PARADAPOS.COM - Anggapan bahwa olahraga di malam hari berbahaya bagi otak karena memicu hormon stres kortisol dibantah oleh dokter dan edukator kesehatan, dr. Adam Prabata. Melalui unggahan di media sosial X, ia menjelaskan bahwa peningkatan kortisol setelah olahraga malam hanyalah respons sementara. Justru, aktivitas fisik rutin, tanpa memandang waktu, memberikan manfaat jangka panjang bagi pengaturan hormon tersebut dan melindungi kesehatan otak. Klaim soal penyusutan otak akibat kortisol, menurutnya, hanya relevan pada kondisi stres kronis atau penyakit tertentu, bukan akibat kebiasaan berolahraga di malam hari.
Banyak orang memilih berolahraga pada malam hari karena waktu luang yang baru ada setelah seharian bekerja atau beraktivitas. Namun, kekhawatiran akan dampak buruknya terhadap fungsi otak masih kerap menghantui. Dokter Adam Prabata hadir meluruskan miskonsepsi ini dengan penjelasan berbasis ilmiah.
Kortisol Naik Setelah Olahraga? Itu Wajar
Dalam unggahannya yang dikutip pada Rabu (20/5/2026), dr. Adam Prabata mengakui bahwa olahraga malam hari memang dapat meningkatkan kadar kortisol. Hormon ini dikenal sebagai hormon stres yang, jika kadarnya terus tinggi dalam jangka panjang, bisa dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, kenaikan berat badan, hingga resistensi insulin.
“Olahraga malam hari memang bisa meningkatkan kadar kortisol, yang merupakan respons stres,” tulis dr. Adam.
Namun, ia menekankan bahwa peningkatan ini bersifat sementara. Kuncinya justru terletak pada konsistensi. “Olahraga rutin justru menurunkan kadar kortisol secara jangka panjang dan memperbaiki pengaturan kortisol,” jelasnya. Artinya, efek positif dari olahraga yang dilakukan secara teratur jauh lebih dominan dibandingkan lonjakan hormon sesaat setelah beraktivitas.
Membedah Mitos: Otak Menyusut Akibat Olahraga Malam?
Salah satu kekhawatiran yang paling sering muncul adalah soal dampak kortisol terhadap otak. Banyak yang percaya hormon ini bisa menyebabkan penyusutan area otak. Dr. Adam Prabata memberikan perspektif yang lebih nuanced.
“Kortisol memang bisa ‘mengecilkan’ area di otak, namun itu terjadi pada kondisi stres kronis atau penyakit seperti Cushing’s syndrome, bukan olahraga malam,” tulisnya lagi.
Ia menegaskan bahwa respons fisiologis akibat olahraga tidak bisa disamakan dengan kondisi patologis. Sebaliknya, olahraga justru disebut memiliki manfaat untuk menjaga kesehatan otak. Aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan kemampuan otak untuk berkembang sekaligus menurunkan peradangan pada area otak.
“Olahraga itu secara umum, termasuk malam hari, justru melindungi otak,” katanya.
Di tengah kesibukan perkotaan, fenomena olahraga malam hari semakin marak. Mulai dari lari santai di taman kompleks hingga sesi gym di pusat kebugaran, pilihannya beragam. Menurut dr. Adam, hal terpenting bukanlah soal kapan waktu olahraga dilakukan, melainkan konsistensi dalam menjalankannya. Tubuh tetap memperoleh manfaat kesehatan dari aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin, kapan pun waktunya.
Artikel Terkait
KPK Geledah Dinas Kesehatan Ponorogo, Amankan Tiga Koper Dokumen dan Flashdisk dari Mobil Kadinkes
BPA Fair 2026: Hyundai Ioniq 5 Bekas Rampasan Dilelang Rp 153 Juta, Tanpa BPKB dan STNK
Presiden Prabowo Dorong Anak Muda Beralih dari Pengejaran ASN ke Kewirausahaan, Siapkan Kredit Startup
Prabowo Ungkap Underinvoicing Sebabkan Gaji Guru dan ASN Kecil, Negara Rugi Rp5.300 Triliun