Mahfud MD Kritik Pernyataan Prabowo soal Dolar, Sebut Picu Olok-olok yang Merendahkan Martabat Presiden

- Rabu, 20 Mei 2026 | 14:25 WIB
Mahfud MD Kritik Pernyataan Prabowo soal Dolar, Sebut Picu Olok-olok yang Merendahkan Martabat Presiden

PARADAPOS.COM - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, angkat bicara mengenai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar Amerika Serikat. Pernyataan yang disampaikan Prabowo sebagai respons atas pelemahan nilai tukar rupiah itu dinilai Mahfud justru memicu olok-olok di kalangan masyarakat, bahkan hingga pada tingkat yang dianggapnya kasar. Kritik ini disampaikan Mahfud dalam sebuah podcast di kanal YouTube pribadinya pada Selasa, 19 Mei 2026.

Pernyataan yang Menuai Sorotan

Dalam kesempatan tersebut, Mahfud secara terbuka mengaku resah dengan dampak yang ditimbulkan oleh pernyataan sang presiden. Menurutnya, dari sekian banyak pernyataan yang pernah dilontarkan Prabowo selama menjabat, isu soal dolar inilah yang paling banyak menjadi bahan ejekan.

"Nah, yang kedua saya galau tadi kenapa menurut saya dari keseluruhan statement Presiden Prabowo selama menjadi presiden ini yang paling banyak menimbulkan olok-olok," ujarnya.

Gelombang Olok-olok di Media Sosial

Mahfud mengamati bahwa pernyataan tersebut menjadi perbincangan hangat di berbagai lapisan masyarakat. Ia menyebutkan, olok-olok itu datang dari berbagai kalangan, mulai dari nenek-nenek, kakek-kakek, hingga generasi muda, dan terus bermunculan di media sosial.

"Yang soal dolar itu. Mulai dari nenek-nenek, kakek-kakek, muda, putra putri, di sosial media muncul terus gitu, diolok-olok betul presiden kita ini. Maaf kasar sekali olok-oloknya itu," tuturnya.

Kritik Mahfud terhadap Substansi Pernyataan

Lebih jauh, Mahfud berpendapat bahwa pernyataan Prabowo tersebut mungkin saja keliru secara substansi. Ia menekankan bahwa realitas perekonomian Indonesia tidak bisa dilepaskan dari keterikatan dengan dolar AS, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

"Menurut saya memang ya keliru kali ya mengatakan orang desa kan enggak pakai dolar. Kita negara ini pinjam uang setiap hari kan berurusan dengan dolar. Iya kan itu kan akibatnya ke harga-harga seperti tadi, impor pangan kita juga membayarnya dengan dolar dan segala macam," jelasnya.

Mahfud kemudian merinci lebih lanjut logika ekonominya. Ia menjelaskan bahwa utang luar negeri juga dibayar menggunakan dolar, dan dampaknya pasti terasa hingga ke desa. "Pinjam ke luar negeri juga pakai dolar. Kalau pakai dolar kan di desa-desa, mungkin orang secara langsung, makan dari berasnya sendiri sayurnya sendiri. Tapi masa cuma itu kebutuhan orang, ekonomi kan bukan itu saja menurut saya," ungkapnya.

Harapan agar Presiden Lebih Hati-hati

Di akhir pernyataannya, Mahfud menyampaikan kegalauannya sebagai anak bangsa. Ia merasa perlu ada cara untuk memberikan masukan kepada Presiden Prabowo agar lebih berhati-hati dalam setiap pernyataan yang disampaikan ke publik.

"Gimana ya caranya ya. Saya tidak tahu caranya memberi usul ke Pak Prabowo, supaya tidak menimbulkan persepsi negatif Pak ya. Memberitahu ke Pak Prabowo bahwa itu salah pernyataan itu," katanya.

Menurut Mahfud, kekeliruan dalam pernyataan ini tidak hanya bisa dinilai oleh para ahli ekonomi. Lebih dari itu, ia menyayangkan jika olok-olok yang muncul justru merendahkan martabat presiden di mata rakyatnya sendiri. "Kesalahan itu bukan hanya ahli ekonomi yang bisa nyatakan salah gitu dan olok-oloknya menjadi enggak enak. Kita sebagai anak bangsa ya, Presiden kita kok dibegitukan oleh orang-orang kita sendiri, yang kadang kala mungkin entah siapa dia," ujarnya.

"Tapi ini menurut saya yang paling banyak menimbulkan olok-olok keras, tapi juga ledekannya yang merendahkan. Kalau keras itu kan okelah gitu tapi ledekannya yang merendahkan, kemudian secara sosial perasaan itu bisa berdampak negatif ya," pungkas Mahfud.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar