PARADAPOS.COM - Seruan pengamat politik Saiful Mujani agar Presiden Prabowo Subianto mengundurkan diri dari jabatannya tampaknya tidak dianggap sebagai agenda mendesak oleh pemerintah. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan pihak Istana tidak memberi perhatian khusus terhadap pernyataan tersebut, sembari menegaskan fokus pemerintahan saat ini tertuju pada agenda-agenda strategis kenegaraan yang lebih besar.
Tanggapan Ringan dari Istana
Ditanya mengenai seruan yang dilontarkan Saiful Mujani, Teddy Indra Wijaya memberikan respons yang terkesan santai dan tidak ingin terlibat lebih jauh. Ia mengaku belum mengecek pernyataan lengkap sang pengamat karena kesibukan kerja yang menumpuk.
"Wah, saya masih banyak sekali kerjaan. Saya belum lihat beliau bicara apa. Itu kira-kira," tuturnya saat ditemui di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, 7 April 2026.
Fokus pada Agenda Strategis
Pernyataan serupa ia sampaikan ketika menanggapi kritik Saiful Mujani di media sosial yang menyebut sejumlah program pemerintah sebagai praktik 'gentong babi' atau pork barrel politics. Dari kompleks Istana, Teddy menegaskan bahwa Presiden Prabowo saat ini disibukkan oleh hal-hal yang dianggap lebih prioritas dan memerlukan konsentrasi penuh.
"Bapak Presiden ngurusin hal besar, lagi fokus dengan hal-hal yang lebih strategis," tegas Sekretaris Kabinet itu, menggarisbawahi betapa agenda pemerintah tidak terganggu oleh opini yang berkembang di luar.
Latar Belakang Seruan Saiful Mujani
Seruan untuk menjatuhkan Presiden Prabowo ini bukan muncul tanpa konteks. Saiful Mujani sebelumnya telah menyampaikan pandangannya dalam sebuah forum Halal Bihalal di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, pada akhir Maret lalu. Dalam kesempatan itu, ia mendorong konsolidasi masyarakat sipil hingga aksi massa sebagai jalan untuk menekan pemerintahan.
Argumennya berangkat dari penilaian bahwa jalur formal seperti pemakzulan sulit ditempuh mengingat kuatnya dukungan politik pemerintah di parlemen. Oleh karena itu, tekanan dari publik dinilainya sebagai alternatif yang tersisa. Video pernyataannya kemudian viral dan memicu berbagai diskusi.
"Yang jalan hanya ini. Bisa nggak kita mengkonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo. Hanya itu, kalau nasihati Prabowo nggak bisa juga. Bisanya hanya dijatuhkan. Itulah menyelamatkan, bukan menyelamatkan Prabowo tapi menyelamatkan diri kita dan bangsa ini," ungkap Mujani dalam rekaman yang beredar luas.
Dengan nada yang berbeda, respons resmi dari Istana justru mengalihkan percakapan dari konten kritik menuju narasi kesibukan dan prioritas kerja pemerintah, menunjukkan jarak yang cukup jelas antara dinamika politik di lapangan dengan agenda yang dijalankan di pusat kekuasaan.
Artikel Terkait
Guru Sekolah Rakyat Bekasi Cerita Perjuangan Siswa Miskin yang Belajar di Tengah Keterbatasan
Presiden Prabowo Panggil Mantan Gubernur BI dan Tokoh Ekonomi Senior Bahas Antisipasi Krisis Global
Polisi Tak Buru-buru Jerat Model Ansy dengan Pidana Meski Laporan Begal Terbukti Hoaks
Anthony Leong Tegaskan Inovasi Kunci Kedaulatan Ekonomi, Luncurkan Buku ‘Melaju Bersama untuk Indonesia Raya’