PARADAPOS.COM - Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS, Sukamta, mendesak evaluasi menyeluruh atas mekanisme perlindungan pasukan perdamaian PBB di Lebanon. Desakan ini muncul menyusul gugurnya Praka Rico Pramudia, prajurit TNI yang menjadi korban serangan rudal ke markas UNIFIL. Peristiwa yang terjadi pada 29 Maret lalu itu menambah daftar panjang korban dari Indonesia, menjadikan total empat prajurit yang gugur dalam misi penjaga perdamaian di Lebanon. Sukamta menegaskan bahwa serangan terhadap markas UNIFIL merupakan eskalasi serius yang memerlukan respons tegas dari komunitas internasional.
Serangan di Markas UNIFIL: Eskalasi yang Mengkhawatirkan
Menurut Sukamta, insiden yang menimpa Praka Rico bukanlah sekadar kecelakaan lapangan. Ia menilai, serangan yang menyasar langsung posko pasukan perdamaian menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam dinamika konflik di Lebanon. Situasi keamanan yang memburuk ini, ujarnya, menempatkan personel UNIFIL dalam risiko yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. “Serangan yang terjadi di wilayah operasi UNIFIL menunjukkan bahwa situasi di lapangan telah mengalami eskalasi signifikan, sehingga menempatkan pasukan penjaga perdamaian dalam risiko yang semakin tinggi,” kata Sukamta melalui layanan pesan, Jumat (24/4).
Praka Rico sendiri gugur setelah menjalani perawatan intensif di Lebanon. Ia menjadi korban ledakan peluru kendali yang menghantam markas UNIFIL pada Rabu, 29 Maret lalu. Peristiwa ini memicu keprihatinan luas di Tanah Air, khususnya di kalangan anggota dewan yang membidangi pertahanan dan luar negeri.
Desakan Investigasi Transparan dan Perlindungan Pasukan
Lebih lanjut, Sukamta mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengevaluasi mekanisme perlindungan bagi pasukan UNIFIL. Evaluasi ini, menurutnya, harus disesuaikan dengan realitas ancaman terkini di lapangan yang semakin kompleks. “Selain itu, diperlukan langkah investigasi yang transparan dan akuntabel atas insiden ini, guna memastikan adanya kejelasan dan pertanggungjawaban,” ujar Sukamta.
Politisi yang meraih gelar doktor dari Universitas Salford, Inggris Raya itu juga mendorong pemerintah Indonesia untuk melakukan peninjauan komprehensif. Fokusnya adalah pada aspek keamanan dan pola penugasan prajurit TNI di luar negeri. “Tanpa mengurangi komitmen Indonesia sebagai kontributor aktif dalam menjaga stabilitas global,” ujar Wakil Ketua Bidang Polhukam Fraksi PKS itu.
Pengorbanan yang Tidak Boleh Sia-sia
Di tengah duka yang mendalam, Sukamta menekankan pentingnya sistem yang kuat untuk melindungi para personel perdamaian. Ia menegaskan bahwa misi kemanusiaan tidak boleh dibayar dengan pengorbanan yang sia-sia. “Setiap prajurit yang gugur harus menjadi pengingat bahwa upaya menjaga perdamaian memerlukan sistem yang kuat, perlindungan yang memadai, dan komitmen bersama dari seluruh komunitas internasional,” ujar Sukamta.
Ia pun menyampaikan dukacita yang tulus atas gugurnya Praka Rico, yang disebutnya sebagai prajurit terbaik TNI. “Pengorbanan ini adalah bentuk nyata komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia, sebagaimana amanat konstitusi,” kata peraih gelar sarjana teknik kimia dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.
Empat Prajurit TNI Gugur di Lebanon
Gugurnya Praka Rico menambah duka bagi bangsa Indonesia. Dengan kepergiannya, total prajurit TNI yang tewas dalam misi perdamaian di Lebanon kini menjadi empat orang. Sebelumnya, tiga prajurit lain yang gugur adalah Mayor Infanteri Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan risiko tinggi yang dihadapi personel TNI di medan konflik global.
Artikel Terkait
GAMKI Tegaskan Proses Hukum terhadap Jusuf Kalla Tetap Berlanjut Meski Klarifikasi Dihormati
Arema FC Tahan Imbang Persib Bandung, Jadi Satu-Satunya Tim yang Curi Poin di Kandang Maung Bandung
Bupati Bulungan Raih Penghargaan Nasional Akselerasi Ekonomi Hijau di Metro TV Awards 2026
Gunung Semeru Erupsi Jumat Malam, Luncurkan Awan Panas Sejauh 4,5 Kilometer