PARADAPOS.COM - Presiden kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, menerima kunjungan sejumlah duta besar negara sahabat di kediamannya. Pertemuan-pertemuan ini, menurut Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, membahas dinamika geopolitik global dan hubungan bilateral, menegaskan posisi Megawati sebagai figur yang dianggap sebagai sumber sejarah primer bangsa.
Keterbukaan dan Kapasitas Sebagai Tokoh Kunci
Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa Megawati terbuka untuk berdialog dengan perwakilan diplomatik negara lain. Dalam kapasitasnya sebagai mantan presiden dan putri Proklamator, Megawati dipandang memiliki otoritas untuk berbicara mengenai sejarah perjuangan Indonesia serta tantangan kepemimpinan di tingkat global.
Secara khusus, Hasto menegaskan, "Ibu Mega kan menjadi sumber primer terkait sejarah Indonesia, terkait dengan Bung Karno, perjuangan Bung Karno, dan juga kepemimpinan Ibu Mega sebagai Presiden kelima. Sehingga Ibu Mega terbuka untuk menerima kunjungan para duta besar dari negara-negara sahabat."
Sikap Atas Isu Global dan Daftar Kunjungan
Lebih dari sekadar pertemuan seremonial, Hasto menyebutkan bahwa Megawati aktif menyikapi berbagai peristiwa dunia. Ia mencontohkan sikap Megawati yang mengirimkan surat duka cita maupun ucapan selamat terkait perkembangan politik di Iran, menunjukkan perhatiannya yang mendalam terhadap isu internasional.
"Dan kemudian ketika melihat ketidakadilan, maka Ibu Mega juga bersikap. Maka Ibu Mega mengirimkan surat duka atas wafatnya Supreme Leader Iran, Ayatullah Khamenei, dan juga mengucapkan selamat ketika pemimpin tertinggi Iran berhasil dibentuk kembali. Ya, itulah yang dilakukan oleh Ibu Mega," tutur Hasto.
Kunjungan para duta besar tersebut, lanjutnya, datang secara bergantian. "Demikian pula Duta Besar dari Pakistan, kemarin Duta Besar dari Jerman, dan kemudian juga nanti telah menunggu Duta Besar dari Inggris, dari Australia, dan dari Vietnam," imbuhnya. Inti dari seluruh komunikasi ini adalah memperkuat hubungan bilateral dan membahas relevansi tantangan geopolitik masa kini.
Pertemuan Mendalam dengan Dubes Jerman
Sebelumnya, pada Jumat (17/4/2026), Megawati memang telah menerima kunjungan Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta. Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu juga dihadiri oleh sejumlah pimpinan PDIP dan intelektual.
Menurut Hasto, pembicaraan berfokus pada situasi geopolitik terkini, termasuk ketegangan di Timur Tengah, serta menyambut peringatan ke-71 Konferensi Asia Afrika (KAA). Saat disambut, Dubes Ralf berbagi pengalamannya baru saja mengunjungi Bandung dan Museum KAA untuk lebih memahami Indonesia.
"Saya berkeliling untuk lebih mengenal Indonesia. Saya baru saja ke Bandung dan mengunjungi Museum KAA," kata Dubes Ralf dalam pertemuan tersebut.
Hasto menambahkan bahwa diplomat Jerman itu menyatakan kekagumannya pada peran Bung Karno. "Tergores sejarah kepeloporan Bung Karno dalam KAA tersebut. Menurut Dubes Jerman, pemikiran dan spirit KAA masih relevan," jelas Hasto, menutup penjelasannya mengenai serangkaian pertemuan diplomatik yang dipimpin oleh Megawati tersebut.
Artikel Terkait
India Protes Iran Usai Dua Kapal Dagangnya Ditembak di Selat Hormuz
Bayer Leverkusen dan Borussia Dortmund Tumbang di Pekan Kejutan Bundesliga
Jadwal Salat 19 April 2026 untuk DKI Jakarta Dirilis
Anggota DPRD DKI Desak Penertiban Tegas Parkir Liar di POIN Square