PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengakui adanya kemajuan dalam negosiasi damai dengan Iran, meskipun jurang perbedaan di antara kedua negara masih sangat lebar. Pernyataan ini disampaikan Rubio di sela-sela pertemuan para menteri NATO di Helsingborg, Swedia, pada Jumat, 22 Mei 2026. “Ada beberapa kemajuan. Saya tidak akan melebih-lebihkannya. Saya juga tidak akan meremehkannya. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kita belum sampai di sana,” ujar Rubio kepada wartawan, sebagaimana dilaporkan oleh media internasional.
Diplomasi Berlapis: Pakistan dan Qatar Turun Tangan
Di tengah meningkatnya upaya diplomasi internasional untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran, sejumlah pihak mulai bergerak. Kepala militer Pakistan, bersama Menteri Dalam Negeri Syed Mohsin Naqvi, dilaporkan tiba di Teheran pada Jumat lalu. Kunjungan ini bertujuan untuk melanjutkan mediasi dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi.
Tak hanya Pakistan, Qatar juga disebut-sebut telah mengirimkan tim negosiasi ke Teheran. Tim tersebut berkoordinasi langsung dengan pihak Amerika Serikat. Langkah ini diambil enam minggu setelah gencatan senjata yang masih rapuh diberlakukan.
Dua Isu Krusial: Program Nuklir dan Selat Hormuz
Meskipun beberapa celah perundingan mulai menyempit, hambatan utama masih terletak pada program nuklir Iran. Amerika Serikat terus mendesak pembongkaran program tersebut, sementara Teheran bersikukuh menolak pembahasan lebih lanjut mengenai pengayaan uranium.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan dengan tegas bahwa tidak akan ada kesepakatan damai jika AS masih bersikeras menyelidiki detail uranium Iran. “Tidak akan ada kesepakatan damai jika AS tetap bersikeras menyelidiki detail uranium Iran,” tegasnya.
Selain nuklir, kendali atas Selat Hormuz menjadi sumber ketegangan lain yang tak kalah pelik. Iran dilaporkan berencana memberlakukan sistem pembayaran tol di jalur pelayaran strategis tersebut—jalur yang selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Rubio mengecam rencana itu dan menyebutnya tidak dapat diterima oleh komunitas internasional.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali menyuarakan sikap keras. Ia menyatakan ingin mengambil kembali persediaan uranium Iran yang telah diperkaya tinggi. Namun, dua sumber senior Iran menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menolak keras opsi pengiriman uranium ke luar negeri.
Tekanan Ekonomi Global dan Domestik Menguat
Konflik yang dipicu oleh serangan udara AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu telah memicu gangguan besar terhadap ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, yang kemudian meningkatkan kekhawatiran akan inflasi global.
Situasi ini juga meningkatkan tekanan politik domestik terhadap Trump menjelang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Laporan menyebutkan bahwa kenaikan harga bahan bakar membuat tingkat persetujuan publik terhadap Trump menurun drastis.
Di tengah tekanan tersebut, Iran awal pekan ini kembali mengajukan sejumlah tuntutan kepada AS. Tuntutan itu mencakup pengakuan atas kendali Iran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekonomi, pelepasan aset yang dibekukan, kompensasi perang, hingga penarikan pasukan AS dari kawasan.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Wanita Ditemukan Tewas di Bogor Usai Pamit Ngopi, Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan
Empat Pemain Inti Absen, PSM Makassar Andalkan Formasi 4-3-3 Saat Hadapi Madura United
Kemenaker Buka Pendaftaran Program Pelatihan Vokasi Nasional Batch 2 Melalui Platform Skillhub
Gubernur Jabar Siapkan Bonus untuk Persib Jika Juara, Imbau Bobotoh Jaga Ketertiban