IHSG Diproyeksikan Lanjutkan Tekanan, Analis Siapkan Dua Skenario

- Selasa, 07 April 2026 | 00:00 WIB
IHSG Diproyeksikan Lanjutkan Tekanan, Analis Siapkan Dua Skenario

PARADAPOS.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan tekanan pada perdagangan Selasa, 7 April, menyusul penutupan melemah di level 6.989 sehari sebelumnya. Analis pasar memproyeksikan dua skenario utama: pergerakan indeks berpotensi melanjutkan koreksi atau justru memulai pemulihan, dengan sentimen global terkait geopolitik Timur Tengah dan faktor domestik menjadi penentu arah.

Proyeksi Teknis dan Level Kunci IHSG

Pergerakan IHSG pagi ini masih berada dalam bayang-bayang tekanan jual yang dominan. Herditya Wicaksana, analis dari MNC Sekuritas, menilai tren indeks masih menunjukkan kelemahan, dengan potensi untuk melanjutkan penurunan menuju kisaran 6.745–6.849. Namun, di sisi lain, terdapat pula peluang bahwa fase koreksi telah berakhir, yang dapat membuka jalan bagi penguatan menuju level 7.323–7.450.

Dalam risetnya yang dirilis Selasa pagi, Herditya memberikan panduan level teknis yang penting untuk diperhatikan para pelaku pasar.

"MNC Sekuritas menetapkan support IHSG berada di 6.917 dan 6.846. Sementara resistance terdekat berada di 7.207 dan 7.302," tulisnya.

Sebagai catatan, level support umumnya dianggap sebagai area harga yang mampu menahan penurunan lebih dalam, sementara resistance adalah level yang kerap menghambat kenaikan lebih lanjut.

Rekomendasi Saham Pilihan

Menyikapi kondisi pasar yang bergejolak, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness atau akumulasi pembelian saat harga melemah untuk sejumlah emiten. Rekomendasi ini dilengkapi dengan target harga dan level stoploss sebagai batas proteksi kerugian.

Untuk PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), akumulasi beli disarankan di rentang Rp 26.250–Rp 26.650 dengan target Rp 28.550–Rp 29.750 dan stoploss di bawah Rp 26.000. Sementara itu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) direkomendasikan untuk dibeli di area Rp 1.160–Rp 1.255, menargetkan kenaikan ke Rp 1.610–Rp 1.890, dengan stoploss di level Rp 1.080.

Sentimen Global dan Domestik yang Membebani

Di luar analisis teknikal, tekanan terhadap IHSG juga datang dari berbagai sentimen. Phintraco Sekuritas menilai pelemahan indeks pada Senin kemarin turut dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak mentah. Ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran dan penolakan Tehran atas ultimatum tersebut menciptakan ketidakpastian di pasar global.

Analis Phintraco menggambarkan situasi yang serba tidak pasti di kalangan investor internasional.

“Investor global berada pada posisi yang tidak menentu di antara mengharapkan adanya kesepakatan yang mengakhiri perang dan eskalasi signifikan yang membuat harga minyak mentah terus menguat,” ungkap mereka dalam laporannya.

Faktor domestik turut menambah beban. Pengumuman daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi per Maret 2026 direspons negatif oleh pasar, terlebih beberapa di antaranya adalah saham berkapitalisasi besar. Kekhawatiran akan potensi pengeluaran saham-saham tersebut dari indeks MSCI dalam rebalancing Mei 2026 ikut mempengaruhi sentimen jangka pendek, meski dalam jangka panjang kondisi ini dinilai dapat meningkatkan transparansi.

Kondisi Pasar dan Rekomendasi Lainnya

Melemahnya Rupiah ke level Rp 17.035 per dolar AS turut memberi warna pada perdagangan Senin. Dari sisi sektoral, saham infrastruktur mengalami koreksi terdalam, sementara sektor cyclicals justru mencatat kenaikan. Secara teknikal, Phintraco memperkirakan IHSG masih akan menguji level support di sekitar 6.900.

Merespons kondisi tersebut, Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi beli terhadap lima saham, yaitu PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar