PARADAPOS.COM - Mantan negosiator Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Alan Eyre, menilai bahwa jalan menuju kesepakatan baru dengan Iran saat ini jauh lebih terjal dibandingkan satu dekade lalu. Eyre, yang merupakan anggota kunci tim negosiasi era Presiden Barack Obama dan fasih berbahasa Farsi, mengungkapkan perubahan drastis dalam lanskap politik dan kepemimpinan di Tehran menjadi hambatan utama. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Tehran, di mana fokus negosiasi kini tidak hanya terbatas pada program nuklir, tetapi juga meluas hingga kedaulatan di Selat Hormuz.
Kepemimpinan Iran yang Berubah Drastis
Dalam wawancara dengan CNN pada Senin (11/5/2026), Eyre menjelaskan bahwa pada tahun 2015, Iran memiliki kepemimpinan yang relatif lebih moderat. Situasi itu, menurutnya, sangat kontras dengan kondisi saat ini di mana Tehran dikuasai oleh figur-figur garis keras dan radikal.
“Jauh lebih sulit untuk mendapatkan kesepakatan sekarang dengan pemerintahan Iran yang saat ini,” ujar Eyre.
Ia menegaskan bahwa pergeseran spektrum politik di Iran membuat proses diplomasi menjadi jauh lebih rumit. Tidak hanya soal siapa yang duduk di meja perundingan, tetapi juga menyangkut mandat dan fleksibilitas yang mereka miliki.
Kesenjangan antara Publik dan Meja Perundingan
Eyre juga menyoroti adanya kesenjangan yang signifikan antara pernyataan pejabat di depan publik dengan realitas yang terjadi di meja perundingan. Ia menanggapi secara langsung tuduhan Presiden Donald Trump yang menyebut Iran telah mengingkari janji.
“Banyak dari apa yang kita dengar di publik tidak selaras dengan realitas yang mendasarinya, dari kedua belah pihak,” kata Eyre.
Ia bahkan menyebut tuduhan tersebut kemungkinan besar merupakan hasil dari “salah komunikasi atau fabrikasi”. Eyre mengaku “tidak percaya” jika Iran sejak awal pembicaraan setuju untuk mengekspor seluruh uranium yang diperkaya tinggi langsung ke Amerika Serikat. Baginya, ada celah besar antara narasi publik dan apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu tertutup.
Kesiapan Militer Iran dan Peringatan untuk AS
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, buka suara. Ia menegaskan bahwa negaranya sudah siap menghadapi skenario apa pun jika negosiasi terus menemui jalan buntu.
“Angkatan bersenjata kami siap memberikan tanggapan yang memberi pelajaran terhadap agresi apa pun,” tulis Ghalibaf di media sosial.
Ia memperingatkan bahwa strategi salah perhitungan dari pihak Barat hanya akan membuahkan kegagalan. “Kami siap untuk setiap pilihan. Mereka akan terkejut,” tegasnya.
Ghalibaf juga menekankan bahwa Amerika Serikat tidak punya pilihan lain selain menerima hak-hak rakyat Iran yang tertuang dalam proposal 14 poin yang diajukan Tehran awal bulan ini. “Semakin lama mereka menunda-nunda, semakin besar biaya yang harus dibayar pembayar pajak Amerika,” tambahnya.
Pernyataan keras ini muncul tak lama setelah Presiden Trump menyebut proposal terbaru Iran “tidak dapat diterima” dan menyatakan gencatan senjata yang ada saat ini sedang dalam kondisi “sekarat” atau kritis. Menariknya, Ghalibaf sebelumnya sempat mendapat tekanan dari kelompok garis keras di internal Iran yang menganggapnya terlalu lunak saat bernegosiasi dengan AS di Islamabad, Pakistan, bulan lalu. Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya dinamika internal di kedua negara, yang turut memengaruhi jalannya diplomasi.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Iran Tolak Dominasi Sepihak AS, Tuding Washington Rusak Kredibilitas PBB
BMKG: Jakarta Selatan dan Timur Diguyur Hujan Ringan, Wilayah Lain Cerah Berawan
Mariano Peralta Bawa Borneo FC Tahan Imbang Bali United dengan Dua Gol
Iran Bebaskan Narges Mohammadi dengan Jaminan Demi Perawatan Medis