Empat ABK Negatif Hantavirus, Dinkes Jakarta Barat Perketat Pengawasan

- Selasa, 26 Mei 2026 | 10:50 WIB
Empat ABK Negatif Hantavirus, Dinkes Jakarta Barat Perketat Pengawasan
PARADAPOS.COM - Empat anak buah kapal (ABK) yang sempat dikabarkan sebagai suspek hantavirus di Jakarta Barat kini dinyatakan negatif. Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna, mengonfirmasi bahwa hasil pemeriksaan laboratorium terhadap keempat ABK tersebut menunjukkan hasil negatif untuk hantavirus, yellow fever, dan malaria. Kejadian ini bermula dari laporan RSUD Cengkareng pada 13 Mei 2026, yang menyebutkan adanya empat pasien dengan gejala mengarah pada infeksi hantavirus. Seluruh pasien merupakan ABK yang baru kembali dari pelayaran ke Somalia.

Kronologi dan Hasil Pemeriksaan

Proses identifikasi kasus ini berawal dari laporan RSUD Cengkareng. Pada 13 Mei 2026, rumah sakit tersebut melaporkan adanya empat pasien yang diduga terinfeksi hantavirus. Keempatnya adalah ABK yang baru tiba dari Somalia. Pihak Sudinkes Jakarta Barat segera bergerak. Mereka melakukan serangkaian tes kesehatan, termasuk pemeriksaan untuk hantavirus, malaria, dan demam kuning. Hasilnya, semua tes menunjukkan hasil negatif. Setelah dinyatakan tidak bergejala, keempat ABK tersebut diizinkan pulang. "Hasil pemeriksaannya adalah negatif untuk penyakit hantavirus, yellow fever dan malaria," ujar Kepala Sudinkes Jakbar Sahruna.

Langkah Antisipasi dan Pengawasan

Meski keempat ABK dinyatakan negatif, Sudinkes Jakarta Barat tidak mengendurkan kewaspadaan. Mereka terus mengupayakan langkah-langkah antisipasi dan pengawasan sesuai pedoman pencegahan dan pengendalian penyakit virus Hanta dari Kementerian Kesehatan Tahun 2023. Langkah-langkah ini mencakup penguatan kewaspadaan dini melalui surveilans berbasis indikator dan kejadian (IBS & EBS). Selain itu, pihaknya juga meningkatkan kewaspadaan melalui penerbitan Surat Pemberitahuan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta nomor 1501/KS.02.01 tanggal 12 Mei 2026. Surat tersebut ditujukan kepada Suku Dinas Kesehatan, rumah sakit, dan Puskesmas di DKI Jakarta.

Deteksi Dini dan Kesiapan Fasilitas

Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah "syndromic surveillance". Metode ini fokus pada deteksi dini kasus demam akut, gangguan pernapasan, trombositopenia, gangguan ginjal, serta riwayat paparan rodensia atau tikus. Rumah Sakit Sentinel RSUD Tarakan juga telah disiapkan untuk menangani kemungkinan kasus. Penemuan kasus dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, laboratorium, hingga surveilans komunitas. Kapasitas tenaga kesehatan juga terus ditingkatkan, terutama dalam hal identifikasi kasus suspek dan tata laksana awal.

Kesiapsiagaan Respons Cepat

Sudinkes Jakbar juga telah menyiapkan Tim Gerak Cepat (TGC) untuk investigasi epidemiologi dan respons cepat jika ditemukan kasus. Tata kelola spesimen, pemeriksaan laboratorium, dan rujukan untuk tes RT-PCR atau serologi juga sudah disiapkan. Di sisi lain, penguatan tata laksana klinis dan pencegahan pengendalian infeksi (PPI) di fasilitas kesehatan terus dilakukan. Pihaknya juga akan melaksanakan penyelidikan epidemiologi dan pemetaan faktor risiko lingkungan serta populasi rodensia.

Pengendalian Lingkungan dan Edukasi Masyarakat

Langkah selanjutnya mencakup pengendalian reservoir tikus dan perbaikan sanitasi lingkungan secara terpadu. Penguatan komunikasi risiko, edukasi masyarakat, dan koordinasi lintas sektor secara berjenjang juga menjadi prioritas. Sahruna pun mengimbau masyarakat untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan. Mulai dari mencuci tangan dengan sabun hingga menerapkan etika batuk dan bersin yang benar.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar