PARADAPOS.COM - Dinas Pendidikan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh sekolah agar tidak membebani orang tua dengan biaya perpisahan yang tinggi. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada siswa yang terhambat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Pelaksana Harian Kepala Disdik Kota Mataram, Lalu Martawang, menyampaikan pernyataan tersebut pada Kamis, 21 Mei 2026, sebagai respons atas keresahan orang tua terkait biaya acara seremonial yang dinilai memberatkan.
Kekhawatiran Orang Tua dan Komitmen Pemerintah
Belakangan ini, sejumlah sekolah di Mataram menggelar acara perpisahan kelas akhir dengan meriah, bahkan ada yang menyewa hotel. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan orang tua, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi. Menanggapi situasi itu, Martawang menegaskan komitmennya.
“Kami berkomitmen untuk memastikan seluruh anak di Kota Mataram dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tanpa terkendala biaya,” ujarnya.
Pemerintah Kota Mataram bertekad agar proses transisi siswa—dari SD ke SMP maupun dari SMP ke SMA—tidak menjadi beban finansial bagi keluarga. Langkah ini merupakan bagian dari pelaksanaan arahan langsung Wali Kota Mataram untuk mendukung Program Wajib Belajar 12 Tahun secara maksimal.
Pertemuan dengan Kepala Sekolah
Dalam waktu dekat, Disdik Kota Mataram akan mengadakan pertemuan dengan seluruh kepala sekolah dari tingkat TK, SD, dan SMP. Pertemuan ini bertujuan merumuskan solusi terbaik sekaligus menegaskan kembali larangan bagi sekolah untuk memberatkan siswa maupun orang tua dalam bentuk apa pun.
Suasana di lapangan menunjukkan bahwa banyak orang tua merasa terbebani dengan iuran yang diminta secara mendadak. Seorang wali murid di salah satu SD negeri mengaku harus meminjam uang demi memenuhi permintaan biaya perpisahan anaknya.
Perpisahan Bersifat Opsional dan Situasional
Martawang menjelaskan bahwa pelaksanaan acara perpisahan sekolah bersifat opsional dan situasional. Pihaknya mengimbau agar tidak ada stratifikasi atau perbedaan perlakuan antar-siswa berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua.
“Orang tua yang memiliki kemampuan finansial lebih diharapkan memiliki kepedulian dan empati terhadap keluarga siswa yang kurang mampu,” imbaunya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga rasa percaya diri anak dalam menuntut ilmu. Dengan mengurangi beban biaya perpisahan, diharapkan dampak psikologis positif dapat dirasakan oleh orang tua dan siswa.
Fokus pada Keberlanjutan Pendidikan
Martawang menegaskan bahwa fokus utama manajemen pendidikan saat ini adalah menjaga keberlanjutan pendidikan bagi seluruh anak di Kota Mataram. Ia mengakui bahwa ada dinamika atau kegiatan di luar kebijakan resmi yang mungkin terjadi.
“Terkait dinamika atau kegiatan yang terjadi di luar kebijakan resmi, hal tersebut berada di luar ranah kebijakan Dinas Pendidikan. Namun, prinsip dasar untuk tidak memberatkan masyarakat akan tetap menjadi acuan utama,” ungkapnya.
Suasana di kantor Disdik Mataram tampak sibuk menjelang pertemuan dengan para kepala sekolah. Beberapa staf terlihat menyusun draf surat edaran yang akan dibagikan. Langkah ini diharapkan mampu meredakan keresahan yang sempat muncul di kalangan orang tua.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
BNPB Perpanjang Status Tanggap Darurat Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki hingga Juni 2026
Jakarta Fair 2026 Resmi Digelar 11 Juni hingga 12 Juli, Tiket Bisa Dibeli Online
Lina Mukherjee Umumkan Rencana Nikah di Italia Juni 2026, Akui Sempat Frustrasi karena Pasangan Tak Kunjung Serius
Pidato Kebangsaan Prabowo: Kritik Model Reformasi dan Tawaran Nasionalisme Ekonomi Baru