PARADAPOS.COM - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa tantangan utama dalam menghadapi perubahan iklim dan pembangunan inklusif saat ini bukan lagi soal regulasi atau komitmen kebijakan, melainkan lemahnya implementasi, tata kelola, dan eksekusi di tingkat daerah. Pernyataan ini disampaikan Bima saat menjadi pembicara kunci dalam Dialog Kebijakan Nasional dan Lokakarya Social Inclusion and Resilience in Asia (SIRA) di Jakarta, Rabu. Menurutnya, meskipun Indonesia memiliki kerangka kebijakan dan komitmen internasional yang kuat, kesenjangan antara data dan kondisi di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah yang serius.
Eksekusi di Daerah Jadi Titik Kritis
Dalam paparannya, Bima mengakui bahwa berbagai indikator pembangunan menunjukkan tren positif. Namun, ia menyoroti adanya kesenjangan antara capaian data dan realitas di lapangan. Persoalan utamanya, kata dia, terletak pada lemahnya integrasi data, koordinasi lintas sektor yang belum optimal, serta perhatian yang masih minim terhadap kelompok rentan dalam perencanaan pembangunan.
“Jadi eksekusi-eksekusi ini tantangan berat kita (dan) pemerintah daerah itu kuncinya,” ujarnya di hadapan para peserta dialog.
Ia menambahkan, urgensi sering kali hanya berhenti pada tataran pelatihan, dokumen, atau formalitas anggaran belaka. Tanpa adanya terjemahan kebijakan yang nyata di lapangan, target net zero emission dan pembangunan berkelanjutan hanya akan menjadi wacana.
Inklusivitas Bukan Program Tambahan
Bima juga menekankan bahwa perspektif gender, inklusivitas, dan penyandang disabilitas tidak boleh dipandang sebagai program pelengkap. Menurutnya, pendekatan ini harus menjadi cara berpikir dasar dalam menyusun kebijakan.
“Ini adalah (soal) siapa yang mendapatkan akses, siapa saja yang terlibat, siapa yang kemudian menikmati manfaat. Ini adalah cara pikir untuk mengeluarkan kebijakan dan pendapatan,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh kelompok masyarakat harus memperoleh akses dan manfaat pembangunan secara setara. Tanpa itu, pembangunan inklusif hanya akan menjadi slogan.
Inspirasi dari Daerah: Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Makassar
Dalam kesempatan yang sama, Bima menyoroti pentingnya penguatan ekosistem tata kelola di daerah. Ia menilai sejumlah daerah telah menunjukkan praktik baik yang layak menjadi contoh.
Yogyakarta, misalnya, dinilai memiliki penguatan kelembagaan dan integrasi perencanaan yang kuat, mulai dari proses perencanaan hingga pelaksanaan program di level perangkat daerah. Semarang disebut unggul dengan pendekatan berbasis komunitas, sementara Surabaya berhasil membangun layanan sosial yang terintegrasi.
“Jadi intinya setiap daerah punya kekuatan berbeda-beda, dan itu menjadi inspirasi lokal, yang bisa diduplikasi dan bisa dipelajari. Jadi Bapak-Ibu sekalian, saya kira poin utamanya adalah yang penting itu bukan programnya, tetapi sistemnya,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung praktik baik di Makassar yang mengangkat pendekatan berbasis komunitas di tingkat lorong atau lingkungan sebagai ruang penguatan isu sosial dan lingkungan.
Sistem, Bukan Sekadar Program
Bima berharap pemerintah daerah terus memperkuat kapasitas kelembagaan, integrasi data, kolaborasi lintas sektor, dan partisipasi masyarakat secara bermakna. Menurutnya, upaya tersebut penting untuk mewujudkan pembangunan daerah yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim global.
Ia menutup sesi dengan pesan bahwa perubahan iklim bukanlah ancaman yang bisa dihadapi dengan pendekatan sektoral. Dibutuhkan sistem yang kokoh, bukan sekadar program sesaat.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Ronaldo Kwateh Tersisih dari Timnas dan Absen di BRI Super League Akibat Cedera Berkepanjangan
PSG Hadapi Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026
Kapal Induk Prancis Charles de Gaulle Dikerahkan ke Laut Merah untuk Amankan Selat Hormuz
Pemilahan Sampah Wajib di Jakarta Mulai 10 Mei 2026, Pemerintah Contohkan dari Internal