PARADAPOS.COM - Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis (24/4) waktu setempat, tertekan oleh aksi jual besar-besaran di saham sektor perangkat lunak dan eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Indeks S&P 500 turun 0,41% ke level 7.108,40, sementara Nasdaq Composite merosot lebih dalam hingga 0,89% ke posisi 24.438,50. Dow Jones Industrial Average juga ikut terkoreksi 179,71 poin atau 0,36% menjadi 49.310,32. Kombinasi laporan keuangan yang mengecewakan dari raksasa teknologi dan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak akibat konflik di Selat Hormuz menjadi biang kerok utama pelemahan ini.
Tekanan Berat dari Sektor Perangkat Lunak
Saham-saham teknologi, khususnya di sub-sektor perangkat lunak, menjadi pemberat utama indeks. IBM menjadi salah satu yang paling terpukul dengan anjlok lebih dari 8%. Padahal, secara top-line, kinerja keuangan IBM sebenarnya melampaui ekspektasi analis. Namun, keputusan perusahaan untuk mempertahankan proyeksi tahunan tanpa memberikan sinyal kenaikan membuat investor kecewa dan memicu aksi ambil untung besar-besaran.
Nasib serupa menimpa ServiceNow yang merosot hampir 18% setelah merilis laporan kuartalan. Pelemahan juga merembet ke nama-nama besar lainnya. Microsoft terpantau turun sekitar 4%, Palantir Technologies melemah lebih dari 7%, dan Oracle terkoreksi sekitar 6%. Tekanan di sektor ini pun tercermin jelas pada kinerja iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) yang ambles sekitar 6% dalam sepekan terakhir.
Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik masih membayangi sentimen pelaku pasar. Konflik antara AS dan Iran yang tadinya mereda, kembali memanas dan berubah menjadi kebuntuan militer di laut. Kedua negara dilaporkan saling berebut kendali atas Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak dunia. Sepanjang pekan ini, aksi saling menyita kapal komersial pun dilaporkan terjadi.
Situasi semakin genting setelah Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengeluarkan perintah tegas kepada Angkatan Laut. Ia memerintahkan untuk menembak dan menenggelamkan kapal apa pun yang terindikasi menanam ranjau di sepanjang selat tersebut. Pernyataan ini sontak mengirim gelombang kekhawatiran baru di kalangan investor.
Harga Minyak Melonjak, Pasar Menunggu Katalis
Dampak dari ketegangan tersebut langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak mentah kembali melonjak. Kontrak berjangka Brent ditutup di atas level psikologis US$ 105 per barel. Pemicu kenaikan lainnya adalah laporan dari media Israel, N12, yang menyebutkan bahwa ketua parlemen Iran mundur dari tim negosiasi. Langkah ini memicu spekulasi bahwa Garda Revolusi Iran kini mengambil kendali yang lebih besar, sehingga memperkecil peluang solusi diplomatik.
Managing Partner Barnum Financial Group’s The SKG Team, Chris Kampitsis, menilai bahwa pasar saat ini sedang berada dalam fase transisi.
“Kami memperkirakan saham akan bergerak dalam rentang terbatas dalam waktu dekat sambil menunggu katalis berikutnya,” ungkapnya.
Menurutnya, reli tajam yang terjadi sejak titik terendah pada Maret lalu membuat pasar kehilangan tenaga untuk terus naik. Investor kini cenderung wait and see, menimbang antara data ekonomi, laba perusahaan, dan risiko geopolitik yang belum mereda.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Periksa Pelapor Feri Amsari dengan 20 Pertanyaan soal Dugaan Hoaks Swasembada Pangan
Fadli Zon Dorong Kemitraan Strategis Indonesia-Prancis di Bidang Kebudayaan
Pemerintah Luncurkan Program Bedah 15.000 Rumah di 17 Provinsi Perbatasan
Tsaqib dan Adhisty Zara Jadi Sorotan Usai Isu Kehamilan Tak Terverifikasi