ITS Surabaya Kembangkan Bensin Sawit sebagai Alternatif Energi Nasional

- Jumat, 10 April 2026 | 14:50 WIB
ITS Surabaya Kembangkan Bensin Sawit sebagai Alternatif Energi Nasional

PARADAPOS.COM - Dalam upaya mencari solusi atas krisis energi global dan ketergantungan pada bahan bakar fosil, tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil mengembangkan inovasi bensin sawit atau biogasoline. Terobosan yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) ini diharapkan dapat menjadi energi alternatif nasional yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Potensi Strategis untuk Kemandirian Energi

Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST., MScEng., PhD., menilai inovasi yang dinamai Benwit ini sebagai langkah strategis. Menurutnya, momentum ini tepat untuk mendiversifikasi sumber energi, terlebih di tengah gejolak geopolitik yang kerap mempengaruhi pasokan bahan bakar minyak konvensional.

"Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini," tuturnya.

Proses Inovatif dari Minyak Mentah ke Bensin

Dr. Eng. Hosta Ardhyananta, dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS yang memimpin riset, menjelaskan bahwa biogasoline dikembangkan dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Metode kunci yang digunakan adalah catalytic cracking, sebuah proses pemecahan molekul panjang menjadi rantai pendek dengan bantuan katalis.

"Bersama tim, kami mengembangkan bensin nabati atau biogasoline berbahan dasar crude palm oil (CPO). Prosesnya menggunakan metode catalytic cracking, yaitu pemecahan molekul dengan bantuan katalis," ungkap Hosta.

Fokus utama timnya adalah meningkatkan efisiensi konversi dan meminimalkan residu. "Fokus kami adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi biogasoline yang siap digunakan," jelasnya.

Penyempurnaan Katalis untuk Efisiensi Lebih Tinggi

Perjalanan riset ini mengalami perkembangan signifikan. Pada fase awal, penggunaan katalis berbasis alumina menghasilkan biogasoline sekitar 60 persen, namun memerlukan suhu operasi yang sangat tinggi, mencapai 420 derajat Celsius.

Terobosan terjadi ketika tim beralih ke katalis bimetalik berbasis nikel oksida dan tembaga oksida. Perubahan ini membawa tiga keuntungan sekaligus: efisiensi reaksi meningkat, suhu operasi turun drastis menjadi 380 derajat Celsius, dan rendemen produksi melonjak hingga 30 persen.

"Produk yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek C5 hingga C11, yang merupakan komponen utama bensin komersial," tambah Hosta Ardhyananta, yang memiliki keahlian di bidang polimer dan nanomaterial.

Prinsip Berkelanjutan dan Pemanfaatan Sampingan

Inovasi ini tidak hanya berfokus pada produk utama. Gas hasil samping proses dimanfaatkan kembali untuk memanaskan reaktor, menciptakan sistem yang lebih efisien. Sementara itu, residu cair yang dihasilkan memiliki karakteristik menyerupai minyak dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif lainnya.

Yang tak kalah penting, penelitian ini telah mengintegrasikan analisis Life Cycle Assessment (LCA) untuk menilai dampak lingkungan secara menyeluruh. Hasil analisis menunjukkan bahwa biogasoline sawit memiliki jejak karbon yang rendah, selaras dengan prinsip energi bersih dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam penyediaan energi yang terjangkau dan berkelanjutan.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar