PARADAPOS.COM - Kuba kembali dilanda pemadaman listrik nasional pada Jumat sore, 10 Juli 2026, sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Gangguan ini menjadi yang kedua dalam waktu kurang dari sepekan dan yang keempat sejak awal tahun, menyebabkan sebagian besar wilayah di pulau tersebut gelap gulita saat menjelang malam. Hingga berita ini diturunkan, otoritas setempat belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab terbaru dari krisis yang terus berulang ini.
Krisis Beruntun yang Mengguncang Sistem Kelistrikan
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah pemadaman serupa melanda negara itu pada Senin sebelumnya. Dua pemadaman total lainnya juga tercatat pada Maret lalu, menyoroti kerapuhan sistem kelistrikan Kuba yang semakin nyata. Bagi warga Kuba, pemadaman listrik memang bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, mereka harus berhadapan dengan infrastruktur energi yang sudah menua.
Sebagian besar pembangkit listrik dan jaringan distribusi di negara itu dibangun antara dekade 1960 hingga 1980. Kini, kemampuan operasionalnya terus menurun drastis. Namun, krisis energi dilaporkan semakin memburuk sejak awal tahun setelah pasokan minyak impor ke Kuba menurun tajam.
Menurut data Badan Energi Internasional (IEA), Kuba hanya mampu memproduksi sekitar 40 persen kebutuhan minyak domestiknya. Sisanya bergantung sepenuhnya pada impor dari luar negeri. Kondisi ini kemudian berdampak langsung pada berbagai layanan publik, mulai dari transportasi hingga fasilitas kesehatan.
Dampak pada Masyarakat Sipil dan Respons Internasional
Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Volker Turk pada Juni lalu memperingatkan bahwa keterbatasan bahan bakar dan pasokan energi telah memberikan dampak serius terhadap masyarakat sipil Kuba, terutama kelompok rentan.
Menurut Turk, berbagai pembatasan yang memengaruhi pasokan energi telah menyebabkan fasilitas kesehatan kesulitan memperoleh obat-obatan dan peralatan medis penting.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menilai persoalan tersebut lebih disebabkan oleh masalah pengelolaan dan infrastruktur di Kuba. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio sebelumnya mengatakan pemerintahnya tidak mengambil langkah yang secara khusus ditujukan untuk menghukum rakyat Kuba.
Langkah Transisi Energi di Tengah Tekanan
Di tengah krisis yang terus berulang, pemerintah Kuba terus mempercepat transisi menuju energi terbarukan, termasuk tenaga surya. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor yang semakin tidak stabil.
Meski demikian, energi terbarukan hingga kini baru menyumbang sekitar 18 persen dari total konsumsi energi nasional berdasarkan data terakhir yang tersedia. Pemerintah Kuba menargetkan porsi energi terbarukan meningkat hingga mendekati seperempat dari total kebutuhan energi nasional pada 2030. Namun, di tengah pemadaman yang terus terjadi, target tersebut terlihat semakin sulit dicapai tanpa perbaikan infrastruktur yang mendasar.
Editor: Rico Ananda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Roy Suryo Resmi Didakwa Kumulatif UU ITE dan KUHP dalam Kasus Tuduhan Ijazah Palsu Jokowi
Pesawat Cessna 402 Jatuh di Bahama Tewaskan 10 Orang, Terjadi Saat Perayaan Hari Kemerdekaan
BRI Berlakukan Tiga Klasifikasi Status Rekening Mulai 10 Mei 2026, Rekening Dormant Hanya Bisa Diaktifkan di Kantor Cabang
Argentina Hadapi Swiss di Perempat Final Piala Dunia 2026, Messi Jadi Andalan Hadapi Pertahanan Kokoh