Vance Ragu Akurasi Laporan Militer soal Perang Iran, Stok Rudal AS Disebut Menipis

- Selasa, 28 April 2026 | 04:25 WIB
Vance Ragu Akurasi Laporan Militer soal Perang Iran, Stok Rudal AS Disebut Menipis
PARADAPOS.COM - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dilaporkan berulang kali meragukan akurasi pengarahan militer dari Pentagon mengenai perang melawan Iran. Kekhawatiran itu, yang disampaikan langsung kepada Presiden Donald Trump, juga menyoroti kondisi stok rudal AS yang disebut semakin menipis. Laporan ini muncul di tengah klaim optimistis pemerintahan Trump tentang keberhasilan militer di Iran, yang justru bertolak belakang dengan temuan analisis independen dan data intelijen internal.

Keraguan di Puncak Kekuasaan

Sejumlah penasihat Vance membocorkan kepada majalah The Atlantic bahwa sang wakil presiden menyampaikan pandangan pribadinya tersebut tanpa secara langsung menuduh Menteri Pertahanan Pete Hegseth maupun Kepala Staf Gabungan Dan Caine telah menyesatkan Presiden. Langkah ini dinilai sebagai bentuk kehati-hatian di tengah hirarki kekuasaan yang ketat. Selama ini, Trump kerap mengulang poin-poin yang disampaikan oleh Hegseth dan Caine. Ia mengklaim bahwa AS telah sepenuhnya menghancurkan militer Iran, termasuk angkatan udara dan angkatan lautnya. Trump juga cenderung mengabaikan laporan mengenai kerugian yang diderita aset-aset AS di kawasan akibat serangan balasan Iran.

Stok Rudal Terkuras, Klaim Berbeda di Medsos

Kerugian yang dimaksud mencakup terkurasnya stok pencegat rudal AS. Penyebabnya adalah gelombang serangan pesawat nirawak murah dan rudal Iran yang menargetkan posisi AS serta sekutu di seluruh kawasan. Meski demikian, melalui unggahan media sosial pada 2 Maret, Trump justru mengklaim sebaliknya. "Stok amunisi Amerika Serikat, pada tingkat menengah dan atas, tidak pernah lebih tinggi atau lebih baik. Seperti yang dinyatakan kepada saya hari ini, kita memiliki pasokan senjata-senjata ini yang hampir tidak terbatas," tulis Trump, seperti dikutip Anadolu, Selasa, 28 April 2026. Trump juga menambahkan bahwa perang dapat dilakukan selamanya dengan sangat sukses hanya dengan menggunakan pasokan tersebut. Namun, analisis independen justru bertentangan dengan pernyataan optimistis itu.

Laporan CSIS: Butuh Waktu Empat Tahun untuk Pulih

Pekan lalu, lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS) merilis laporan yang memperkirakan bahwa diperlukan waktu hingga empat tahun untuk memulihkan stok rudal ke tingkat sebelum perang. Hal ini disebabkan oleh waktu produksi yang lama serta persaingan pengadaan dari negara lain, ditambah fakta bahwa inventaris awal memang sudah rendah saat perang dimulai. "Bahkan sebelum perang Iran, persediaan sudah dianggap tidak mencukupi untuk pertarungan melawan kompetitor setara. Kekurangan itu kini semakin akut," tulis laporan CSIS tersebut.

Intelijen AS Bantah Klaim Kehancuran Total

Temuan CSIS sejalan dengan informasi dari sumber anonim yang memahami asesmen intelijen AS. Sumber-sumber tersebut mengatakan bahwa klaim Pentagon yang diamini Trump mengenai kehancuran total militer Iran tidak sesuai dengan data intelijen milik AS sendiri. Data intelijen menunjukkan bahwa Iran masih mengendalikan sekitar dua pertiga angkatan udaranya, sebagian besar kemampuan rudal balistik, serta mayoritas kapal cepat yang digunakan untuk menyebar ranjau dan menyerang kapal dagang di Selat Hormuz. Sejak gencatan senjata antara AS dan Iran berlaku pada 7 April, Iran dilaporkan telah mendapatkan kembali akses ke sekitar setengah dari peluncur rudal balistiknya. Menanggapi laporan ini, juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa pejabat pertahanan secara konsisten memberikan gambaran yang lengkap dan jujur kepada Presiden. Sementara itu, seorang pejabat senior administrasi Trump menyatakan bahwa Presiden tidak memiliki keraguan terhadap informasi yang diberikan oleh Pentagon terkait perkembangan perang tersebut.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini