan balasan disampaikan dengan nada tegas. Teheran menegaskan akan membalas setiap agresi dengan cara-cara asimetris.
“Setiap agresi akan dibalas secara asimetris ke pangkalan udara, instalasi militer, hingga titik strategis milik Amerika Serikat di kawasan serta wilayah Zionis Israel,” ungkap pihak berwenang Iran.
Lebih lanjut ditegaskan bahwa serangan balasan tidak akan dihentikan sebelum Amerika Serikat dan Israel mengakhiri seluruh aktivitas militer mereka di wilayah yang diklaim sebagai kedaulatan Iran. Pernyataan ini mengindikasikan potensi konflik yang lebih panjang dan meluas, dengan risiko yang sulit diprediksi.
Artikel Terkait
Lebih dari 640 Ribu Pengungsi Lebanon Mulai Kembali ke Rumah Usai Gencatan Senjata Hizbullah-Israel
Mesir ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Australia Lewat Adu Penalti
Said Iqbal Desak Disnaker DKI Pastikan Status Perusahaan Percetakan di Senen yang Aniaya dan Sekap Karyawan
Gelombang Panas Ekstrem Prancis Picu Lonjakan Kematian Hingga 29 Persen, Lansia Paling Terdampak