PARADAPOS.COM - Seorang siswa sekolah dasar di Lombok Timur menjadi korban dari tren freestyle yang kembali viral di kalangan anak-anak, khususnya gerakan handstand. Fenomena yang dipicu oleh salah satu aksi dalam gim online dan ramai dibagikan di media sosial seperti TikTok ini memicu kekhawatiran akan keselamatan anak. Para ahli memperingatkan bahwa gerakan yang tampak sederhana ini menyimpan risiko cedera serius, mulai dari patah tulang hingga gegar otak, terutama jika dilakukan tanpa pengawasan dan persiapan fisik yang memadai.
Kembalinya Tren Handstand di Kalangan Anak
Jika menelusuri media sosial, khususnya TikTok, memasukkan kata kunci freestyle akan menampilkan banyak video anak-anak yang melakukan gerakan handstand. Tren ini sebenarnya bukanlah hal baru. Pada tahun 2021, gerakan serupa sempat viral, namun saat itu konteksnya berbeda—anak-anak melakukannya saat sujud dalam salat.
Kini, gerakan tersebut dilakukan di mana saja dan seringkali di hadapan orang tua maupun guru. Kondisi ini dinilai jauh lebih mengkhawatirkan. Orang tua dan pendidik diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, karena tren ini telah terbukti mengancam keselamatan anak.
Mengapa Gerakan Ini Berbahaya?
Menurut penjelasan medis, tren freestyle dengan gerakan handstand ini sangat berbahaya jika tidak dilakukan oleh profesional atau orang yang terlatih. Dokter Arina Heidyana menjelaskan bahwa tulang anak-anak belum sekuat dan masih lebih kecil dibandingkan tulang orang dewasa.
Postur tulang yang relatif lebih kecil dan tipis pada anak membuat mereka lebih rentan mengalami patah tulang. Risiko ini semakin besar karena gerakan freestyle sering dilakukan tanpa peregangan otot atau latihan yang memadai.
"Iya, bisa berbahaya karena ada kemungkinan risiko cedera saat melakukannya. Cederanya itu bisa membuat pergeseran sendi bahkan sampai patah tulang," jelas dr. Arina.
Pada gerakan handstand, leher juga menjadi bagian yang sangat berisiko. Leher yang harus menopang berat badan bisa mengalami keseleo hingga patah tulang. Lebih mengkhawatirkan lagi, saat tangan dan leher tidak cukup kuat menahan beban tubuh, risiko jatuh dengan kepala terbentur lantai sangat besar. Dalam kondisi seperti itu, kepala bisa mengalami memar, bengkak, berdarah, hingga berujung pada gegar otak.
Persiapan Fisik yang Diperlukan
Melakukan handstand membutuhkan tingkat kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan tertentu. Gerakan ini memerlukan persiapan atau pelatihan yang tepat karena dapat menyebabkan cedera seperti otot tegang atau pergelangan tangan terkilir.
Handstand membutuhkan banyak latihan untuk dikuasai. Bahkan para pelaku handstand yang sudah berpengalaman pun dapat mengalami kecelakaan jika mereka memaksakan diri melebihi kemampuan mereka.
Tren yang sedang marak ini patut menjadi perhatian serius semua pihak. Orang tua diharapkan lebih tegas dalam mengingatkan anak-anak tentang bahaya gerakan tersebut bagi keselamatan mereka sendiri.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
AHY Dorong Koridor Hijau Jadi Standar Baru Infrastruktur Nasional
Hakim Sidang Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS: Aksi Terdakwa Amatir dan Memalukan, Coreng Nama BAIS
Kompolnas Resmi Berkantor di Graha Sentana Bertepatan dengan HUT ke-20, Siap Perkuat Pengawasan dan Layanan Digital
Hakim Minta Ahli Kimia Dihadirkan untuk Uji Kandungan Cairan dalam Sidang Penyiraman Aktivis KontraS